BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini di Indonesia belum secara luas
dimanfaatkan dengan baik oleh perawat
khususnya di pelayanan rumah sakit, terutama pelayanan keperawatan.
Tenaga perawat sebagai
salah satu tim kesehatan didalam melaksanakan fungsi dan peran dituntut untuk
dapat mendokumentasikan seluruh pekerjaan yang dilakukannya dengan baik.
Pendokumentasian peran dan fungsi didalam merawat pasien amat diperlukan karena
mempunyai unsur tanggung jawab serta tanggung gugat di mata hukum. Sampai saat
ini pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan oleh perawat masih
menggunakan kertas. Salah satu kendala yang sering menjadi keluhan pada
sebagian besar perawat ketika harus menuliskan tindakan keperawatan diatas
kertas adalah keterbatasan waktu mereka dalam hal melakukan pencatatan dan
pendokumentasian asuhan keperawatan. Akibatnya, apa yang sudah dilakukan
perawat secara langsung ke pasien sering tidak didokumentasikan dengan baik
sehingga mengakibatkan kurang efektifnya evaluasi terhadap kemajuan perawatan
pada pasien.
Selanjutnya, format
pendokumentasian yang panjang dan kompleks mengharuskan perawat menuliskan
secara manual asuhan keperawatan terkadang menimbulkan rasa jenuh. Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan Suhendri dan Malini (2005) 65,6 %
pendokumentasian yang dilakukan oleh perawat tidak lengkap dimana salah satu
penyebabnya adalah sistem pencatatan yang sulit untuk dinilai sehingga perawat
hanya melakukan sesuai kemampuan tanpa memenuhi standar yang ada.
Definisi Personal Digital Assistants (PDA) menurut Wikipedia adalah sebuah alat komputer genggam portable,
dan dapat dipegang tangan yang didesain sebagai organizer individu, namun terus
berkembang sepanjang masa. PDA memiliki fungsi antara lain sebagai kalkulator,
jam, kalender, games, internet akses, mengirim dan menerima email, radio,
merekam gambar/video, membuat catatan, sebagai address book, dan juga spreadsheet.
PDA terbaru bahkan memiliki tampilan layar berwarna dan kemampuan audio, dapat
berfungsi sebagai telepon bergerak, HP/ponsel, browser internet dan media
players. Saat ini banyak PDA dapat langsung mengakses internet, intranet dan
ekstranet melalui Wi-Fi, atau WWAN (Wireless Wide-Area Networks). Dan terutama
PDA memiliki kelebihan hanya menggunakan sentuhan layar dengan pulpen/ touch
screen.). Di era sekarang PDA tersebut dapat terwakili oleh Smarthpone yang
sudah banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia, khususnya perawat. Smarthpone
sendiri terdapat sistem operasi yang memungkinkan terciptanya basis aplikasi
tambahan dengan sistem plug-in seperti pemilik vendor sistem operasi Android,
dan Symbian.
Dengan demikian, penggunaan teknologi komputer untuk pelaksanaan asuhan
keperawatan di rumah sakit merupakan suatu inovasi metode pendokumentasian yang
mampu memberikan efisiensi waktu (Ammenwerth E, 2001),
mempermudah pencairan file klien ketika diperlukan, dipakai sebagai dasar bagi
pengembangan pelayanan di rumah sakit karena dengan mudahnya sebuah laporan
dapat dikases real time mulai dari penghitungan BOR, LOS, penghitungan
ketenagaan, data tingkat ketergantungan klien berdasarkan pemenuhan kebutuhannya,
indicator mutu pelayanan keperawatan, angka infeksi nosokomial hingga
penghitungan jasa keperawatan berbasis tindakan asuhan keperawatan yang telah
disefakati dengan mengacu pada NIC dan NOC disamping dapat dipakainya data
asuhan keperawatan dalam kredit point untuk pengusulkan kenaikan pangkat /
golongan dimana perawat tidak perlu menuliskan lagi apa yang telah dikerjakan
selama ini. Sehingga
inovasi integrasi software dan barcode ini menjadi solusi akan adanya sistem
identifikasi dan validasi pasien, pengolahan data pengkajian, pendokumentasian
tindakan, dan evaluasi tindakan yang lebih baik.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana
penggunaan prototipe
sistem manajemen asuhan keperawatan digital
berbasis integrasi kode batang (barcode) dan perangkat lunak (software)?.
1.3 Tujuan Penulisan
Menjelaskan penggunaan prototipe sistem manajemen
asuhan keperawatan digital berbasis
integrasi kode batang (barcode) dan perangkat lunak (software).
1.4 Manfaat Penulisan
Memberikan informasi tentang penggunaan
prototipe sistem manajemen asuhan keperawatan digital berbasis integrasi kode batang (barcode)
dan perangkat lunak (software).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Manajemen Asuhan Keperawatan
Keperawatan melingkupi
pelayanan secara otonom dan kolaboratif bagi individu dari segala usia,
keluarga, kelompok, dan komunitas, sakit ataupun sehat dalam segala latar, yang
mencangkup promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan orang sakit,
cacat, atau akan meninggal. Kunci lain peran keperawatan: Pendampingan, promosi
lingkungan yang aman, penelitian, partisipasi dalam pembentukan kebijakan
kesehatan, manajemen klien dan sistem kesehatan, serta pendidikan (International
Council of Nurses).
Sistem manajemen asuhan keperawatan digital
adalah cabang informatika kesehatan yang berkaitan dengan dukungan keperawatan
melalui sistem informasi dalam penyampaian, dokumentasi, administrasi, dan
evaluasi pelayanan klien dan pencegahan penyakit. Karena perawat pada umumnya
merupakan pemasok utama layanan kesehatan bagi klien maka informatika
keperawatan berpengaruh penting terhadap rancangan dan implementasi sistem
perawatan klien di rumah sakit, di rumah tinggal, serta pada latar
berbasis-komunitas lainnya.
Sistem manajemen asuhan keperawatan
digital merupakan integrasi proses keperawatan, informasi dan manajemen
informasi dengan teknologi pemrosesan, untuk mendukung kesehatan penduduk di
seluruh dunia. (International Medical Informatics Association - Nursing Informatics
Special Interest Group; IMI-NI, 1998). Informatika keperawatan
adalah penggunaan teknologi informasi sehubungan dengan tiap fungsi yang ada
dalam bidang keperawatan dan dilakukan oleh perawat dalam pelaksanaan tugas
mereka. Hal ini mencakup perawatan klien, administrasi, pendidikan, dan
penelitian (Hannah, 1985). “Informatika keperawatan adalah kombinasi ilmu
komputer, ilmu informasi, dan ilmu keperawatan yang dirancang untuk membantu
manajemen dan pemrosesan data, informasi, dan pengetahuan keperawatan untuk
menunjang praktek keperawatan dan penyampaian layanan keperawatan” (Graves
& Corcoran, 1989).
2.2
Sistem
Kode Batang
Sebuah kode batang atau kode palang (bahasa
Inggris: barcode) adalah suatu kumpulan
data optik yang dibaca mesin.
Sebenarnya, kode batang ini mengumpulkan data dalam lebar (garis) dan spasi
garis paralel dan dapat disebut sebagai kode batang atau simbologi linear atau
1D (1 dimensi). Tetapi juga memiliki bentuk persegi, titik, heksagon dan bentuk
geometri lainnya di dalam gambar yang disebut kode matriks atau simbologi 2D (2
dimensi). Selain tidak ada garis, sistem 2D sering juga disebut sebagai kode
batang. Pada sistem manajemen asuhan keperawatan digital, jenis kode batang
yang sesuai dan efektif digunakan adalah kode batang jenis kode QR.
2.2.1 Definisi Kode QR
Kode QR
atau biasa dikenal
dengan istilah QR Code adalah bentuk evolusi kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi.
Penggunaan kode QR sudah sangat lazim di Jepang. Hal ini dikarenakan kemampuannya
menyimpan data yang lebih besar dari pada kode batang sehingga mampu mengkodekan informasi
dalam bahasa Jepang sebab dapat menampung huruf kanji.
Kode QR telah mendapatkan standardisasi internasional dan standardisasi dari
Jepang berupa ISO/IEC18004 dan JIS-X-0510 dan telah digunakan secara luas
melalui ponsel di Jepang.
Kode QR adalah suatu jenis kode matriks atau kode
batang dua
dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, sebuah
divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah
perusahaan Jepang dan dipublikasikan pada tahun 1994 dengan fungsionalitas
utama yaitu dapat dengan mudah dibaca oleh pemindai. QR merupakan singkatan dari quick response atau respons cepat,
yang sesuai dengan tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi dengan cepat
dan mendapatkan respons yang cepat pula. Berbeda dengan kode batang, yang hanya
menyimpan informasi secara horizontal, kode QR mampu menyimpan informasi secara
horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis Kode QR dapat
menampung informasi yang lebih banyak daripada kode
batang.
2.2.2
Perkembangan
penggunaan Kode QR
Awalnya kode QR digunakan untuk pelacakan kendaraan
bagian di manufaktur, namun kini kode QR digunakan dalam konteks yang lebih
luas, termasuk aplikasi komersial dan kemudahan pelacakan aplikasi berorientasi
yang ditujukan untuk pengguna telepon selular. Di Jepang, penggunaan kode QR
sangat populer, hampir semua jenis ponsel di Jepang bisa membaca kode QR sebab
sebagian besar pengusaha di sana telah memilih kode QR sebagai alat tambahan
dalam program promosi produknya, baik yang bergerak dalam perdagangan maupun
dalam bidang jasa. Pada umumnya kode QR digunakan untuk menanamkan informasi
alamat situs suatu perusahaan. Di Indonesia,
kode QR pertama kali diperkenalkan oleh KOMPAS.
Dengan adanya kode QR pada koran harian di Indonesia ini, pembaca mampu
mengakses berita melalui ponselnya bahkan bisa memberi masukan atau opini ke
reporter atau editor surat kabar tersebut.
2.2.3 Fungsi kode QR
Kode QR berfungsi bagaikan hipertaut fisik yang dapat
menyimpan alamat dan URL,
nomer telepon, teks dan sms yang dapat digunakan pada majalah, surat harian,
iklan, pada tanda-tanda bus, kartu nama ataupun media lainnya. Atau dengan kata
lain sebagai penghubung secara cepat konten daring dan konten luring.
Kehadiran kode ini memungkinkan audiens berinteraksi dengan media yang
ditempelinya melalui ponsel secara efektif dan
efisien. Pengguna juga dapat menghasilkan dan mencetak sendiri kode QR untuk
orang lain dengan mengunjungi salah satu dari beberapa ensiklopedia kode QR.
2.2.4 Penggunaan Kode QR
Kode QR dapat digunakan pada ponsel yang memiliki
aplikasi pembaca kode QR dan memiliki akses internet GPRS atau WiFi atau 3G untuk menghubungkan
ponsel dengan situs yang dituju via kode QR tersebut. Perawat, yang dalam hal
ini adalah pengguna ponsel hanya harus mengaktifkan program pembaca kode QR,
mengarahkan kamera ke kode QR, selanjutnya program pembaca kode QR akan secara
otomatis memindai data yang telah tertanam pada kode QR. Jika kode QR berisikan
alamat suatu situs, maka perawat dapat langsung mengakses situs tersebut tanpa
harus lebih dulu mengetikkan alamat dari situs yang dituju.
Jika ingin mengakses kode QR dengan ponsel tanpa kamera,
maka hal pertama yang harus dilakukan oleh pengguna adalah dengan menjalankan
terlebih dahulu aplikasi peramban yang ada pada ponsel, lalu masukkan URL
halaman yang bersangkutan, selanjutnya masukkan “ID” atau 7 digit nomor yang
tertera di bawah kode dan klik tombol Go,
maka pengguna akan memperoleh konten digital yang diinginkan. Hal ini tentu
mempermudah perawat dalam pengolahan data pasien, mengolah input
data pengkajian diagnose, penetapan
prioritas intervensi, perincian tindakan keperawatan, database asuhan
keperawatan yang dapat menjadi pedoman dalam melakuakn tindakan, arsip Standar
Operasional Prosedur, Arsip komunikasi informasi dan edukasi pasien.
Jenis-Jenis aplikasi yang dapat membaca kode QR antara lain misalnya Kaywa Reader , yang dapat di
instal pada Smartphone.
2.3
Sistem
Perangkat Lunak Aplikasi
Perangkat lunak (Software) adalah kumpulan beberapa
perintah yang dieksekusi oleh mesin computer dalam menjalankan pekerjaanya.
Perangkat lunak ini merupakan catatan bagi mesin komputer untuk menyimpan
perintah, maupun dokumen serta arsip lainya. Disusun dan diolah melalui program
yang melibatkan beberapa hal, diantaranya adalah sistem operasi, program dan
data.
Software manajemen asuhan keperawatan termasuk dalam
jenis software aplikasi yang dapat dipasang pada komputer yang telah dilengkapi
dengan system operasi.
2.3.1 Program Pengembanagan Software Aplikasi Asuhan
Keperawatan
Program
yang akan dikembangkan dalam penyusunan system manajemen asuhan keperawatan digital
berbasis software adalah sebagai berikut :
a. Standar Asuhan Keperawatan
Standar
Asuhan Keperawatan menggunakan standar Internasional dengan mengacu pada
Diagnosa Keperawatan yang dikeluarkan oleh North American Nursing Diagnosis
Association, standar outcome keperawatan mengacu pada Nursing Outcome
Clasification dan standar intervensi keperawatan mengacu pada Nursing
Intervention Clasification (NIC) yang dikeluarkan oleh Iowa Outcomes
Project. Standar Asuhan Keperawatn ini juga telah dilengkapi dengan standar
pengkajian perawatan dengan mengacu pada 13 Divisi Diagnosa Keperawatan yang
disusun oleh Doenges dan Moorhouse dan standar evaluasi keperawatan dengan
mengacu pada kriteria yang ada dalam Nursing Outcome Clasification (NOC) dengan
model skoring. Nursing Intervention Clasification (NIC) Adalah daftar komprehensif intervensi keperawatan
yang dikelompokkan berdasarkan label yang mendeskripsikan aktivitas
keperawatan. NIC dibagi menjadi tujuh bidang, yaitu: Fisiologis–dasar (physiological–basic): Mendukung fungsi
fisik, Fisiologis–kompleks (physiological–complex):
Mendukung regulasi homeostatis, Perilaku
(behavioral): Mendukung perubahan fungsi sosial dan gaya hidup, Keselamatan (safety): Mendukung
proteksi terhadap gangguan, Keluarga (family):
Mendukung unit keluarga, Sistem
kesehatan (health system): Mendukung penggunaan sistem layanan
kesehatan, Komunitas (community):
Mendukung kesehatan komunitas. SAK keperawatan ini akan muncul saat
pengkajian dari sistem yang telah di program dari masing-masing kelompok
penyakit diisi dengan lengkap sesuai dengan keadaan yang telah dikaji oleh
perawat dimana format pengkajian yang digunakan merupakan pengembangan format
pengkajian asuhan keperawatan yang telah dipakai selama ini dengan pengembangan
data yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan penyakit klien.
b. Daftar NIC terbanyak
Dafatr NIC terbanyak adalah rekapan tindakan keperawatan
terbanyak berdasarkan pada masing-masing diagnosa keperawatan yang ada di
masiang-masing unit ataupun tingkat RS.
c. Daftar Standar Asuhan Keperawatan
Standar Asuhan Keperawatan (SAK) yang ideal adalah berdasarkan
evidance based nursing, yang merupakan hasil penelitian dari penerapan
standar asuhan keperawatan yang ada. Namun karena dokumen yang tidak lengkap,
SAK banyak diadopsi hanya dari literatur yang tersedia. Dengan terdapatnya data
ini nantinya evidence base nursing dapat ditampilkan sehingga Standart Asuhan
Keperawatan akan direvisi lagi sesuai dengan hasil kajian dan kenyataan yang
ada di pelayanan keperawatan berdasarkan pada rekapitulasi SAK berdasarkan
rekapan dari sistem yang telah dibuat.
d. Standart Operating Procedure
(SOP)
Standart Operating Procedure
(SOP) adalah uraian standar tindakan perawatan yang terdapat dalam standar
asuhan keperawatan. SOP merupakan aktifitas detail dari NIC. SOP tindakan
keperawatan yang baru direvisi berjumlah 110 jenis SOP yang terbagi dalam 11
kategori, dimana ketika tindakan ini dilakukan akan link dengan pemakaian bahan
dan alat kesehatan yang ada sehingga floor stok barang atau alat medis dan
keperawatan akan berkurang secara otomatis.
e. Jadwal dinas perawat
Jadwal dinas perawat dibuat secara otomatis oleh program
komputer, dengan memperhatikan pembagian SDM keperawatan dari jenjang klinik
keperawatan atau Perawat Klinik 1,2,3 serta perencanaan cuti yang telah disusun
sebelumnya, sehingga penanggung jawab ruang tinggal melakukan print.
f. Penghitungan angka kredit perawat.
Penghitungan angka kredit sebagai dasar kenaikan golongan
yang selama ini dikerjakan oleh tenaga keperawatan akan lebih mudah difasilitasi
dengan SIM keperawatan ini, dimana tinggal melihat rekap kegiatan yang telah
dilakukan selama ini di ruang perawatan. Rekapan kegiatan aktifitas perawat
sehari-hari yang merupakan dasar penghitungan kredit point ini secara otomatis
akan dapat diakses secara harian, mingguan atau bulanan.
g. Daftar diagnosa keperawatan terbanyak.
Rekapitulasi daftar diagnose terbanyak ini dapat diakses
berdasarkan masing-masing ruangan, dan juga dapat diakses dari seluruh ruangan.
Hal Ini dapat dilakukan ketika daftar diagnose yang telah dilakukan
dimasing-masing ruangan. Rekapitulasi daftar diagnose terbanyak ini dapat
dipakai sebagai dasar revisi terhadap satandart asuhan keperawatan yang telah
ditetapkan sebelumnya di Komite Keperawatan RS.
h. Laporan Implementasi
Laporan implementasi adalah rekap tindakan-tindakan
perawatan pada satu periode, yang dapat difilter berdasar ruang, pelaksana dan
klien. Laporan ini dapat menjadi alat monitoring yang efektif tentang kebutuhan
pembelajaran bagi perawat, hal ini juga mempermudah para supervisor keperawatan
dalam memberikan bimbingan keperawatan terhadap perawat pelaksanan hal-hal
terkait tindakan keperawatan yang harus dikuasai dan ditingkatkan pengetahuan
dan ketrampilannya. Laporan implementasi juga dapat dijadikan alat bantu operan
shift serta perencanaan Contieus Nursing
Education (CNE) yang merupakan program mutu Komite Keperawatan yang setiap
tahunnya diadakan.
i. Laporan statistik
Laporan statistik dalam sistem informasi manajaman
keperawatan adalah laporan berupa BOR, LOS, TOI dan BTO di ruang tersebut, ini
akan memberikan gambaran bagaimana pelaksanaan clinical pathway dapat berjalan
sesuai targer atau standart yang telah ditetapkan atau tidak.
j. Resume Perawatan
Dalam masa akhir perawatan klien rawat inap, resume
keperawatan harus dicantumkan dalam rekam medik. Resume perawatan bermanfaat
untuk melihat secara global pengelolaan klien saat dirawat sebelumnya, jika
klien pernah dirawat di rumah sakit. Dalam sistem, resume perawatan dicetak
saat klien akan keluar dari perawatan. Komputer telah merekam data-data yang
dibutuhkan untuk pembuatan resume perawatan.
k. Presentasi Kasus On Line
Sistem dengan jaringan WiFi memungkinkan data klien dapat
diakses dalam ruang diskusi.
Maka presentasi kasus kelolaan di ruang rawat dapat dilakukan on line ketika
klien masih di rawat dan dengan mudah dapat dlakukan akses ke data.
l. Mengetahui Jasa Perawat
Tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan bila dilakukan
input pelayanan data akan terintegrasi dengan SIM RS, memugkinkan perawat
mengetahui jasa tindakan yang dilakukannya secara real time, secara harian,
bulanan atau mingguan. Disamping itu juga bisa dilinkkan dengan bagian keuangan
dan SDM dalam penghitungan jasa yang akan diterima oleh masing-masing tenaga
keperawatan.
m. Monitoring Tindakan Perawat & Monitoring Aktifitas
Perawat.
Manajemen perawatan dapat mengakses langsung
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat, tentunya dengan kode akses yang
telah dimilkinya (level security password) dan mengetahui pula masing-masing
perawat telah melakukan aktifitas keperawatan apa terhadap klien yang menjadi tanggung
jawabnya.
n. Laporan Shift
Laporan kegiatan dari setiap shif juga dapat direkap,
rekapan dari aktifitas yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh
perawat, tergantung item mana yang akan dilaporkan pada masing-masing klien
tergantung kebutuhan yang akan dilakukan evalusi.
o. Monitoring Klien oleh PN atau Kepala Ruang saat sedang Rapat
Monitoring keadan klien oleh PN atau Kepala Ruang dapat
dilakukan ketika PN atau Kepala Ruang sedang rapat di ruang converence. Akan
diketahui apakah seorang klien telah dilakukan pegkajian, diagnosa,
perencanaan, implementasi dan evaluasi atau belum hal ini akan membantu
supervisor keperawatan melakukan bimbingan dalam peneraan asuhan keperawatan
sehingga dihasilkan mutu keperaatan yang optimal.
p. Discharge Planning
Discharge Planning adalah uraian tentang perencanaan
dan nasihat perawatan setelah klien dirawat dari rumah sakit. Dalam sistem, discharge
planning sudah tersedia uraian dimaksud, perawat tinggal print out
yang selanjutnya hasil print out tersebut dibawakan klien pulang.
BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Jenis Penulisan
Tulisan dalam karya tulis ini bersifat kajian pustaka
atau library research. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif
yang disertai dengan analisis sehingga menunjukkan suatu kajian ilmiah yang
dapat dikembangkan dan diterapkan lebih lanjut.
3.2 Objek Penulisan
Objek tulisan ini adalah sistem manajemen asuhan keperawatan
digital berbasis integrasi kode batang (barcode )
dan perangkat lunak (software). Dengan adanya
penggunaan rancangan inovasi ini harapanya dapat meningkatkan efisiensi dan
efektifitas dari perawat dalam memberikan tindakan asuhan keperawatan kepada
pasien.
3.3 Teknik Pengambilan Data
Informasi yang dikumpulkan adalah informasi yang
berkaitan dengan manajemen informasi keperawatan, kode batang, perangkat lunak,
dan literatur tentang proses pembuatan system integrasi kode batang dan
perangkat lunak aplikasi. Informasi ini diperoleh dari berbagai literatur baik
berupa majalah, jurnal ilmiah, internet maupun buku yang relevan dengan objek
yang akan dikaji.
3.4 Prosedur Penulisan
Setelah dilakukan pengumpulan data informasi, semua
hasil diseleksi untuk mengambil data dan informasi yang relevan dengan masalah
yang dikaji. Untuk menyajikan masalah yang akan dibahas, maka dalam tulisan ini
penyajian dibagi atas empat pokok bahasan, yaitu:
1. Proses
identifikasi dan validasi pasien dengan kode batang QR Code,
2. Proses
input data pengkajian pasien menggunakan aplikasi mobile yang ada pada smartphone,
3. Proses
sinkronisasi dan pengolahan data dari smartphone dengan aplikasi asuhan
keperawatan yang ada pada computer,
4. Pendistribusian
intervensi keperawatan hasil olahan aplikasi asuhan keperawatan ke
masing-masing smartphone untuk dilakukan tindakan sesuai dengan standar
operasional prosedur yang telah diberikan.
3.5 Kerangka Berpikir
Tulisan ini memiliki kerangka berpikir dalan proses
penulisannya. Kerangka atau
alur berpikir digunakan untuk mempermudah proses
penulisan. Adapun kerangka
berpikir dalam tulisan ini akan dijelaskan pada gambar
3.1 di bawah ini.
Latar belakang:
1. Seringnya
terjadi kesalahan dalam identifikasi pasien yang dapat berakibat fatal,
2. Proses
pengkajian data pasien dengan kertas membuat perawat bosan, kurang lengkap dan
membutuhkan waktu yang lebih lama,
3. Pengolahan
diagnosa dan intervensi keperawatan yang kurang cepat, kurang lengkap dan
kurang akurat,
4. Seringnya
terjadi kelalaian dalam melaksanakan tindakan karena tidak ada alat pengingat
yang sistimatis dalam mengagendakan tindakan,
5. Proses
dokumentasi dan evaluasi tindakan keperawatan yang kurang lengkap dan
sistimatis sehingga meragukan kinerja perawat dalam aspek legal tindakan keperawatan,
6. Proses
penghitungan tindakan jasa keperawatan yang kurang akurat sehingga menimbulkan
permasalahan dalam pemberian intensif dan angka akreditasi,
7. Proses
penghitungan biaya pasien dan stock bahan pemakaian secara manual dirasa kurang
akurat dan kurang praktis,
8. Lemahnya
budaya riset di bangsal perawatan karena tidak terdapatnya data kalkulasi
diagnosa dan tindakan yang dapat diakses secara berkelanjutan,
9. Proses
kolaborasi dan komunikasi perawat dengan tim medis lainya yang sering
terkendala karena keterbatasan waktu, jarak dan akses informasi.
3.6 Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah
proses identifikasi dan penghitungan tindakan menggunakan barcode?
2. Bagaimanakah
proses pengolahan data pengkajian, penetapan diagnose, prioritas tindakan dan
evaluasi menggunakan software asuhan
keperawatan?
3. Bagaimana
proses akses data integrasi barcode dan software asuhan keperawatan dengan
sejawat, keluarga pasien dan instansi kesehatan?
3.7 Studi Literatur
1. Penggunaan
QR Code untuk identifikasi pasien dan penghitungan jasa keperawatan,
2. Penggunaan
Software asuhan keperawatan untuk pengolahan data pasien,
3. Proses
akses data integrasi barcode dan software asuhan keperawatan dengan sejawat,
keluarga pasien dan instansi kesehatan.
BAB
IV
PEMBAHASAN
4.1 Penggunaan QR Code dan Software Aplikasi
Penggunaan QR Code dan Software
Aplikasi di jelasakan seperti pada alur berikut ini:
Gelang
QR Code à Sistem Pemindai dalam Aplikasi à Akses Data Pasien à Aplikasi Asuhan
keperawatan Mobile à Aplikasi Asuhan Keperawatan Pengolah Data (Komputer) à Pendistribusian Intervensi Perawat à Tindakan pada pasien à Validasi Pasien sebelum dan sesudah tindakan à Dokumentasi Otomatis Oleh Sotware dan Barcode.
4.1.1
Penanaman QR Code Pada Gelang Pasien
Gelang QR Code
diberikan kepeda pasien saat registrasi masuk rumah sakit (MRS) pertama kali, dan
jika pasien yang sama telah pernah masuk ke rumah sakit akan menggunakan kode
yang sama. Dengan sistem ini data riwayat penyakit dan waktu berobat terakhir
di rumah sakit dapat diakses sebagai pertimbangan dalam menentukan diagnose dan
intervensi perawatan. Pendasaran pembuatan kode unik QR Code didasarkan pada
nomer kartu tanda penduduk (KTP) pasien.
Gelang QR Code
ditanamkan pada gelang pasien yang terbuat dari bahan kertas/plastic yang kedap
air, sehingga memungkinkan untuk dikenali dan diidentifikasi sebelum dan
sesudah tindakan. Pemakaian bahan yang kedap air menghindari terjadinya
kerusakan pada gelang karena cairan infus, obat, air dan sebagainya.
QR Code akan
memberikan akses link khusus pada suatu jaringan software aplikasi yang ada
pada PDA/Smarthpone dari perawat. Akses tersebut bertautan dengan lembar
pengkajian baru, lembar riwayat asuhan keperawatan (jika sudah pernah dirawat),
dan akses resume dokumentasi yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu
(recent intervention).
Fungsi khusus
QR Code selain sebagai kode identifikasi juga sebagai kode validasi tindakan.
Software aplikasi yang terpasang pada Smarthpone akan meminta verifikasi kode
dari QR Code tersebut sebelum dan sesudah tindakan dilakukan. Sehingga proses
pemindaian kode QR pada pasien dilakukan
sebelum tindakan untuk memastikan pasien, sedangkan pemindaian setalah
tindakan untuk memvalidasi bahwa agenda tindakan telah dilakukan.
Fungsi Validasi
tindakan dengan QR Code terhubung langsung dengan fungsi penghitungan biaya
perawatan, penghitungan bahan perawatan (stock) yang telah digunakan dan sisa
bahan perawatan yang masih tersedia, serta penghitungan jasa pada perawat yang
telah selesai melakukan tindakan (user aplication).
4.1.2
Proses Pemindaian QR Code Pada PDA/Smarthpone Perawat
Aplikasi
pemindai QR Code telah terintegrasi sebagai aplikasi asuhan keperawatan mobile.
Aplikasi ini dirancang dapat dipasang pada vendor Sistem Operasi berbagai
Smarthpone yang ada dipasar Indonesia seperti Android, Symbian, Windows Mobile
dan lainya.
Pemindaian kode
QR dapat dilakukan dengan dua cara yakni dengan kamera yang telah ada pada
smartphone atau dengan input kode digit manual sebagai alternatifnya. Kode QR
dapat mendukung proses pindai dengan berbagai posisi sudut 360 derajat,
sehingga memungkinkan pemindaian dilakukan dalam semua posisi pasien.
Pemindaian kode QR akan menampilkan
pada 3 pilihan akses interface:
a. Akses pengkajian keperawatan
lembar baru
Akses ini digunakan bagi perawat
untuk melakukan pengkajian keperawatan pada pasien baru MRS, pengkajian ini
dilakukan dengan panduan pengkajian komprehensif sesuai pilihan kasus
departemen keperawatan. Format pengkajian memuat kolom-kolom pilihan
terprogram, dan kolom isian catatan manual. Format pilihan terprogram mengacu
pada system klasifikasi bersifat umum, seperti jumlah cairan yang masuk (input
cairan) perhari dengan anak pilihan a.
<0.5 L, b. 0.5-1 L, c. 1-1.5 L d. 1.5-2 L e. >2L. dsb. Sedangkan kolom
pengkajian uraian diperlukan untuk memberikan catatan-catatan khusus yang tidak
terdapat pada program pilihan,
b.
Akses Re-Assesment atau pengkajian ulangan dan
evaluasi intervensi keperawatan.
Pengkajian ulangan adalah pengkajian
yang dilakukan untuk mengkaji ulang hasil tindakan keperawatan sebelumnya.
Fokus pada diagnose dan tindakan yang telah dilakukan oleh perawat sebelumnya
dengan melihat progress dan prognosis dari masalah yang dihadapi, penilaian
diagnose ulang, atau penetapan diagnose baru. Sedangkan evaluasi intervensi
memberikan gambaran grafik perkembangan atas suatu diagnose berdasarkan
tindakan yang diangkat. Berupa grafik dan angka statistic perkembangan
kesehatan dan penyakit pasien,
c.
Resume tindakan
yang baru saja dilakukan.
Resume tindakan menampilkan daftar
tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu yang
ditetapkan, daftar tindakan tersebut memberikan informasi waktu tindakan,
durasi tindakan, stock bahan perawatan yang telah digunakan, biaya tindakan
pasien dan tanda identitas perawat yang melaksanakan.
4.2 Penggunaan Software Aplikasi Manajemen Asuhan
Keperawatan
Software
aplikasi asuhan keperawatan dibagi menjadi 2 bagian:
4.2.1
Aplikasi yang dipasang pada Smarthpone
Aplikasi pada
smartphone dipasangkan pada system operasi yang ada pada Smartphone semisal
Android, Windows Phone dsb, adapaun fitur aplikasi asuhan keperawatan mobile
meliputi :
a. Sistem identifikasi pemindai QR Code
b. Sistem input data pengkajian
c. Sistem monitoring perkembangan diagnose
d. Sistem dokumentasi tindakan
e. Sistem pengingat dan pengagendaan kegiatan
f. Sinkornisasi data dengan Aplikasi pengolah pada
komputer
Adapun alur
perpindahan data dari data mentah (raw data) pasien hingga data tindakan di
urutkan sebagai berikut:
Data pengkajian
pasien à sinkronisasi data à pengolahan data
pengkajian à Diagnosa à Rencana Tindakan
à Prioritas Tindakan à Daftar Tindakan Keperawatan à Sinkronisasi hasil olah data à Aplikasi Asuhan Keperawatan Mobile.
4.2.2
Aplikasi Pengolah Database Pada Komputer Ruangan
Aplikasi pengolah
database merupakan system perangkat lunak yang memiliki fungsi khusus dalam
mengolah proses asuhan keperawatan pada pasien. Ada 2 klasifikasi fungsi utama
dalam aplikasi ini yakni:
4.2.2.1
Fungsi Internal
Fungsi internal
adalah fungsi khusus apliaksi yang memberikan pengolahan data pasien, mengolah
input data pengkajian dari aplikasi mobile menjadi rumusan diagnose, penetapan
prioritas intervensi, perincian tindakan keperawatan, database asuhan
keperawatan yang dapat menjadi pedoman dalam melakuakn tindakan, arsip Standar
Operasional Prosedur, Arsip komunikasi informasi dan edukasi pasien,
Dsb yang
termaksud di bab 1.
4.2.2.2 Fungsi
Eksternal
Fungsi eksternal tehubung dengan system Database jaringan
internet rumah sakit. Fungsi eksternal memungkinkan data kelolaan dapat
menunjang komunikasi dan peran kolaborasi perawat dengan sejawat profesi lain.
Fungsi eksternal memiliki presentasi kasus pasien, akses
konsultasi dengan sejawat lain, dan akses informasi dasar/awam bagi keluarga
pasien atau yang berkepentingan.
4.3 Pendistribusian Intervensi Keperawatan
Distribusi
intervensi adalah system manajemen dalam pembagian tugas asuhan keperawatan
yang didasarkan pada kiat dan ilmu keperawatan untuk menghasilkan kinerja dan kerja
perawat yang efektif dan efisien. Distribusi intervensi memungkinkan antar
perawat saling membagi tugas dalam melakukan tindakan berupa pedoman dan acuan
agenda tindakan yang harus dilakukan oleh perawat berdasar diagnose yang telah
ditegakan.
Proses distribusi Intervensi ini
adalah kebalikan dari system input data pengkajian yang akan diolah dalam
database komputer. Proses distribusi akam mengirimkan rincian hasil olahan data
berupa daftar dan pedoman tindakan yang akan dilakukan perawat dalam waktu tertentu.
Data dari komputer akan dikirim kedalam Smartphone menggunakan fitur
sinkronisasi.
Didalam Smartphone akan ditampilkan
daftar jadwal tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat. Jadwal
tersebut dilengkapi dengan system alarm yang membantu memberikan tanda kepada
perawat bahwa tindakan tersebut telah waktunya untuk dilakukan.
Sistem validasi tindakan ada pada
fitur ini, yakni sebelum melakukan tindakan perwat diharuskan untuk
mengaktifkan aplikasi mobile dan memilih jenis tindakan yang akan dilakukan
pada pasien. Dengan mengaktifkan jenis tindakan yang akan dilakukan, aplikasi
akan secara otomatis terhubung dengan system validasi pemindai guna
memverifikasii bahwa telah ditetapkan pada pasien yang benar.
Selanjutnya, perawat melaksanakan
tindakan hingga selesai sesuai standar operasional prosedur rumah sakit.
Setelah selesai tindakan, perawat mengaktifkan aplikasi kembali dengan memilih
jenis tindakan yang telah dikatifkan tadi, selanjutnya akan diminta pindaian
verifikasi bahwa tindakan telah selesai dilakukan.
4.4 Kesiapan Teknologi Untuk
Diterapkan
a.
Hard Ware
1) Perangkat keras berupa PC / CPU pada masing-masing ruang
implementasi, yang terhubung dengan jaringan. Internet, terpasang di semua
ruang pelayanan keperawatan dan link ke seluruh satuan kerja yang ada di RS mulai
dari front ofice sampai back ofice.
2) Printer digunakan untuk mencetak dokumen yang telah
dibuat. Semisal dischard planning
3) PDA atau Smartphone digunakan untuk identifikasi scanning
serta memasukan data-data saat pengkajian di samping pasien.
b.
WiFi
Wifi adalah
perangkat keras untuk menghubungkan Smartphone, dan Komputer dengan jaringan,
sehingga tidak mengunakan kabel, tapi dengan wireless.
c.
Soft Ware
Program ini disusun dan dibuat
disesuaikan dengan out put yang ingin dicapai sesuai dengan rencanan
pengembanagan.
d.
Brain Ware
Pembentukan Mind Set bukan sesuatu
yang mudah bagi perawat. Ini merupakan tantangan bagi jajaran tenaga
keperawatan mampu beradaptasi dengan perkembangan jamam.
4.5 Keunggulan Inovasi
4.5.1 Kelebihan Kode QR
Kode QR memiliki kapasitas tinggi dalam
data pengkodean, yaitu mampu menyimpan semua jenis data, seperti data numerik,
data alphabetis, kanji, kana, hiragana,simbol,dan kode biner.
Secara spesifik, kode QR mampu menyimpan data jenis numerik sampai dengan 7.089
karakter, data alphanumerik sampai dengan 4.296 karakter, kode binari sampai
dengan 2.844 byte, dan huruf kanji sampai dengan 1.817 karakter. Selain itu
kode QR memiliki tampilan yang lebih kecil daripada kode batang. Hal ini dikarenakan
kode QR mampu menampung data secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu
secara otomatis ukuran dari tampilannya gambar kode QR bisa hanya seperspuluh
dari ukuran sebuah kode batang. Tidak hanya itu kode QR juga tahan terhadap
kerusakan, sebab kode QR mampu memperbaiki kesalahan sampai dengan 30%. Oleh
karena itu, walaupun sebagian simbol kode QR kotor ataupun rusak, data tetap
dapat disimpan dan dibaca. Tiga tanda berbentuk persegi di tiga sudut memiliki
fungsi agar simbol dapat dibaca dengan hasil yang sama dari sudut manapun
sepanjang 360 derajat.
4.5.2
Keunggulan Aplikasi Manajemen Asuhan
Keperawatan
Software asuhan keperawatan memiliki keunggulan diantaranya:
1. Aplikasi asuhan keperawatan mobile merupakan inovasi terbaru
dalam pengkajian pasien yang praktis dan komprehensif,
2. Sistem sinkronisasi memungkinkan terciptanya perpindahan
data yang aman dan cepat,
3. Teknologi pemindai QR Code yang langsung terintegrasi dengan
akses aplikasi di dalam Smartphone
memudahkan penggunaan aplikasi mobile asuhan keperawatan tanpa menjalani
koneksi ke internet,
4. Aplikasi asuhan keperawatan mobile memiliki fungsi
menyeluruh sebagai aplikasi penyedia layanan identifikasi, informasi, pengingat
agenda dan validasi pasien,
5. Aplikasi asuhan keperawatan komputer memuat data base
diagnose, pilihan intervensi yang telah berstandar internasional sehingga
kualitas keilmuan sebagai pedoman tindakan tidak diragukan,
6. Memudahkan perawat dalam mengolah data pengkajian pasien dengan
lebih cepat, akuntabel dan berkesinambungan,
7. Sistem distribusi intervensi yang sistimatis dan efisien
meningkatkan hasil tindakan yang akurat dan memperkecil terjadinya kelalaian.
4.5.3
Keunggulan Finansial
Penggunaan
teknologi integrasi aplikasi asuhan keperawatan dengan QR Code ini tidak
memerlukan investasi yang besar. Pada dasarnya hanya membutuhkan Komputer
disetiap ruangan untuk proses pengolahan data, sedangkan untuk pengadaan
Smartphone dapat dilakukan sendiri secara swadana oleh masing-masing perawat
mengingat sudah maraknya pengguna smartphone termasuk oleh perawat. Teknologi
cetak kode pada gelang juga ekonomis hanya membutuhkan biaya Rp. 200 per
gelangnya.
4.5.3
Keunggulan Akses Data
Akses data
keperawatan dengan keluarga pasien atau dengan tim kesehatan lain juga
merupakan wujud eksistensi dan aktualisasi dari ilmu dan peran keperawatan.
Kemudahan dalam membagi informasi dalam jaringan networking lingkup rumah sakit
menjamin terciptanya komunikasi dan peran kolaborasi yang lebih baik. Data
pasien dapat diakses oleh tim kesehatan lain menggunakan teknologi
komputerisasi atau Smartphone lewat akses penyimpanan data terintegrasi dalam
networking cloud rumah sakit. Akses data yang dilakukan oleh keluarga
berkontribusi memberikan layanan prima untuk memberikan informasi terkini akan
kondisi pasien, sehingga keluarga pasien dapat mengetahui kondisi keluarga yang
sakit dimanapun dan kapanpun.
4.6
Kerjasama Antar Bidang Dalam Pengembangan
4.6.1 Perawat Dan
Orgnaiasi Profesi
Perawat sebagai
pengguna diharapakan mampu mengoptimalkan fungsi kerja dari system yang telah
dirancang, penggunaan inovasi yang sesuai dengan pedoman dan petunjuk akan sangat
signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan, selain itu update
informasi dan bidang keilmuan keperawatan berkontribusi dalam pengembangan database
software aplikasi dalam pembuat versi berikutnya
4.6.2 Ahli Bidangn
Informatika
Pembuatan
system pemindaian dan system olah data keperawatan mutlak perlu dikembangkan
oleh ahli teknologi dan informatika. Pengembangan ini diharapkan lebih kearah optimalisasi
pembuatan fitur yang friendly dan mudah dioperasikan oleh perawat.
4.6.3 Pengusaha
Pelaku usaha
berperan dalam menjadikan inovasi ini sebagai proyek bisnis penyedia layanan
instalasi dan penyedia suplay software di seluruh rumah sakit yang sesuai dan membutuhkan,
pengusaha juga bisa menjadi inti pelaku kerja pengembangan inovasi secara
keseluruhan yang berkelanjutan.
Inovasi
integrasi software dan barcode asuhan keperawatan ini dapat menjadi suatu Technopreneurship yang sangat potensial,
memiliki target pasar yang sangat besar yakni seluruh rumah sakit yang telah
memiliki ruang rawat representatif, juga peluang kompetisi yang masih nihil dan
investasi awal bisnis yang terjangkau.
4.6.4 Kementerian
Kesehatan
Pemerintah
memiliki peranan dalam membuat kebijakan pengembangan dan penggunaan inovasi
dalam program kerjanya. Dengan kebijakan dari pemerintah pengadaan inovasi ini
menjadi suatu agenda yang sangat luar biasa.
4.7
Resiko Yang Mungkin Muncul
Risiko yang mungkin muncul yakni kurangnya daya terima
perawat terhadap kemajuan teknologi baru. Namun permasalahan tersebut mudah
diberikan solusi dengan sosialiasi melalui pelatiahan-pelatihan terpadu, membuat
ruang prototype sebagai percontohan, buku pedoman penggunaan system.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan
antara lain :
a. Penggunaan
integrasi system software dan barcode merupakan
inovasi dalam identifikasi dan validasi pasien, pengolahan data, dokumentasi dan
akses data eksternal baik kepada sejawat maupun keluarga pasien,
b. Penggunaan QR Code dan Software Aplikasi seperti pada
alur berikut ini:
Gelang QR Code à Sistem Pemindai dalam Aplikasi à Akses Data Pasien à Aplikasi Asuhan
keperawatan Mobile à Aplikasi Asuhan Keperawatan Pengolah Data (Komputer) à Pendistribusian Intervensi Perawat à Tindakan pada pasien à Validasi Pasien sebelum dan sesudah tindakan à Dokumentasi Otomatis Oleh Sotware dan Barcode,
c. Inovasi integrasi
barcode dan software Asuhan Keperawatan sangat potensial dijadikan program technopreneurship, dengan target pasar
yang sangat besar yakni seluruh Rumah Sakit atau Klinik Perawatan yang
representative, kompetitor yang masih nihil, dan biaya investasi yang
terjangkau.
5.2 Saran
SDM keperawatan perlu mempersiapkan
diri dengan pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan teknologi informasi
khususnya pengembangan integrasi barcode dan software asuhan keperawatan.
Evalusi berkelanjutan terhadap program yang akan dikembangkan merupakan agenda
yang mutlak untuk dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Ammenwerth
E,
Eichstädter
R,
Haux
R,
Pohl
U,
Rebel
S,
Ziegler
S
(2001). A randomized evaluation of a
computer-based nursing documentation system. Jurnal 12001 May;40(2):61-8.Department of Medical
Informatics, University of Heidelberg, Germany.
Ammenwerth
E,
Mansmann
U,
Iller
C,
Eichstädter
R
(2003). Factors affecting and affected by
user acceptance of computer-based nursing documentation: results of a
two-year study. J Am
Med Inform Assoc. 2003 Jan-Feb;10(1):69-84. University for
Health Informatics and Technology Tyrol, Innsbruck, Austria. elske.ammenwerth@umit.at
Ammenwerth, E., Eichstadter, R.,
Haux, R., Pohl, U., Rebel, S., and Ziegler, S., A randomized evaluation of a
computer-based nursing documentation system. Methods Inf. Med.
40(2):61-68, 2001.
Cornelia Mahler,
Elske Ammenwerth,
Andreas Wagner,
Angelika Tautz,
Torsten Happek,
Bettina Hoppe
and Ronald Eichstädter (2005). Effects
of a Computer-based Nursing Documentation System on the Quality of Nursing
Documentation. Journal of
Medical Systems. Volume 31,
Number 4, 274-282, DOI: 10.1007/s10916-007-9065-0
Davis, B. D., Billings, J. R., and
Ryland, R. K., Evaluation of nursing
process documentation. J. Adv. Nurs. 19(5):960-968, 1994.
Goossen, W. T., Epping, P. J., and
Dassen, T., Criteria for nursing information systems as a component of the
electronic patient record. An international Delphi study. Comput. Nurs.
15(6):307- 315, 1997
Hendrickson
G,
Kovner
CT.
(1990). Effects of computers on nursing
resource use. Do computers save nurses time? Center for Medical Informatics,
New York, NY 10032. 1990 Jan-Feb;8(1):16-22.
Henry
SB, Mead CN. Nursing classification systems: Necessary but not sufficient
for representing "What nurses do" for inclusion in computer-based
patient record systems. J Am Med Inform Assoc 1997;4:222-32.
Kaminski
J. Nursing informatics and nursing culture: Is there a fit? [editorial]Online
Journal of Nursing Informatics. Oct 2005. Diperoleh dari: URL: http://eaaknowledge.com/
ojni/ni/9_3/june.htm.
Larrabee, J. H., Boldreghini, S.,
Elder-Sorrells, K., Turner, Z. M., Wender, R. G., and Hart, J. M. et al.,
Evaluation of documentation before and after implementation of a nursing
information system in an acute care hospital. Comput. Nurs. 19(2):56-65,
2001
Nahm, R., and Poston, I.,
Measurement of the effects of an integrated, point-of-care computer system on
quality of nursing documentation and patient satisfaction. Comput. Nurs.
18(5):220- 229, 2000.
Ozbolt JF, Schultz II S,
Swain MA, Abraham II. A proposed expert system for nursing practice:
A springboard to nursing science. Journal of Medical Systems 1985;9:175-85.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar