Kamis, 08 Januari 2015

Asuhan keperawatan dengan menggunakan barcode



   BAB I
   PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini di Indonesia belum secara luas dimanfaatkan  dengan baik oleh perawat khususnya di pelayanan rumah sakit, terutama pelayanan keperawatan.
Tenaga perawat sebagai salah satu tim kesehatan didalam melaksanakan fungsi dan peran dituntut untuk dapat mendokumentasikan seluruh pekerjaan yang dilakukannya dengan baik. Pendokumentasian peran dan fungsi didalam merawat pasien amat diperlukan karena mempunyai unsur tanggung jawab serta tanggung gugat di mata hukum. Sampai saat ini pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan oleh perawat masih menggunakan kertas. Salah satu kendala yang sering menjadi keluhan pada sebagian besar perawat ketika harus menuliskan tindakan keperawatan diatas kertas adalah keterbatasan waktu mereka dalam hal melakukan pencatatan dan pendokumentasian asuhan keperawatan. Akibatnya, apa yang sudah dilakukan perawat secara langsung ke pasien sering tidak didokumentasikan dengan baik sehingga mengakibatkan kurang efektifnya evaluasi terhadap kemajuan perawatan pada pasien.
Selanjutnya, format pendokumentasian yang panjang dan kompleks mengharuskan perawat menuliskan secara manual asuhan keperawatan terkadang menimbulkan rasa jenuh. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Suhendri dan Malini (2005) 65,6 % pendokumentasian yang dilakukan oleh perawat tidak lengkap dimana salah satu penyebabnya adalah sistem pencatatan yang sulit untuk dinilai sehingga perawat hanya melakukan sesuai kemampuan tanpa memenuhi standar yang ada.
Definisi Personal Digital Assistants (PDA)  menurut Wikipedia adalah  sebuah alat komputer genggam portable, dan dapat dipegang tangan yang didesain sebagai organizer individu, namun terus berkembang sepanjang masa. PDA memiliki fungsi antara lain sebagai kalkulator, jam, kalender, games, internet akses, mengirim dan menerima email, radio, merekam gambar/video, membuat catatan, sebagai address book, dan juga spreadsheet. PDA terbaru bahkan memiliki tampilan layar berwarna dan kemampuan audio, dapat berfungsi sebagai telepon bergerak, HP/ponsel, browser internet dan media players. Saat ini banyak PDA dapat langsung mengakses internet, intranet dan ekstranet melalui Wi-Fi, atau WWAN (Wireless Wide-Area Networks). Dan terutama PDA memiliki kelebihan hanya menggunakan sentuhan layar dengan pulpen/ touch screen.). Di era sekarang PDA tersebut dapat terwakili oleh Smarthpone yang sudah banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia, khususnya perawat. Smarthpone sendiri terdapat sistem operasi yang memungkinkan terciptanya basis aplikasi tambahan dengan sistem plug-in seperti pemilik vendor sistem operasi Android, dan Symbian.
Dengan demikian, penggunaan teknologi komputer untuk pelaksanaan asuhan keperawatan di rumah sakit merupakan suatu inovasi metode pendokumentasian yang mampu memberikan efisiensi waktu (Ammenwerth E, 2001), mempermudah pencairan file klien ketika diperlukan, dipakai sebagai dasar bagi pengembangan pelayanan di rumah sakit karena dengan mudahnya sebuah laporan dapat dikases real time mulai dari penghitungan BOR, LOS, penghitungan ketenagaan, data tingkat ketergantungan klien berdasarkan pemenuhan kebutuhannya, indicator mutu pelayanan keperawatan, angka infeksi nosokomial hingga penghitungan jasa keperawatan berbasis tindakan asuhan keperawatan yang telah disefakati dengan mengacu pada NIC dan NOC disamping dapat dipakainya data asuhan keperawatan dalam kredit point untuk pengusulkan kenaikan pangkat / golongan dimana perawat tidak perlu menuliskan lagi apa yang telah dikerjakan selama ini. Sehingga inovasi integrasi software dan barcode ini menjadi solusi akan adanya sistem identifikasi dan validasi pasien, pengolahan data pengkajian, pendokumentasian tindakan, dan evaluasi tindakan yang lebih baik.
1.2   Rumusan Masalah
Bagaimana penggunaan prototipe sistem manajemen asuhan keperawatan digital  berbasis integrasi kode batang (barcode) dan perangkat lunak (software)?.
1.3   Tujuan Penulisan
Menjelaskan penggunaan prototipe sistem manajemen asuhan keperawatan digital  berbasis integrasi kode batang (barcode) dan perangkat lunak (software).
1.4    Manfaat  Penulisan
Memberikan informasi tentang penggunaan prototipe sistem manajemen asuhan keperawatan digital  berbasis integrasi kode batang (barcode) dan perangkat lunak (software).
 




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Sistem Manajemen Asuhan Keperawatan
Keperawatan melingkupi pelayanan secara otonom dan kolaboratif bagi individu dari segala usia, keluarga, kelompok, dan komunitas, sakit ataupun sehat dalam segala latar, yang mencangkup promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan orang sakit, cacat, atau akan meninggal. Kunci lain peran keperawatan: Pendampingan, promosi lingkungan yang aman, penelitian, partisipasi dalam pembentukan kebijakan kesehatan, manajemen klien dan sistem kesehatan, serta pendidikan (International Council of Nurses).
Sistem manajemen asuhan keperawatan digital adalah cabang informatika kesehatan yang berkaitan dengan dukungan keperawatan melalui sistem informasi dalam penyampaian, dokumentasi, administrasi, dan evaluasi pelayanan klien dan pencegahan penyakit. Karena perawat pada umumnya merupakan pemasok utama layanan kesehatan bagi klien maka informatika keperawatan berpengaruh penting terhadap rancangan dan implementasi sistem perawatan klien di rumah sakit, di rumah tinggal, serta pada latar berbasis-komunitas lainnya.
Sistem manajemen asuhan keperawatan digital merupakan integrasi proses keperawatan, informasi dan manajemen informasi dengan teknologi pemrosesan, untuk mendukung kesehatan penduduk di seluruh dunia. (International Medical Informatics Association - Nursing Informatics Special Interest Group; IMI-NI, 1998). Informatika keperawatan adalah penggunaan teknologi informasi sehubungan dengan tiap fungsi yang ada dalam bidang keperawatan dan dilakukan oleh perawat dalam pelaksanaan tugas mereka. Hal ini mencakup perawatan klien, administrasi, pendidikan, dan penelitian (Hannah, 1985). “Informatika keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi, dan ilmu keperawatan yang dirancang untuk membantu manajemen dan pemrosesan data, informasi, dan pengetahuan keperawatan untuk menunjang praktek keperawatan dan penyampaian layanan keperawatan” (Graves & Corcoran, 1989).
2.2      Sistem Kode Batang
Sebuah kode batang atau kode palang (bahasa Inggris: barcode) adalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin. Sebenarnya, kode batang ini mengumpulkan data dalam lebar (garis) dan spasi garis paralel dan dapat disebut sebagai kode batang atau simbologi linear atau 1D (1 dimensi). Tetapi juga memiliki bentuk persegi, titik, heksagon dan bentuk geometri lainnya di dalam gambar yang disebut kode matriks atau simbologi 2D (2 dimensi). Selain tidak ada garis, sistem 2D sering juga disebut sebagai kode batang. Pada sistem manajemen asuhan keperawatan digital, jenis kode batang yang sesuai dan efektif digunakan adalah kode batang jenis kode QR.

2.2.1      Definisi Kode QR

Kode QR  atau biasa dikenal dengan istilah QR Code adalah bentuk evolusi kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi. Penggunaan kode QR sudah sangat lazim di Jepang. Hal ini dikarenakan kemampuannya menyimpan data yang lebih besar dari pada kode batang sehingga mampu mengkodekan informasi dalam bahasa Jepang sebab dapat menampung huruf kanji. Kode QR telah mendapatkan standardisasi internasional dan standardisasi dari Jepang berupa ISO/IEC18004 dan JIS-X-0510 dan telah digunakan secara luas melalui ponsel di Jepang.
Kode QR adalah suatu jenis kode matriks atau kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, sebuah divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah perusahaan Jepang dan dipublikasikan pada tahun 1994 dengan fungsionalitas utama yaitu dapat dengan mudah dibaca oleh pemindai. QR merupakan singkatan dari quick response atau respons cepat, yang sesuai dengan tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respons yang cepat pula. Berbeda dengan kode batang, yang hanya menyimpan informasi secara horizontal, kode QR mampu menyimpan informasi secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis Kode QR dapat menampung informasi yang lebih banyak daripada kode batang.
2.2.2      Perkembangan penggunaan Kode QR
Awalnya kode QR digunakan untuk pelacakan kendaraan bagian di manufaktur, namun kini kode QR digunakan dalam konteks yang lebih luas, termasuk aplikasi komersial dan kemudahan pelacakan aplikasi berorientasi yang ditujukan untuk pengguna telepon selular. Di Jepang, penggunaan kode QR sangat populer, hampir semua jenis ponsel di Jepang bisa membaca kode QR sebab sebagian besar pengusaha di sana telah memilih kode QR sebagai alat tambahan dalam program promosi produknya, baik yang bergerak dalam perdagangan maupun dalam bidang jasa. Pada umumnya kode QR digunakan untuk menanamkan informasi alamat situs suatu perusahaan. Di Indonesia, kode QR pertama kali diperkenalkan oleh KOMPAS. Dengan adanya kode QR pada koran harian di Indonesia ini, pembaca mampu mengakses berita melalui ponselnya bahkan bisa memberi masukan atau opini ke reporter atau editor surat kabar tersebut.

2.2.3      Fungsi kode QR

Kode QR berfungsi bagaikan hipertaut fisik yang dapat menyimpan alamat dan URL, nomer telepon, teks dan sms yang dapat digunakan pada majalah, surat harian, iklan, pada tanda-tanda bus, kartu nama ataupun media lainnya. Atau dengan kata lain sebagai penghubung secara cepat konten daring dan konten luring. Kehadiran kode ini memungkinkan audiens berinteraksi dengan media yang ditempelinya melalui ponsel secara efektif dan efisien. Pengguna juga dapat menghasilkan dan mencetak sendiri kode QR untuk orang lain dengan mengunjungi salah satu dari beberapa ensiklopedia kode QR.

2.2.4      Penggunaan Kode QR

Kode QR dapat digunakan pada ponsel yang memiliki aplikasi pembaca kode QR dan memiliki akses internet GPRS atau WiFi atau 3G untuk menghubungkan ponsel dengan situs yang dituju via kode QR tersebut. Perawat, yang dalam hal ini adalah pengguna ponsel hanya harus mengaktifkan program pembaca kode QR, mengarahkan kamera ke kode QR, selanjutnya program pembaca kode QR akan secara otomatis memindai data yang telah tertanam pada kode QR. Jika kode QR berisikan alamat suatu situs, maka perawat dapat langsung mengakses situs tersebut tanpa harus lebih dulu mengetikkan alamat dari situs yang dituju.
Jika ingin mengakses kode QR dengan ponsel tanpa kamera, maka hal pertama yang harus dilakukan oleh pengguna adalah dengan menjalankan terlebih dahulu aplikasi peramban yang ada pada ponsel, lalu masukkan URL halaman yang bersangkutan, selanjutnya masukkan “ID” atau 7 digit nomor yang tertera di bawah kode dan klik tombol Go, maka pengguna akan memperoleh konten digital yang diinginkan. Hal ini tentu mempermudah perawat dalam pengolahan data pasien, mengolah input data pengkajian  diagnose, penetapan prioritas intervensi, perincian tindakan keperawatan, database asuhan keperawatan yang dapat menjadi pedoman dalam melakuakn tindakan, arsip Standar Operasional Prosedur, Arsip komunikasi informasi dan edukasi pasien. Jenis-Jenis aplikasi yang dapat membaca kode QR antara lain misalnya Kaywa Reader , yang dapat di instal pada Smartphone.
2.3         Sistem Perangkat Lunak Aplikasi
Perangkat lunak (Software) adalah kumpulan beberapa perintah yang dieksekusi oleh mesin computer dalam menjalankan pekerjaanya. Perangkat lunak ini merupakan catatan bagi mesin komputer untuk menyimpan perintah, maupun dokumen serta arsip lainya. Disusun dan diolah melalui program yang melibatkan beberapa hal, diantaranya adalah sistem operasi, program dan data.
Software manajemen asuhan keperawatan termasuk dalam jenis software aplikasi yang dapat dipasang pada komputer yang telah dilengkapi dengan system operasi.
2.3.1   Program Pengembanagan Software Aplikasi Asuhan Keperawatan
Program yang akan dikembangkan dalam penyusunan system manajemen asuhan keperawatan digital berbasis software adalah sebagai berikut :
a.    Standar Asuhan Keperawatan
Standar Asuhan Keperawatan menggunakan standar Internasional dengan mengacu pada Diagnosa Keperawatan yang dikeluarkan oleh North American Nursing Diagnosis Association, standar outcome keperawatan mengacu pada Nursing Outcome Clasification dan standar intervensi keperawatan mengacu pada Nursing Intervention Clasification (NIC) yang dikeluarkan oleh Iowa Outcomes Project. Standar Asuhan Keperawatn ini juga telah dilengkapi dengan standar pengkajian perawatan dengan mengacu pada 13 Divisi Diagnosa Keperawatan yang disusun oleh Doenges dan Moorhouse dan standar evaluasi keperawatan dengan mengacu pada kriteria yang ada dalam Nursing Outcome Clasification (NOC) dengan model skoring. Nursing Intervention Clasification (NIC) Adalah daftar komprehensif intervensi keperawatan yang dikelompokkan berdasarkan label yang mendeskripsikan aktivitas keperawatan. NIC dibagi menjadi tujuh bidang, yaitu: Fisiologis–dasar (physiological–basic): Mendukung fungsi fisik, Fisiologis–kompleks (physiological–complex): Mendukung regulasi homeostatis, Perilaku (behavioral): Mendukung perubahan fungsi sosial dan gaya hidup, Keselamatan (safety): Mendukung proteksi terhadap gangguan, Keluarga (family): Mendukung unit keluarga, Sistem kesehatan (health system): Mendukung penggunaan sistem layanan kesehatan, Komunitas (community): Mendukung kesehatan komunitas. SAK keperawatan ini akan muncul saat pengkajian dari sistem yang telah di program dari masing-masing kelompok penyakit diisi dengan lengkap sesuai dengan keadaan yang telah dikaji oleh perawat dimana format pengkajian yang digunakan merupakan pengembangan format pengkajian asuhan keperawatan yang telah dipakai selama ini dengan pengembangan data yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan penyakit klien.
b.    Daftar NIC terbanyak
Dafatr NIC terbanyak adalah rekapan tindakan keperawatan terbanyak berdasarkan pada masing-masing diagnosa keperawatan yang ada di masiang-masing unit ataupun tingkat RS.
c.    Daftar Standar Asuhan Keperawatan
Standar Asuhan Keperawatan (SAK) yang ideal adalah berdasarkan evidance based nursing, yang merupakan hasil penelitian dari penerapan standar asuhan keperawatan yang ada. Namun karena dokumen yang tidak lengkap, SAK banyak diadopsi hanya dari literatur yang tersedia. Dengan terdapatnya data ini nantinya evidence base nursing dapat ditampilkan sehingga Standart Asuhan Keperawatan akan direvisi lagi sesuai dengan hasil kajian dan kenyataan yang ada di pelayanan keperawatan berdasarkan pada rekapitulasi SAK berdasarkan rekapan dari sistem yang telah dibuat.
d.    Standart Operating Procedure (SOP)
Standart Operating Procedure (SOP) adalah uraian standar tindakan perawatan yang terdapat dalam standar asuhan keperawatan. SOP merupakan aktifitas detail dari NIC. SOP tindakan keperawatan yang baru direvisi berjumlah 110 jenis SOP yang terbagi dalam 11 kategori, dimana ketika tindakan ini dilakukan akan link dengan pemakaian bahan dan alat kesehatan yang ada sehingga floor stok barang atau alat medis dan keperawatan akan berkurang secara otomatis.
e.    Jadwal dinas perawat
Jadwal dinas perawat dibuat secara otomatis oleh program komputer, dengan memperhatikan pembagian SDM keperawatan dari jenjang klinik keperawatan atau Perawat Klinik 1,2,3 serta perencanaan cuti yang telah disusun sebelumnya, sehingga penanggung jawab ruang tinggal melakukan print.
f.     Penghitungan angka kredit perawat.
Penghitungan angka kredit sebagai dasar kenaikan golongan yang selama ini dikerjakan oleh tenaga keperawatan akan lebih mudah difasilitasi dengan SIM keperawatan ini, dimana tinggal melihat rekap kegiatan yang telah dilakukan selama ini di ruang perawatan. Rekapan kegiatan aktifitas perawat sehari-hari yang merupakan dasar penghitungan kredit point ini secara otomatis akan dapat diakses secara harian, mingguan atau bulanan.
g.    Daftar diagnosa keperawatan terbanyak.
Rekapitulasi daftar diagnose terbanyak ini dapat diakses berdasarkan masing-masing ruangan, dan juga dapat diakses dari seluruh ruangan. Hal Ini dapat dilakukan ketika daftar diagnose yang telah dilakukan dimasing-masing ruangan. Rekapitulasi daftar diagnose terbanyak ini dapat dipakai sebagai dasar revisi terhadap satandart asuhan keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya di Komite Keperawatan RS.
h.    Laporan Implementasi
Laporan implementasi adalah rekap tindakan-tindakan perawatan pada satu periode, yang dapat difilter berdasar ruang, pelaksana dan klien. Laporan ini dapat menjadi alat monitoring yang efektif tentang kebutuhan pembelajaran bagi perawat, hal ini juga mempermudah para supervisor keperawatan dalam memberikan bimbingan keperawatan terhadap perawat pelaksanan hal-hal terkait tindakan keperawatan yang harus dikuasai dan ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. Laporan implementasi juga dapat dijadikan alat bantu operan shift serta perencanaan Contieus Nursing Education (CNE) yang merupakan program mutu Komite Keperawatan yang setiap tahunnya diadakan.

i.      Laporan statistik
Laporan statistik dalam sistem informasi manajaman keperawatan adalah laporan berupa BOR, LOS, TOI dan BTO di ruang tersebut, ini akan memberikan gambaran bagaimana pelaksanaan clinical pathway dapat berjalan sesuai targer atau standart yang telah ditetapkan atau tidak.
j.      Resume Perawatan
Dalam masa akhir perawatan klien rawat inap, resume keperawatan harus dicantumkan dalam rekam medik. Resume perawatan bermanfaat untuk melihat secara global pengelolaan klien saat dirawat sebelumnya, jika klien pernah dirawat di rumah sakit. Dalam sistem, resume perawatan dicetak saat klien akan keluar dari perawatan. Komputer telah merekam data-data yang dibutuhkan untuk pembuatan resume perawatan.
k.    Presentasi Kasus On Line
Sistem dengan jaringan WiFi memungkinkan data klien dapat diakses dalam ruang diskusi. Maka presentasi kasus kelolaan di ruang rawat dapat dilakukan on line ketika klien masih di rawat dan dengan mudah dapat dlakukan akses ke data.
l.      Mengetahui Jasa Perawat
Tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan bila dilakukan input pelayanan data akan terintegrasi dengan SIM RS, memugkinkan perawat mengetahui jasa tindakan yang dilakukannya secara real time, secara harian, bulanan atau mingguan. Disamping itu juga bisa dilinkkan dengan bagian keuangan dan SDM dalam penghitungan jasa yang akan diterima oleh masing-masing tenaga keperawatan.
m.   Monitoring Tindakan Perawat & Monitoring Aktifitas Perawat.
Manajemen perawatan dapat mengakses langsung tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat, tentunya dengan kode akses yang telah dimilkinya (level security password) dan mengetahui pula masing-masing perawat telah melakukan aktifitas keperawatan apa terhadap klien yang menjadi tanggung jawabnya.
n.    Laporan Shift
Laporan kegiatan dari setiap shif juga dapat direkap, rekapan dari aktifitas yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh perawat, tergantung item mana yang akan dilaporkan pada masing-masing klien tergantung kebutuhan yang akan dilakukan evalusi.
o.    Monitoring Klien oleh PN atau Kepala Ruang saat sedang Rapat
Monitoring keadan klien oleh PN atau Kepala Ruang dapat dilakukan ketika PN atau Kepala Ruang sedang rapat di ruang converence. Akan diketahui apakah seorang klien telah dilakukan pegkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi atau belum hal ini akan membantu supervisor keperawatan melakukan bimbingan dalam peneraan asuhan keperawatan sehingga dihasilkan mutu keperaatan yang optimal.
p.    Discharge Planning
Discharge Planning adalah uraian tentang perencanaan dan nasihat perawatan setelah klien dirawat dari rumah sakit. Dalam sistem, discharge planning sudah tersedia uraian dimaksud, perawat tinggal print out yang selanjutnya hasil print out tersebut dibawakan klien pulang.



















BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Jenis Penulisan
Tulisan dalam karya tulis ini bersifat kajian pustaka atau library research. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif yang disertai dengan analisis sehingga menunjukkan suatu kajian ilmiah yang dapat dikembangkan dan diterapkan lebih lanjut.
3.2 Objek Penulisan
Objek tulisan ini adalah sistem manajemen asuhan keperawatan digital  berbasis integrasi kode batang (barcode ) dan perangkat lunak (software). Dengan adanya penggunaan rancangan inovasi ini harapanya dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari perawat dalam memberikan tindakan asuhan keperawatan kepada pasien.
3.3 Teknik Pengambilan Data
Informasi yang dikumpulkan adalah informasi yang berkaitan dengan manajemen informasi keperawatan, kode batang, perangkat lunak, dan literatur tentang proses pembuatan system integrasi kode batang dan perangkat lunak aplikasi. Informasi ini diperoleh dari berbagai literatur baik berupa majalah, jurnal ilmiah, internet maupun buku yang relevan dengan objek yang akan dikaji.
3.4 Prosedur Penulisan
Setelah dilakukan pengumpulan data informasi, semua hasil diseleksi untuk mengambil data dan informasi yang relevan dengan masalah yang dikaji. Untuk menyajikan masalah yang akan dibahas, maka dalam tulisan ini penyajian dibagi atas empat pokok bahasan, yaitu:
1.   Proses identifikasi dan validasi pasien dengan kode batang QR Code,
2.  Proses input data pengkajian pasien menggunakan aplikasi mobile yang ada pada smartphone,
3.  Proses sinkronisasi dan pengolahan data dari smartphone dengan aplikasi asuhan keperawatan yang ada pada computer,
4.  Pendistribusian intervensi keperawatan hasil olahan aplikasi asuhan keperawatan ke masing-masing smartphone untuk dilakukan tindakan sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah diberikan.
3.5 Kerangka Berpikir
Tulisan ini memiliki kerangka berpikir dalan proses penulisannya. Kerangka atau
alur berpikir digunakan untuk mempermudah proses penulisan. Adapun kerangka
berpikir dalam tulisan ini akan dijelaskan pada gambar 3.1 di bawah ini.
Latar belakang:
1.  Seringnya terjadi kesalahan dalam identifikasi pasien yang dapat berakibat fatal,
2.  Proses pengkajian data pasien dengan kertas membuat perawat bosan, kurang lengkap dan membutuhkan waktu yang lebih lama,
3.  Pengolahan diagnosa dan intervensi keperawatan yang kurang cepat, kurang lengkap dan kurang akurat,
4.  Seringnya terjadi kelalaian dalam melaksanakan tindakan karena tidak ada alat pengingat yang sistimatis dalam mengagendakan tindakan,
5.  Proses dokumentasi dan evaluasi tindakan keperawatan yang kurang lengkap dan sistimatis sehingga meragukan kinerja perawat dalam aspek legal tindakan keperawatan,
6.  Proses penghitungan tindakan jasa keperawatan yang kurang akurat sehingga menimbulkan permasalahan dalam pemberian intensif dan angka akreditasi,
7.  Proses penghitungan biaya pasien dan stock bahan pemakaian secara manual dirasa kurang akurat dan kurang praktis,
8.  Lemahnya budaya riset di bangsal perawatan karena tidak terdapatnya data kalkulasi diagnosa dan tindakan yang dapat diakses secara berkelanjutan,
9.  Proses kolaborasi dan komunikasi perawat dengan tim medis lainya yang sering terkendala karena keterbatasan waktu, jarak dan akses informasi.
3.6 Perumusan Masalah
1.    Bagaimanakah proses identifikasi dan penghitungan tindakan menggunakan barcode?
2.    Bagaimanakah proses pengolahan data pengkajian, penetapan diagnose, prioritas tindakan dan evaluasi menggunakan software asuhan keperawatan?
3.    Bagaimana proses akses data integrasi barcode dan software asuhan keperawatan dengan sejawat, keluarga pasien dan instansi kesehatan?
3.7 Studi Literatur
1.    Penggunaan QR Code untuk identifikasi pasien dan penghitungan jasa    keperawatan,
2.    Penggunaan Software asuhan keperawatan untuk pengolahan data pasien,
3.    Proses akses data integrasi barcode dan software asuhan keperawatan dengan sejawat, keluarga pasien dan instansi kesehatan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Penggunaan QR Code dan Software Aplikasi
            Penggunaan QR Code dan Software Aplikasi di jelasakan seperti pada alur   berikut ini:
Gelang QR Code à Sistem Pemindai dalam Aplikasi à Akses Data Pasien à Aplikasi Asuhan keperawatan Mobile à Aplikasi Asuhan Keperawatan Pengolah Data (Komputer) à Pendistribusian Intervensi Perawat à Tindakan pada pasien à Validasi Pasien sebelum dan sesudah tindakan à Dokumentasi Otomatis Oleh Sotware dan Barcode.
4.1.1 Penanaman QR Code Pada Gelang Pasien
Gelang QR Code diberikan kepeda pasien saat registrasi masuk rumah sakit (MRS) pertama kali, dan jika pasien yang sama telah pernah masuk ke rumah sakit akan menggunakan kode yang sama. Dengan sistem ini data riwayat penyakit dan waktu berobat terakhir di rumah sakit dapat diakses sebagai pertimbangan dalam menentukan diagnose dan intervensi perawatan. Pendasaran pembuatan kode unik QR Code didasarkan pada nomer kartu tanda penduduk (KTP) pasien.
Gelang QR Code ditanamkan pada gelang pasien yang terbuat dari bahan kertas/plastic yang kedap air, sehingga memungkinkan untuk dikenali dan diidentifikasi sebelum dan sesudah tindakan. Pemakaian bahan yang kedap air menghindari terjadinya kerusakan pada gelang karena cairan infus, obat, air dan sebagainya.
QR Code akan memberikan akses link khusus pada suatu jaringan software aplikasi yang ada pada PDA/Smarthpone dari perawat. Akses tersebut bertautan dengan lembar pengkajian baru, lembar riwayat asuhan keperawatan (jika sudah pernah dirawat), dan akses resume dokumentasi yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu (recent intervention).
Fungsi khusus QR Code selain sebagai kode identifikasi juga sebagai kode validasi tindakan. Software aplikasi yang terpasang pada Smarthpone akan meminta verifikasi kode dari QR Code tersebut sebelum dan sesudah tindakan dilakukan. Sehingga proses pemindaian kode QR pada pasien dilakukan  sebelum tindakan untuk memastikan pasien, sedangkan pemindaian setalah tindakan untuk memvalidasi bahwa agenda tindakan telah dilakukan.
Fungsi Validasi tindakan dengan QR Code terhubung langsung dengan fungsi penghitungan biaya perawatan, penghitungan bahan perawatan (stock) yang telah digunakan dan sisa bahan perawatan yang masih tersedia, serta penghitungan jasa pada perawat yang telah selesai melakukan tindakan (user aplication).
4.1.2 Proses Pemindaian  QR Code  Pada PDA/Smarthpone Perawat
Aplikasi pemindai QR Code telah terintegrasi sebagai aplikasi asuhan keperawatan mobile. Aplikasi ini dirancang dapat dipasang pada vendor Sistem Operasi berbagai Smarthpone yang ada dipasar Indonesia seperti Android, Symbian, Windows Mobile dan lainya.
Pemindaian kode QR dapat dilakukan dengan dua cara yakni dengan kamera yang telah ada pada smartphone atau dengan input kode digit manual sebagai alternatifnya. Kode QR dapat mendukung proses pindai dengan berbagai posisi sudut 360 derajat, sehingga memungkinkan pemindaian dilakukan dalam semua posisi pasien.
Pemindaian kode QR akan menampilkan pada 3 pilihan akses interface:
a.    Akses pengkajian keperawatan lembar baru
Akses ini digunakan bagi perawat untuk melakukan pengkajian keperawatan pada pasien baru MRS, pengkajian ini dilakukan dengan panduan pengkajian komprehensif sesuai pilihan kasus departemen keperawatan. Format pengkajian memuat kolom-kolom pilihan terprogram, dan kolom isian catatan manual. Format pilihan terprogram mengacu pada system klasifikasi bersifat umum, seperti jumlah cairan yang masuk (input cairan) perhari dengan anak pilihan  a. <0.5 L, b. 0.5-1 L, c. 1-1.5 L d. 1.5-2 L e. >2L. dsb. Sedangkan kolom pengkajian uraian diperlukan untuk memberikan catatan-catatan khusus yang tidak terdapat pada program pilihan,
b.      Akses Re-Assesment atau pengkajian ulangan dan evaluasi intervensi  keperawatan.
Pengkajian ulangan adalah pengkajian yang dilakukan untuk mengkaji ulang hasil tindakan keperawatan sebelumnya. Fokus pada diagnose dan tindakan yang telah dilakukan oleh perawat sebelumnya dengan melihat progress dan prognosis dari masalah yang dihadapi, penilaian diagnose ulang, atau penetapan diagnose baru. Sedangkan evaluasi intervensi memberikan gambaran grafik perkembangan atas suatu diagnose berdasarkan tindakan yang diangkat. Berupa grafik dan angka statistic perkembangan kesehatan dan penyakit pasien,
c.      Resume tindakan yang baru saja dilakukan.
Resume tindakan menampilkan daftar tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan, daftar tindakan tersebut memberikan informasi waktu tindakan, durasi tindakan, stock bahan perawatan yang telah digunakan, biaya tindakan pasien dan tanda identitas perawat yang melaksanakan.
4.2 Penggunaan Software Aplikasi Manajemen Asuhan Keperawatan
Software aplikasi asuhan keperawatan dibagi menjadi 2 bagian:
4.2.1   Aplikasi yang dipasang pada Smarthpone
Aplikasi pada smartphone dipasangkan pada system operasi yang ada pada Smartphone semisal Android, Windows Phone dsb, adapaun fitur aplikasi asuhan keperawatan mobile meliputi :
a.   Sistem identifikasi pemindai QR Code
b.   Sistem input data pengkajian
c.   Sistem monitoring perkembangan diagnose
d.   Sistem dokumentasi tindakan
e.   Sistem pengingat dan pengagendaan kegiatan
f.    Sinkornisasi data dengan Aplikasi pengolah pada komputer
Adapun alur perpindahan data dari data mentah (raw data) pasien hingga data tindakan di urutkan sebagai berikut:
Data pengkajian pasien à sinkronisasi data à pengolahan data pengkajian à Diagnosa à Rencana Tindakan à Prioritas Tindakan à Daftar Tindakan Keperawatan à Sinkronisasi hasil olah data à Aplikasi Asuhan Keperawatan Mobile.
4.2.2  Aplikasi Pengolah Database Pada Komputer Ruangan
Aplikasi pengolah database merupakan system perangkat lunak yang memiliki fungsi khusus dalam mengolah proses asuhan keperawatan pada pasien. Ada 2 klasifikasi fungsi utama dalam aplikasi ini yakni:




 














4.2.2.1  Fungsi Internal
Fungsi internal adalah fungsi khusus apliaksi yang memberikan pengolahan data pasien, mengolah input data pengkajian dari aplikasi mobile menjadi rumusan diagnose, penetapan prioritas intervensi, perincian tindakan keperawatan, database asuhan keperawatan yang dapat menjadi pedoman dalam melakuakn tindakan, arsip Standar Operasional Prosedur, Arsip komunikasi informasi dan edukasi pasien,
Dsb yang termaksud di bab 1.
4.2.2.2  Fungsi Eksternal
Fungsi eksternal tehubung dengan system Database jaringan internet rumah sakit. Fungsi eksternal memungkinkan data kelolaan dapat menunjang komunikasi dan peran kolaborasi perawat dengan sejawat profesi lain.
Fungsi eksternal memiliki presentasi kasus pasien, akses konsultasi dengan sejawat lain, dan akses informasi dasar/awam bagi keluarga pasien atau yang berkepentingan.


4.3   Pendistribusian Intervensi Keperawatan
            Distribusi intervensi adalah system manajemen dalam pembagian tugas asuhan keperawatan yang didasarkan pada kiat dan ilmu keperawatan untuk menghasilkan kinerja dan kerja perawat yang efektif dan efisien. Distribusi intervensi memungkinkan antar perawat saling membagi tugas dalam melakukan tindakan berupa pedoman dan acuan agenda tindakan yang harus dilakukan oleh perawat berdasar diagnose yang telah ditegakan.
Proses distribusi Intervensi ini adalah kebalikan dari system input data pengkajian yang akan diolah dalam database komputer. Proses distribusi akam mengirimkan rincian hasil olahan data berupa daftar dan pedoman tindakan yang akan dilakukan perawat dalam waktu tertentu. Data dari komputer akan dikirim kedalam Smartphone menggunakan fitur sinkronisasi.
Didalam Smartphone akan ditampilkan daftar jadwal tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat. Jadwal tersebut dilengkapi dengan system alarm yang membantu memberikan tanda kepada perawat bahwa tindakan tersebut telah waktunya untuk dilakukan.
Sistem validasi tindakan ada pada fitur ini, yakni sebelum melakukan tindakan perwat diharuskan untuk mengaktifkan aplikasi mobile dan memilih jenis tindakan yang akan dilakukan pada pasien. Dengan mengaktifkan jenis tindakan yang akan dilakukan, aplikasi akan secara otomatis terhubung dengan system validasi pemindai guna memverifikasii bahwa telah ditetapkan pada pasien yang benar.
Selanjutnya, perawat melaksanakan tindakan hingga selesai sesuai standar operasional prosedur rumah sakit. Setelah selesai tindakan, perawat mengaktifkan aplikasi kembali dengan memilih jenis tindakan yang telah dikatifkan tadi, selanjutnya akan diminta pindaian verifikasi bahwa tindakan telah selesai dilakukan.
4.4 Kesiapan Teknologi Untuk Diterapkan
a.    Hard Ware
1)  Perangkat keras berupa PC / CPU pada masing-masing ruang implementasi, yang terhubung dengan jaringan. Internet, terpasang di semua ruang pelayanan keperawatan dan link ke seluruh satuan kerja yang ada di RS mulai dari front ofice sampai back ofice.
2)  Printer digunakan untuk mencetak dokumen yang telah dibuat. Semisal dischard planning
3)  PDA atau Smartphone digunakan untuk identifikasi scanning serta memasukan data-data saat pengkajian di samping pasien.
b.    WiFi
Wifi adalah perangkat keras untuk menghubungkan Smartphone, dan Komputer dengan jaringan, sehingga tidak mengunakan kabel, tapi dengan wireless.
c.    Soft Ware
Program ini disusun dan dibuat disesuaikan dengan out put yang ingin dicapai sesuai dengan rencanan pengembanagan.
d.     Brain Ware
Pembentukan Mind Set bukan sesuatu yang mudah bagi perawat. Ini merupakan tantangan bagi jajaran tenaga keperawatan mampu beradaptasi dengan perkembangan jamam.
4.5 Keunggulan Inovasi
4.5.1  Kelebihan Kode QR
Kode QR memiliki kapasitas tinggi dalam data pengkodean, yaitu mampu menyimpan semua jenis data, seperti data numerik, data alphabetis, kanji, kana, hiragana,simbol,dan kode biner. Secara spesifik, kode QR mampu menyimpan data jenis numerik sampai dengan 7.089 karakter, data alphanumerik sampai dengan 4.296 karakter, kode binari sampai dengan 2.844 byte, dan huruf kanji sampai dengan 1.817 karakter. Selain itu kode QR memiliki tampilan yang lebih kecil daripada kode batang. Hal ini dikarenakan kode QR mampu menampung data secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis ukuran dari tampilannya gambar kode QR bisa hanya seperspuluh dari ukuran sebuah kode batang. Tidak hanya itu kode QR juga tahan terhadap kerusakan, sebab kode QR mampu memperbaiki kesalahan sampai dengan 30%. Oleh karena itu, walaupun sebagian simbol kode QR kotor ataupun rusak, data tetap dapat disimpan dan dibaca. Tiga tanda berbentuk persegi di tiga sudut memiliki fungsi agar simbol dapat dibaca dengan hasil yang sama dari sudut manapun sepanjang 360 derajat.
4.5.2  Keunggulan Aplikasi Manajemen Asuhan Keperawatan
Software asuhan keperawatan memiliki keunggulan diantaranya:
1.   Aplikasi asuhan keperawatan mobile merupakan inovasi terbaru dalam pengkajian pasien yang praktis dan komprehensif,
2.   Sistem sinkronisasi memungkinkan terciptanya perpindahan data yang aman dan cepat,
3.   Teknologi pemindai QR Code yang langsung terintegrasi dengan akses  aplikasi di dalam Smartphone memudahkan penggunaan aplikasi mobile asuhan keperawatan tanpa menjalani koneksi ke internet,
4.   Aplikasi asuhan keperawatan mobile memiliki fungsi menyeluruh sebagai aplikasi penyedia layanan identifikasi, informasi, pengingat agenda dan validasi pasien,
5.   Aplikasi asuhan keperawatan komputer memuat data base diagnose, pilihan intervensi yang telah berstandar internasional sehingga kualitas keilmuan sebagai pedoman tindakan tidak diragukan,
6.   Memudahkan perawat dalam mengolah data pengkajian pasien dengan lebih cepat, akuntabel dan berkesinambungan,
7.   Sistem distribusi intervensi yang sistimatis dan efisien meningkatkan hasil tindakan yang akurat dan memperkecil terjadinya kelalaian.
4.5.3 Keunggulan Finansial
Penggunaan teknologi integrasi aplikasi asuhan keperawatan dengan QR Code ini tidak memerlukan investasi yang besar. Pada dasarnya hanya membutuhkan Komputer disetiap ruangan untuk proses pengolahan data, sedangkan untuk pengadaan Smartphone dapat dilakukan sendiri secara swadana oleh masing-masing perawat mengingat sudah maraknya pengguna smartphone termasuk oleh perawat. Teknologi cetak kode pada gelang juga ekonomis hanya membutuhkan biaya Rp. 200 per gelangnya.
4.5.3 Keunggulan Akses Data
Akses data keperawatan dengan keluarga pasien atau dengan tim kesehatan lain juga merupakan wujud eksistensi dan aktualisasi dari ilmu dan peran keperawatan. Kemudahan dalam membagi informasi dalam jaringan networking lingkup rumah sakit menjamin terciptanya komunikasi dan peran kolaborasi yang lebih baik. Data pasien dapat diakses oleh tim kesehatan lain menggunakan teknologi komputerisasi atau Smartphone lewat akses penyimpanan data terintegrasi dalam networking cloud rumah sakit. Akses data yang dilakukan oleh keluarga berkontribusi memberikan layanan prima untuk memberikan informasi terkini akan kondisi pasien, sehingga keluarga pasien dapat mengetahui kondisi keluarga yang sakit dimanapun dan kapanpun.

4.6 Kerjasama Antar Bidang Dalam Pengembangan
4.6.1      Perawat Dan Orgnaiasi Profesi
Perawat sebagai pengguna diharapakan mampu mengoptimalkan fungsi kerja dari system yang telah dirancang, penggunaan inovasi yang sesuai dengan pedoman dan petunjuk akan sangat signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan, selain itu update informasi dan bidang keilmuan keperawatan berkontribusi dalam pengembangan database software aplikasi dalam pembuat versi berikutnya
4.6.2      Ahli Bidangn Informatika
Pembuatan system pemindaian dan system olah data keperawatan mutlak perlu dikembangkan oleh ahli teknologi dan informatika. Pengembangan ini diharapkan lebih kearah optimalisasi pembuatan fitur yang friendly dan mudah dioperasikan oleh perawat.
4.6.3      Pengusaha
Pelaku usaha berperan dalam menjadikan inovasi ini sebagai proyek bisnis penyedia layanan instalasi dan penyedia suplay software di seluruh rumah sakit yang sesuai dan membutuhkan, pengusaha juga bisa menjadi inti pelaku kerja pengembangan inovasi secara keseluruhan yang berkelanjutan.
Inovasi integrasi software dan barcode asuhan keperawatan ini dapat menjadi suatu Technopreneurship yang sangat potensial, memiliki target pasar yang sangat besar yakni seluruh rumah sakit yang telah memiliki ruang rawat representatif, juga peluang kompetisi yang masih nihil dan investasi awal bisnis yang terjangkau.
4.6.4      Kementerian Kesehatan
Pemerintah memiliki peranan dalam membuat kebijakan pengembangan dan penggunaan inovasi dalam program kerjanya. Dengan kebijakan dari pemerintah pengadaan inovasi ini menjadi suatu agenda yang sangat luar biasa.
4.7 Resiko Yang Mungkin Muncul
Risiko yang mungkin muncul yakni kurangnya daya terima perawat terhadap kemajuan teknologi baru. Namun permasalahan tersebut mudah diberikan solusi dengan sosialiasi melalui pelatiahan-pelatihan terpadu, membuat ruang prototype sebagai percontohan, buku pedoman penggunaan system.

BAB V
PENUTUP
5.1    Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain :
    a.     Penggunaan integrasi system  software dan barcode merupakan inovasi dalam identifikasi dan validasi pasien, pengolahan data, dokumentasi dan akses data eksternal baik kepada sejawat maupun keluarga pasien,
    b.     Penggunaan QR Code dan Software Aplikasi seperti pada alur berikut ini:
  Gelang QR Code à Sistem Pemindai dalam Aplikasi à Akses Data Pasien à Aplikasi Asuhan keperawatan Mobile à Aplikasi Asuhan Keperawatan Pengolah Data (Komputer) à Pendistribusian Intervensi Perawat à Tindakan pada pasien à Validasi Pasien sebelum dan sesudah tindakan à Dokumentasi Otomatis Oleh Sotware dan Barcode,
    c.     Inovasi integrasi barcode dan software Asuhan Keperawatan sangat potensial dijadikan program technopreneurship, dengan target pasar yang sangat besar yakni seluruh Rumah Sakit atau Klinik Perawatan yang representative, kompetitor yang masih nihil, dan biaya investasi yang terjangkau.
5.2   Saran
SDM keperawatan perlu mempersiapkan diri dengan pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan teknologi informasi khususnya pengembangan integrasi barcode dan software asuhan keperawatan. Evalusi berkelanjutan terhadap program yang akan dikembangkan merupakan agenda yang mutlak untuk dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Ammenwerth E, Eichstädter R, Haux R, Pohl U, Rebel S, Ziegler S (2001). A randomized evaluation of a computer-based nursing documentation system. Jurnal  12001 May;40(2):61-8.Department of Medical Informatics, University of Heidelberg, Germany.

Ammenwerth E, Mansmann U, Iller C, Eichstädter R (2003). Factors affecting and affected by user acceptance of computer-based nursing documentation: results of a two-year study. J Am Med Inform Assoc. 2003 Jan-Feb;10(1):69-84. University for Health Informatics and Technology Tyrol, Innsbruck, Austria. elske.ammenwerth@umit.at

Ammenwerth, E., Eichstadter, R., Haux, R., Pohl, U., Rebel, S., and Ziegler, S., A randomized evaluation of a computer-based nursing documentation system. Methods Inf. Med. 40(2):61-68, 2001.

Ammenwerth, E., Kutscha, A., Eichstadter, R., and Haux, R., Systematic evaluation of computer-based nursing documentation. Medinfo 10(Pt 2):1102-1106, 2001.

Cornelia Mahler, Elske Ammenwerth, Andreas Wagner, Angelika Tautz, Torsten Happek, Bettina Hoppe and Ronald Eichstädter (2005). Effects of a Computer-based Nursing Documentation System on the Quality of Nursing Documentation. Journal of Medical Systems. Volume 31, Number 4, 274-282, DOI: 10.1007/s10916-007-9065-0

Davis, B. D., Billings, J. R., and Ryland, R. K., Evaluation of nursing process documentation. J. Adv. Nurs. 19(5):960-968, 1994.

Goossen, W. T., Epping, P. J., and Dassen, T., Criteria for nursing information systems as a component of the electronic patient record. An international Delphi study. Comput. Nurs. 15(6):307- 315, 1997

Hendrickson G, Kovner CT. (1990). Effects of computers on nursing resource use. Do computers save nurses time? Center for Medical Informatics, New York, NY 10032. 1990 Jan-Feb;8(1):16-22.

Henry SB, Mead CN. Nursing classification systems: Necessary but not sufficient for representing "What nurses do" for inclusion in computer-based patient record systems. J Am Med Inform Assoc 1997;4:222-32.

Kaminski J. Nursing informatics and nursing culture: Is there a fit? [editorial]Online Journal of Nursing Informatics. Oct 2005. Diperoleh dari: URL: http://eaaknowledge.com/ ojni/ni/9_3/june.htm.

Larrabee, J. H., Boldreghini, S., Elder-Sorrells, K., Turner, Z. M., Wender, R. G., and Hart, J. M. et al., Evaluation of documentation before and after implementation of a nursing information system in an acute care hospital. Comput. Nurs. 19(2):56-65, 2001
Nahm, R., and Poston, I., Measurement of the effects of an integrated, point-of-care computer system on quality of nursing documentation and patient satisfaction. Comput. Nurs. 18(5):220- 229, 2000.

Ozbolt JF, Schultz II S, Swain MA, Abraham II. A proposed expert system for nursing practice: A springboard to nursing science. Journal of Medical Systems 1985;9:175-85.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar