PROPOSAL
POLYTECHNIC’S EVENT
& RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP of HEALTH (PERTH)
TAHUN 2013
Formulasi Sirup “Edukasi”
(Ekstraksi Daun Katuk Kaya Besi)
untuk Penanganan
Anemia Defisiensi Zat Gizi Besi pada Ibu Hamil

PENYUSUN :
1. Achmad Tirmidzi NIM: 1201100054
2. Dedy Setiawan NIM: 1203410042
3. Windi Ainnur Rahima NIM: 1202100061
KEMENTERIAN KESEHATAN
RI
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES MALANG JURUSAN
KEPERAWATAN, GIZI DAN KEBIDANAN
TAHUN 2013

i

ABSTRAK
Penyebab
langsung kematian ibu hamil adalah perdarahan 28%, eklampsia 24%, dan infeksi
11%. Penyebab tidak langsung adalah anemia 51% (Depkes, 2007). Anemia dalam
kehamilan adalah kondisi ibu hamil dengan kadar haemoglobin di bawah 11 gr% pada
trimester 1 dan 3 atau kadar haemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester 2.
Kehamilan dengan anemia dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan,
persalinan dan nifas. Di Indonesia anemia disebabkan karena defisiensi zat gizi
mikro (micronutrient) dengan penyebab
terbanyak defisiensi zat besi. Upaya pemerintah untuk mengatasi masalah ini
adalah dengan program pemberian tablet zat besi pada ibu hamil, yang sudah
dijalankan sejak tahun 1970. Hasilnya terjadi penurunan kasus anemia, namun
belum signifikan dan masih tergolong tinggi.
Daun
katuk (Sauropus androgynus),
merupakan bahan alami yang ditengarai dapat mengatasi anemia defisiensi zat
besi. Kandungan zat gizi pada daun katuk (Sauropus
androgynus) per 100 gram menurut DKBM (2010)
adalah Fe 3
mg, protein 4,8
gr, dan vitamin C 239 mg.
Penelitian
ini merupakan penelitian eksperimen dengan menerapkan desain penelitian
Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan faktor tunggal.
Hasil
formulasi dalam satu kemasan sirup “edukasi” berukuran 210 cc diperoleh
proporsi 40%
daun katuk dan
60% madu. Dari
perhitungan ini dapat diambil kesimpulan bahwa daun katuk di sekitar kita yang
memiliki nilai jual rendah itu dapat diformulasikan sebagai sirup “edukasi”
untuk penanganan anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.
Kata
Kunci: Anemia, Daun Katuk, dan Formulasi
Sirup “Edukasi”.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah
memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Formulasi Sirup “Edukasi” (Ekstraksi Daun Katuk Kaya Besi) untuk Penanganan
Anemia Defisiensi Zat Gizi Besi Pada Ibu Hamil”. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan
Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan berkat adanya bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah peneliti
menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak/Ibu :
1.
Tri Anjaswarni Harsono, S.Kp., M.Kep selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang.
2.
I Dewa Nyoman Supariasa, Mps. selaku Ketua Jurusan Gizi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
3.
Temu Budiarti, S.Pd., M.Kes selaku Ketua
Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
4.
Agus Heri Santoso, S.Tp., M.si selaku pembimbing I yang dengan penuh kesabaran meluangkan
waktu untuk memberikan petunjuk, bimbingan, dan pengarahan dalam penyusunan
Karya Tulis Ilmiah ini.
5.
Sri Mudayati N. S.Kp., M. Kes selaku pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan
dan pengarahan hingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.
6.
Semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini baik secara langsung maupun tidak
langsung, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
peneliti menyadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu peneliti mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga dapat digunakan dalam
memperbaiki dan menyempurnakan di masa mendatang. Semoga Karya Tulis Ilmiah
ini dapat bermanfaat bagi teman sejawat kesehatan. Atas kekurangan yang ada
dalam Karya Tulis Ilmiah ini mohon kiranya dimaklumi.
Malang, 30 Oktober 2013
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................... i
LEMBAR ORISINALITAS ...................................................................................... ii ABSTRAK ............................................................................................................. iii KATA PENGANTAR .............................................................................................
iv DAFTAR
ISI
..........................................................................................................
v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................
2
1.3 Tujuan ................................................................................
3
1.4 Target Sasaran ...................................................................
3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Berfikir ...................................................................
4
2.2 Daun Katuk .........................................................................
5
2.3 Madu ................................................................................... 6
2.4 Anemia dalam Kehamilan.................................................... 7
2.5 Zat Besi ...............................................................................
8
2.6 Hubungan Antara Anemia dengan Daun Katuk ...................
10
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian............................................... 11
3.2 Tempat dan Waktu ............................................................
11
3.3 Variabel ............................................................................. 11
3.4 Alat dan Bahan .................................................................. 12
3.5 Jenis dan Metode
Pengumpulan Data ............................... 13
3.6 Pengolahan Data ...............................................................
14
3.7 Metode Pelaksanaan
Penelitian ........................................ 16
3.8 Keunggulan Teknologi ......................................................
16
3.9 Resiko yang Mungkin Muncul
........................................... 17
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Total Padatan Terlarut................................... 18
4.2 Karakteristik Daun Katuk ................................................... 19
4.3 Karakteristik Kadar Vitamin C ............................................ 20
4.4 Karakteristik Kadar Protein ................................................ 20
4.5 Formulasi Sirup “Edukasi”.................................................. 20
4.6 Analisa SWOT ................................................................... 23
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan........................................................................ 25
5.2 Saran
...............................................................................
26
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
27
LAMPIRAN-LAMPIRAN
........................................................................................
29
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Penyebab
langsung kematian ibu hamil adalah perdarahan 28%, eklampsia 24%, dan infeksi
11%. Penyebab tidak langsung adalah anemia 51% (Depkes, 2007). Anemia kehamilan
disebabkan oleh hemodilusi karena peningkatan volume plasma darah sehingga
konsentrasi haemoglobin
rendah. Prawirohardjo (2005) menyatakan bahwa volume darah (serum darah) meningkat sebesar 25 – 30%. Jumlah serum darah lebih besar dari
pertumbuhan sel darah yang meningkat sebesar 20%, sehingga terjadi semacam
pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu.
Kehamilan
dengan anemia dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan, persalinan dan
nifas. Prevalensi anemia yang tinggi berakibat negatif seperti: 1) Gangguan dan
hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. 2) Kekurangan haemoglobin dalam darah mengakibatkan
kurangnya oksigen yang dibawa atau ditransfer
ke sel tubuh maupun ke otak (Manuaba, 2001). Keadaan ini dapat meningkatkan
morbiditas maupun mortalitas ibu dan anak.
Di
Indonesia anemia disebabkan karena defisiensi zat gizi mikro (micronutrient) dengan penyebab terbanyak
defisiensi zat besi. Anemia defisiensi
zat besi lebih cenderung berlangsung di Negara yang sedang berkembang.
Diperkirakan 36% atau kira-kira 1400 juta orang dari perkiraan populasi 3800
juta orang di Negara sedang berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan
prevalensi di Negara maju hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari
perkiraan populasi 1200 juta orang (Arisman,
2010). Adapun menurut Data dari Dinas Kesehatan kota Malang menunjukkan bahwa
pada tahun 2011 terdapat 35,67% ibu hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari
11g/dl dari total 300 ibu hamil.
Peningkatan
kebutuhan zat besi pada kehamilan hampir tiga kali lipat untuk pertumbuhan
janin dan keperluan ibu hamil (Depkes RI, 1999). Maka dari itu, anemia pada ibu
hamil merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Upaya
pemerintah untuk mengurangi angka kejadian anemia gizi besi pada ibu hamil
adalah dengan pemberian 90 tablet zat besi di tempat pelayanan kesehatan secara
gratis sejak tahun 1970. Tablet tersebut berisi 200 mg fero sulfat dan 0,25 mg
asam folat (setara dengan 60 mg besi dan 0.25 mg asam folat). Kebutuhan zat
besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin
plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil
membutuhkan 2-3 mg zat besi setiap hari selama kehamilannya (Manuaba, I.B.G,
2001).
Program
pemberian tablet zat besi pada ibu hamil sudah dijalankan sejak tahun 1970 dan
mengalami penurunan dalam kasus anemia. Pengumpulan data nasional pada Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, mencatat bahwa 63,5% perempuan hamil
menderita anemia. Angka ini menurun pada Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 1995, menjadi 50,5% dan menjadi 40,1% pada tahun 2001 (Depkes,
2007). Namun penurunan yang terjadi tidaklah signifikan dan masih tinggi jika
dibandingkan dengan negara maju. Hal ini disebabkan karena program pemerintah
tersebut kurang memperhatikan aspek lain. Misalnya bau khas tablet Fe yang
memperparah mual dan muntah pada ibu hamil, dan kurangnya efektifitas tubuh
untuk mengabsorpsi Fe karena tidak disertai faktor pendukung yang dapat
membantu absorpsi Fe seperti protein, Vitamin C, dan asam folat.
Indonesia
kaya akan SDA (sumber daya alam) yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
masalah anemia zat gizi besi pada ibu hamil. Salah satunya adalah memanfaakan
ekstrak daun katuk (Sauropus Androgynous).
Daun
katuk (Sauropus Androgynus) adalah
daun dari tanaman Sauropus Androgynus (L)
Merr, famili Euphorbiaceae, ordo malpighiales, kelas magnoliopsida, dan devisi magnoliophyta. Katuk banyak ditanam di
Asia Tenggara dan dimanfaatkan daunnya sebagai obat-obatan dan sayuran
(Santoso, 2008). Daun katuk mempunyai nilai gizi yang cukup baik, seperti
protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C (Poernomo, 2006). Menurut
DKBM (2010) di dalam 100
gram daun katuk segar
mengandung zat besi 3 mg, energi 59 kalori, protein 4,8 gr, dan vitamin C 239 mg. Dengan kandungan yang telah
disebutkan di atas, ekstraksi daun katuk dapat digunakan sebagai solusi alami
untuk penanganan anemia gizi besi pada ibu hamil.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk menciptakan formulasi sirup
“edukasi” (ekstraksi daun katuk kaya besi) untuk penanganan anemia defisiensi
zat gizi besi pada ibu hamil.
1.2.
Rumusan
Masalah
Bagaimana
formulasi sirup “edukasi” (ekstraksi daun katuk kaya besi) untuk penanganan
anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.
1.3 Tujuan
Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menghasilkan
formulasi sirup “edukasi” (ekstraksi daun katuk kaya besi) untuk penanganan
anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.
1.3.2 Tujuan Khusus
· Menganalisis
total padatan terlarut tertinggi pada Sauropus Androgynus
· Menganalisis kadar zat besi, protein, dan
vitamin C pada ekstraksi Sauropus Androgynus
· Formulasi sirup “edukasi”
· Menganalisis sifat
organoleptik pada sirup
“edukasi”
1.4 Target Sasaran
Target sasaran pada penelitian ini
adalah pemberdayaaan daun katuk di Malang Raya, khususnya warga sekitar
lingkungan Poltekkes Malang.
2.1 Konsep Berfikir
BAB II Tinjauan Pustaka
![]() |
2.1 Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
2.2.1 Pengertian Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
Katuk termasuk tanaman jenis perdu berumpun dengan ketinggian 3-5 m. Batangnya tumbuh tegak dan berkayu. Jika ujung batang dipangkas,
akan tumbuh beberapa tunas baru yang membentuk percabangan. Daunnya kecil-kecil mirip daun kelor,
berwarna hijau. Katuk termasuk tanaman yang rajin berbunga.
Bunganya kecil-kecil,
berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan,
dengan bintik-bintik merah. Bunga tersebut akan menghasilkan buah berwarna putih
yang di dalamnya terdapat biji berwarna hitam (Santoso, 2008).
2.2.2 Klasifikasi Katuk (Sauropus Androgynus)
Klasifikasi dari tanaman
katuk yaitu berasal dari Kingdom Plantae,
dari Divisi Magnoliophyta, dari Kelas
Magnoliopsida¸ dari Ordo Malpighiales, dari Famili Phyllanthaceae, dari Genus Sauropus, dan merupakan spesies Sauropus
androgynus.
Gambar
1.1 Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
2.2.3
Kandungan Gizi
Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
Kandungan
gizi daun katuk (Sauropus
Androgynus) tersaji
pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Kandungan zat gizi pada daun katuk (Sauropus Androgynus) per 100 gr Daftar
Komposisi Bahan Makanan (DKBM), 2010
|
No
|
Komponen Gizi (Satuan)
|
Kandungan
Gizi
|
|
1
|
Energi
(kkal)
|
59
|
|
2
|
Protein
(g)
|
4,80
|
|
3
|
Lemak
(g)
|
1,0
|
|
4
|
Karbohidrat
(g)
|
11
|
|
5
|
Kalsium
(mg)
|
204
|
|
6
|
Fosfor
(mg)
|
83
|
|
7
|
Besi
(mg)
|
3,0
|
|
8
|
Vitamin
C (mg)
|
239
|
|
9
|
β-Karoten
(μg)
|
0,1
|
Sumber: DKBM
Indonesia (2010)
2.2.4
Perkembangbiakan
Tanaman Katuk
Cara
perkembangbiakannya melalui stek batang
yang belum terlalu tua. Penanamannya dapat dilakukan di pekarangan sebagai pagar hidup.
Bila produksi daunnya tinggal sedikit, tanaman katuk dapat diremajakan dengan cara batang utamanya dipangkas.
2.2.5 Manfaat Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
a.
Pelancar Air Susu Ibu (ASI)
b.
Mengobati frambusia
c.
Mengatasi sembelit
d.
Menyembuhkan luka
e.
Pewarna alami
f.
Makanan dan minuman
3.3
Madu
2.3.1
Pengertian Madu
Madu adalah cairan alami yang umumnya mempunyai rasa
manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nektar)
atau bagian laindari tanaman (ekstra floral nektar) atau ekskresi serangga
(Badan Standarisasi Nasional, 2004).
2.3.2
Komposisi
dan Mutu Madu
Komposisi madu tercantum dalam Tabel 2.2
Tabel 2.2 Kandungan Zat Gizi Madu per 100 gram
|
No.
|
Zat Gizi
|
Jumlah (%)
|
|
1
|
Energi (kal)
|
304
|
|
2
|
Protein (gr)
|
0,3
|
|
3
|
Karbohidrat (gr)
|
82,3
|
|
4
|
Serat (gr)
|
0,1
|
|
5
|
Vitamin B6 (mg)
|
0,02
|
|
6
|
Vitamin C (mg)
|
1
|
|
8
|
Asam Folat (mg)
|
3
|
|
14
|
Zat besi (mg)
|
0,5
|
` Sumber
: Food & Nutrition Encyclopedia,1994
3.4
Anemia dalam
Kehamilan
2.4.1
Pengertian
Anemia dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi
ibu dengan kadar haemoglobin
di bawah 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar haemoglobin kurang dari 10,5
gr% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan wanita tidak
hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifuddin, 2002).
2.4.2
Penyebab Anemia
pada Ibu Hamil
Peningkatan sel darah dan volume darah
memiliki perbandingan: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah
dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya
dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini
untuk membantu meringankan kerja jantung
yang semakin berat dengan adanya kehamilan.
2.4.3
Gejala Dan Tanda Anemia Pada Ibu Hamil
Menurut Wibisono
(2009), anemia pada ibu hamil ditandai dengan gejala seperti: Pusing, wajah
pucat, merasa letih dan lemah, kurang nafsu makan, daya tahan tubuh menurun,
kebugaran tubuh menurun dan gangguan penyembuhan luka.
2.4.4
Klasifikasi Anemia Dalam Kehamilan
Klasifikasi
anemia dalam kehamilan menurut Wiknjosastro (2002), adalah Anemia Defisiensi
Besi, Anemia
Megaloblastik, Anemia
Hipoplastik, Anemia Hemolitik, dan Anemia-anemia lain.
2.4.5
Pengaruh Anemia Terhadap
Kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi
pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas
dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah:
keguguran (abortus), kelahiran prematur, persalinan yang lama akibat kelelahan
otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan
karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik
saat bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat
menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia
akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada
persalinan (Wiknjosastro, 2005;
Saifudin, 2006).
2.5
Zat Besi
2.5.2
Pengertian Zat
Besi
Besi adalah sebuah nutrien
esensial yang diperlukan oleh setiap sel manusia. Besi
dapat berperan sebagai pembawa
oksigen dan elektron serta sebagai katalisator
untuk oksigenisasi, hidroksilasi dan proses metabolik lainnya melalui kemampuan berubah bentuk antara fero (Fe2+) dan fase
oksidasi Fe3+. Jika terlalu sedikit besi
yang ada akan terjadi pembatasan sintesis
komponen yang mengandung besi aktif sehingga secara normal mungkin berbahaya. Demikian pula jika terlalu banyak besi terakumulasi dan melebihi kapasitas tubuh untuk mentransport dan menyimpannya akan menimbulkan
toksisitas besi yang selanjutnya memicu
terjadinya kerusakan dan kematian organ yang
luas. Besi di alam berasal dari sumber hewani dan nabati. Kualitas atau
bioavailibilitas besi yang dihasilkan dari kedua sumber zat besi tersebut juga
berbeda karena mempengaruhi kemampuan tubuh manusia untuk menyerap besi.
2.5.3
Absorbsi
Zat Besi
Besi yang berasal dari
makanan diserap dalam usus. Menurut Bakta (2000) proses absorbsi besi
dalam usus terdiri atas 3 fase yaitu:
2.5.3.1
Fase luminal.
Pada fase luminal ikatan besi dari bahan makanan
dilepaskan atau diubah menjadi bentuk terlarut
dan terionisasi. Kemudian besi dalam bentuk
feri (Fe3+) direduksi menjadi bentuk fero
(Fe2+) sehingga siap diserap usus. Dalam proses
ini getah lambung dan asam lambung memegang peranan penting. Absorbsi paling baik terjadi pada duodenum dan jejenum proksimal. Hal ini dihubungkan dengan jumlah reseptor pada permukaan usus dan pH usus. Di dalam usus, besi akan dibedakan menjadi:
a)
Besi hem: diserap secara langsung,
tidak dipengaruhi oleh bahan penghambat
maupun pemacu. Prosentase absorbsinya 10-25%
atau 4 kali dari besi non hem. Senyawa besi
hem terdapat dalam daging, ikan dan hati.
Besi hem ini diserap secara utuh dan setelah
berada dalam epitel usus (enterosit) akan dilepaskan
dari rantai porfirin oleh enzim haemoxygenase,
kemudian ditransfer ke dalam plasma atau
disimpan dalam ferritin.
b) Besi non hem: absorbsinya sangat dipengaruhi
oleh zat pengikat (ligand) yang dapat menghambat
ataupun memacu absorbsi.
-
Zat pemacu
Adalah zat-zat
yang mempertahankan besi agar tetap dalam keadaan terlarut. Bahan-bahan yang
bekerja sebagai pemacu utama ialah daging, ikan,
hati, asam askorbat atau vitamin C. Beberapa bahan yang terdapat dalam daging yang dikenal sebagai meat factor seperti asam amino, cysteine dan glutathion dapat meningkatkan
absorbsi besi melalui pembentukan soluble
chelate yang mencegah polimerisasi dan
presipitasi besi. Asam askorbat merupakan
bahan pemacu absorbsi yang sangat kuat yang
berfungsi sebagai reduktor yang dapat mengubah
feri menjadi fero, mempertahankan pH usus
tetap rendah sehingga mencegah presipitasi feri
dan bersifat sebagai monomeric chelator yang
membentuk iron-ascorbate chelate yang lebih
mudah diserap.
-
Zat penghambat atau
inhibitor
Adalah
zat yang membentuk kompleks yang mengalami presipitasi
sehingga besi sulit diserap. Zat penghambat absorbsi besi sebagian besar terdapat dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Penghambat paling kuat ialah senyawa polifenol seperti tanin dalam teh. Teh dapat menurunkan absorbsi sampai 80 % sebagai akibat terbentukknya kompleks besi-tanat. Kopi juga mengandung polipenol tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan teh. Bahan penghambat lain ialah phytate, bekatul, kalsium, posfat, oksalat dan serat (fibre) yang dapat membentuk
kompleks polemer besar.
2.5.3.2
Fase mukosal
Pada fase mukosal besi diserap secara aktif
melalui reseptor. Jika dosis terlalu besar besi
akan masuk secara difusi pasif. Dalam sel enterosit
besi akan diikat oleh suatu karier protein spesifik
dan ditransfer melalui sel ke kapiler atau disimpan dalam bentuk feritin dalam
enterosit kemudian dibuang bersamaan dengan
deskuamasi epitel usus.
2.5.3.3
Fase sistemik
Pada fase sistemik besi yang masuk ke plasma
diikat oleh apotransferin menjadi transferin
dan diedarkan ke seluruh tubuh, terutama ke
sel eritroblast dalam sumsum tulang. Semua
sel mempunyai reseptor transferin pada permukaannya.
Transferin ditangkap oleh reseptor ini dan
kemudian melalui proses pinositosis
(endositosis) masuk dalam vesikel (endosome)
dalam sel. Akibat penurunan pH, besi,
transferin dan reseptor akan terlepas dari ikatannya.
Besi akan dipakai oleh sel sedangkan reseptor
dan transferin dikeluarkan dan dipakai ulang.
Besar kecilnya penyerapan besi oleh usus ditentukan oleh faktor intraluminal dan faktor regulasi eksternal. Faktor intraluminal ditentukan
oleh jumlah besi dalam makanan, kualitas besi
(besi haem atau non haem), perbandingan jumlah
pemacu dan penghambat dalam makanan. Faktor regulasi luar ditentukan oleh cadangan besi tubuh dan kecepatan eritropoesis.
2.6
Hubungan Antara
Anemia dalam Kehamilan dengan Daun Katuk
Perubahan
fisiologis pada ibu hamil menyebabkan konsentrasi hemoglobin rendah, sehingga
ibu hamil mengalami anemia. Hal ini merupakan keadaan yang biasa terjadi,
tetapi jika dibiarkan begitu saja juga akan berakibat buruk baik bagi ibu
maupun janin. Meningkatnya kebutuhan zat besi pada ibu hamil harus terpenuhi
untuk menghindari komplikasi lebih lanjut yaitu sebesar 3 mg/hari. Untuk
mengimbangi kebutuhan itu, salah satu bahan alam yang bisa dimanfaatkan adalah
daun katuk (Sauropus androgynus) yang
berdasarkan penelitian Santoso (2008) mengandung Fe sebanyak 2,7-3,5 mg tiap
100 gram. Namun, zat besi pada daun katuk (Sauropus
androgynus) ini merupakan besi non hem yang absorbsinya
sangat dipengaruhi oleh zat pengikat
(ligand) yang dapat memacu ataupun
menghambat absorbsi. Zat pemacu adalah zat-zat yang mempertahankan besi
agar tetap dalam keadaan terlarut. Bahan-bahan
yang bekerja sebagai pemacu utama ialah daging,
ikan, hati, dan asam askorbat atau vitamin C. Asam askorbat
merupakan bahan pemacu absorbsi kuat yang berfungsi
sebagai reduktor yang dapat mengubah feri
menjadi fero, mempertahankan pH usus tetap
rendah sehingga mencegah presipitasi feri
dan bersifat sebagai monomeric chelator yang
membentuk iron-ascorbate chelate yang lebih
mudah diserap. Asam askorbat ini banyak ditemukan pada daun katuk (Sauropus androgynus) yaitu sebesar 239
mg tiap 100 gram.
Pada fase sistemik, besi yang masuk ke plasma
diikat oleh apotransferin menjadi transferin
dan diedarkan ke seluruh tubuh, terutama ke
sel eritroblast dalam sumsum tulang. Jelaslah peran apotransferin sangat
penting untuk distribusi besi. Penyusun dasar apotransferin adalah protein yang
juga banyak ditemukan pada daun katuk (Sauropus
androgynus), yaitu sebesar 4,80 gram tiap 100 gram.
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian
ini merupakan
penelitian eksperimen dengan menerapkan desain
penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan faktor tunggal. Pada tahap inkubasi, suhu ekstraksi merupakan faktor tunggal, dengan lima level suhu, yaitu suhu
40°C, 50°C, 60°C, 70°C, dan 80°C.
Sementara pada tahap formulasi faktor tunggalnya adalah daun katuk dengan berbagai
proporsi.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
Bulan September 2013 hingga Bulan November 2013, bertempat di:
1)
Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang untuk melakukan ekstraksi daun katuk dan mengetahui suhu
optimum inkubasi ekstrak daun katuk serta total padatan terlarut pada daun
katuk.
2)
Laboratorium Kimia Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang untuk uji kadar
protein dan vitamin C pada daun katuk serta untuk mengetahui sifat organoleptik
dan proporsi terbaik ekstrak daun katuk pada sirup “edukasi”.
3.3
Variabel Penelitian
3.3.1 Penelitian Tahap Pertama
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suhu inkubasi
ekstrak daun katuk yang optimal. Suhu inkubasi ini ada 5 level, mulai dari suhu
40°C, 50°C, 60°C, 70°C dan 80°C dengan perlakuan waktu yang sama yaitu 1 jam.
1) Variabel bebas: Suhu
Inkubasi Ekstrak Daun Katuk
2) Variable terikat: Total
Padatan Terlarut
3.3.2 Penelitian
Tahap Kedua
Penelitian kedua ini bertujuan untuk mengetahui sifat
organoleptik serta proporsi terbaik ekstrak daun katuk pada sirup “edukasi”.
Sebelumnya, kami melakukan uji kadar Fe, protein, dan vitamin C pada daun
katuk.
1)
Variabel bebas: Proporsi penambahan Ekstrak Daun
Katuk
2)
Variable terikat: Sifat Organoleptik
3.4 Alat dan Bahan
3.4.1 Alat
pada Penelitian Tahap Pertama
Alat
yang digunakan untuk menguji total padatan terlarut dalam daun katuk adalah sebagai berikut:
a. Blender
b. Tabung Erlemeyer
c. Neraca Ohaus
d. Sendok Makan
e. Inkubator
f. Kain Saring
g. Gelas Ukur
h. Pipet 100 ml
i. Corong
j. Handrefractometer tipe N
3.4.2
Bahan pada Penelitian Tahap Pertama
Bahan untuk penelitian tahap pertama adalah aquadest,
air, dan daun katuk yang kami dapatkan dari rumah warga di sekitar lingkungan
Poltekkes Kemenkes Malang. Kami hanya menggunakan daun katuk yang masih segar
tanpa disertai batangnya.
3.4.3 Alat pada Penelitian Tahap Kedua
Alat yang digunakan untuk menguji kadar protein dan
vitamin C pada penelitian tahap kedua ini adalah sebagai berikut:
a. Tabung Erlemeyer
b. Tabung Reaksi
c. Spektrofotometer
d. Pipet mikro liter
e. Tabung labu ukur
f. Pipet volum
g. Pipet
h. Tisu
i. Gelas beker
j. Biuret
k. Inkubator
Alat yang digunakan untuk formulasi dengan 3 proporsi
esktrak daun katuk yang berbeda pada penelitian tahap kedua ini adalah sebagai
berikut:
a. Kompor
b. Panci
c. Termometer Air
d. Botol kemasan
e. Gelas beker
3.4.4
Bahan pada Penelitian Tahap Kedua
Bahan yang
dibutuhkan untuk menguji kadar Protein dan Vitamin C adalah ekstrak daun katuk, aquadest,
reagen I, reagen II, Larutan Iodium (I²) 0,01 N, Asam sulfat 0,1 N, dan Indikator 2 ml. Sedangkan
bahan untuk formulasi adalah ekstrak daun katuk, air, madu, dan tablet Fe.
3.5
Jenis dan Metode Pengumpulan Data
3.5.1
Penelitian Tahap Pertama
Jenis penelitian yang kami lakukan adalah True
Eksperimen. Kelima sampel Ekstrak daun katuk mengalami perlakuan pemanasan
dengan waktu yang sama 1 jam dan suhu berbeda yaitu suhu 40°C, 50°C, 60°C, 70°C
dan 80°C. Pemanasan ini
berfungsi untuk menguapkan sebagian air sehingga diperoleh kekentalan dan mengetahui total padatan
terlarut. Proses pemanasan memerlukan kontrol
yang baik.
3.5.2
Penelitian Tahap Kedua
Jenis penelitian tahap
kedua ini juga True Eksperimen. Kami menguji kadar Fe, protein dan vitamin C
dengan metode sebagai berikut:
1) Fe
Kami
menggunakan pendekatan teoritis untuk menguji kadar Fe pada daun katuk, karena
keterbatasan dana untuk mendapatkan reagen.
2)
Protein
Metode
yang digunakan dalam penentuan kadar protein dalam sirup “edukasi” adalah
menggunakan metode Spektrofotometer (total protein). Sedangkan Prinsipnya bersama-sama
dengan ion tembaga, protein membentuk kompleks warna violet biru dalam larutan
alkali. Absorpsi warna berbanding lurus dengan konsentrasi.
3)
Vitamin C
Pengujian
kandungan vitamin C pada daun katuk menggunakan
metode Titrasi Iodium dengan indicator amilum. Prinsipnya ekstraksi
vitamin C dengan menggunakan aquadest, dilanjutkan titrasi iodimetri dengan
menggunakan indicator amilum.
Pada penelitian tahap kedua ini terdapat tiga formulasi dengan proporsi ekstrak daun katuk dan madu yang berbeda, dimulai dari proporsi 40% daun katuk + 60% madu, 35% daun katuk + 65% madu, dan 30% daun katuk + 70% madu. Ketiga formulasi itu akan diuji mutu organoleptiknya agar diperoleh formulasi terbaik
3.6 Pengolahan Data
Data
yang telah diperoleh selanjutnya diolah untuk mendapatkan informasi yang
dibutuhkan. Adapun pengolahan data yang telah diperoleh adalah sebagai
berikut:
a)
Perhitungan total padatan terlarut dalam ekstrak daun katuk. Total
padatan terlarut dihitung berdasarkan perbedaan suhu inkubasi. Total padatan
yang terpilih adalah 5% pada suhu inkubasi 40°C.
b)
Pengukuran kadar senyawa yang terlarut pada daun katuk, antara lain:
1)
Analisis kandungan Fe
Menurut Santoso (2008) kandungan Fe dalam 100 gram daun
katuk adalah 2,7-3,5 mg.
2)
Analisis kandungan Protein
1.
Menyiapkan larutan blanko dan larutan
standar 5 gram/dL masing-masing sejumlah 40µL dan tabung reaksi yang sudah
diberi label.
2.
Mengambil 40µL ekstraksi daun katuk
dan diletakkan di tabung reaksi, kemudian tambahkan 2000 reagen I melalui
dinding tabung reaksi kemudian diamkan (inkubasikan) pada suhu 20-25°C selama 5
menit.
3.
Setelah didiamkan selama 5 menit,
tambahkan reagen II sebanyak 500 dan diamkan lagi selama 5 menit.
4.
Siapkan spektometer dengan gelombang
540nm. Baca ekstraksi daun katuk yang telah diberi reagensia pada gelombang
tersebut dan catat hasilnya.
Hasil
Perhitungan Total Protein
Pada
pembacaan spektrofotometer dengan gelombang UV didapatkan angka absorban,
sehingga dapat dihitung kadar total Protein dalam sirup “edukasi”:
|
Pembacaan absorban
sampel
|
|
Pembacaan absorban
standart
|
Kadar
Total Protein= X
kadar standart
3)
Analisis kandungan Vitamin C
Ø Prosedur dengan pengenceran pertama:
1.
10 ml ekstraksi dimasukkan kedalam tabung labu 100 ml
2.
Tambahkan aquadest sampai 100 ml
3.
Pipet dengan menggunakan pipet volum sebanyak 20 ml masukkan kedalam
erlenmeyer.
4.
Tambahkan 5 ml Asam sulfat 0,1 N dan indikator 2 ml
5.
Titrasi dengan
larutan Iodium perhitungan:
% Vit. C
Ø Prosedur dengan pengenceran kedua:
1.
10 ml ekstraksi dimasukkan kedalam tabung labu 100 ml.
2.
Tambahkan aquadest sampai 100 ml.
3.
Pipet dengan menggunakan pipet volum sebanyak 10 ml masukkan kedalam
tabung labu 100 ml yang lain.
4.
Tambahkan aquadest sampai 100 ml.
5.
Pipet dengan menggunakan pipet volum sebanyak 20 ml masukkan kedalam
erlenmeyer.
6.
Tambahkan 5 ml Asam sulfat 0,1 N dan indikator 2 ml.
7.
Titrasi dengan
larutan Iodium perhitungan:
% Vit. C
c) Hubungan
antara variabel bebas dan terikat
1.
Uji padatan senyawa terlarut
Berdasarkan penelitian suhu terpilih adalah 40°C. Pada suhu tersebut senyawa terlarut
yang terkandung pada ekstraksi daun katuk mencapai angka tertinggi yaitu 5%.
2.
Uji formulasi
Proporsi ekstrak daun katuk yang
terdapat pada sirup “edukasi” merupakan proporsi yang didasarkan pada sifat
organoleptik pangan meliputi rasa,
warna, aroma, dan tekstur. Peralatan untuk analisis mutu organoleptik adalah
Formulir Kuisioner (Lampiran 1).
3.7 Metode pelaksanaan penelitian
![]() |
3.8 Keunggulan Teknologi
Sirup “edukasi” merupakan suatu inovasi terbaru yang
ditengarai dapat menangani
anemia
defisiensi
zat gizi
besi.
Bentuk
cair
(sirup) pada
sirup “edukasi” lebih menguntungkan
dari pada suplemen
Fe yang berbentuk tablet
maupun kapsul.
Hal
ini dikarenakan bentuk sirup
tidak mengalami proses
penghancuran
selama berada
disaluran cerna,
dan juga
tidak
mengalami
proses pemanasan tinggi dalam pengolahannya. Sirup “edukasi” selain
mengandung Fe alami (besi nonhem) juga disertai
dengan zat
pemacu penyerapan Fe diantarnya Vitamin C dan Protein.
Vitamin C
merupakan
bahan
pemacu
absorbsi kuat yang berfungsi sebagai reduktor yang dapat mengubah
feri menjadi fero, mempertahankan pH usus tetap rendah sehingga mencegah presipitasi feri dan
bersifat sebagai monomeric chelator yang membentuk iron-ascorbate chelate yang
lebih
mudah diserap. Protein sebagai bahan dasar
dari
apotranferin berperan sangat penting dalam distributor Fe.
3.9 Risiko yang Mungkin Muncul
Risiko yang mungkin muncul seiring dengan penggunaan sirup “edukasi” adalah adanya efek samping dan kontraindikasi yang pada penelitian ini masih belum bisa
kami
bahas. Dengan
begitu
bisa
dilakukan
penelitian tahap berikutnya untuk mengetahui efek samping serta kontraindikasinya.
BAB IV
Pembahasan
4.1 Karakteristik
Total
Padatan Terlarut
1.
Sampel
1:
Hasil perlakuan pertama dengan suhu
inkubasi 40°C didapatkan hasil total padatan 5% dengan tidak adanya perubahan
warna, tetap hijau tua. Hasil ini dinilai paling baik karena memiliki total
padatan tertinggi dari pada sampel 2,3,4, dan 5.
2.
Sampel
2:
Hasil perlakuan pertama dengan suhu
inkubasi 50°C didapatkan hasil total padatan 4,5% dengan adanya perubahan
warna, hijau muda.
3.
Sampel
3:
Hasil perlakuan pertama dengan suhu
inkubasi 60°C didapatkan hasil total padatan 2,5% dengan adanya perubahan
warna, hijau kekuningan.
4.
Sampel
4
Hasil perlakuan pertama dengan suhu
inkubasi 70°C didapatkan hasil total padatan 2,5% dengan adanya perubahan warna
kuning kecoklatan.
5. Sampel 5
Hasil perlakuan pertama dengan suhu
inkubasi 80°C didapatkan hasil total padatan 2,5% dengan adanya perubahan warna, coklat.
Dari pemanasan kelima sampel tersebut didapatkan total
padatan terlarut yang telah kami ranking sebagai berikut:
|
Suhu Inkubasi
|
Total Padatan Terlarut
|
|
40°C
|
5%
|
|
50°C
|
4,5%
|
|
60°C
|
2,5%
|
|
70°C
|
2,5%
|
|
80°C
|
2,5%
|
Sebagian
besar dari total
padatan terlarut itu diduga adalah protein. Pemanasan
yang menghasilkan
total padatan terlarut paling tinggi adalah suhu terendah yaitu 40°C. Hal ini sesuai dengan penyataan Winarno (1993) yang mengemukakan bahwa
dengan panas, protein dapat mengalami denaturasi yang menyebabkan struktur
berubah dari bentuk ganda yang kuat menjadi kendur dan terbuka. Denaturasi
dapat merubah sifat protein menjadi lebih sukar larut
dan makin kental ini disebut koagulasi.
4.2 Karakteristik Ekstrak Daun Katuk
4.2.1
Warna
Ekstrak Daun Katuk
Pemanasan dengan suhu yang
berbeda-beda pada ekstrak daun katuk menyebabkan perubahan warna hingga menjadi
kecoklatan. Ekstrak daun katuk awalnya berwarna hijau, yang menandakan adanya
klorofil. Klorofil adalah pigmen berwarna hijau yang terdapat dalam kloroplas bersama-sama
dengan karoten dan xantofil pada semua makhluk hidup yang mampu melakukan
fotosintesis.
Terdapat reaksi yang dapat
menjelaskan degradasi pigmen klorofil, yaitu reaksi peofitinasi. Reaksi
peofitinasi adalah reaksi pembentukan peofitin. Peofitin adalah bentuk klorofil
yang kehilangan ion Mg2+ sehingga warna yang diekspresikan bukan
hijau melainkan hijau kecoklatan. Reaksi peofitinasi ini dapat terjadi ketika
klorofil diperlakukan dengan asam. Ion Mg2+ yang berada di
tengah-tengah molekul akan lepas dan digantikan oleh ion hidrogen. Reaksi ini
akan berjalan lebih cepat lagi jika terkena panas. Panas mempercepat reaksi
peofitinasi karena panas dapat mendenaturasi protein. Pada matriks tanaman
klorofil terdapat dalam bentuk berikatan dengan molekul protein. Ketika daun
dipapar dengan panas, misalnya direbus, protein yang melindungi klorofil akan
terdenaturai sehingga klorofil berada dalam bnetuk bebas. Klorofil bebas
bersifat tidak stabil dan mudah diserang oleh asam. Akibatnya Mg yang terdapat
di dalam molekul klorofil dapat dengan mudah digantikan oleh ion hidrogen.
4.2.2
Tekstur
Ekstrak Daun Katuk
Setelah dilakukan
pemanasan dengan suhu yang berbeda, ditemukan tekstur ekstrak daun katuk yang
beragam. Semakin tinggi suhu pemanasannya, semakin rendah kepekatannya. Hal ini
terbukti saat diuji dengan alat handrefraktometer. Berdasarkan uji yang
dilakukan suhu inkubasi 40°C menghasilkan total padatan terlarut sebesar 5%
.
4.3 Karakteristik Kadar Vitamin C
Pengenceran Pertama:
a)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi
40°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 1,408 x 10-3 %
b)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 50°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 1,408 x 10-3 %
c)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 60°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 1,232 x 10-3
%
d)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 70°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 1,408 x 10-3 %
e)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 80°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 1,584 x 10-3
%
Pengenceran Kedua:
a)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 40°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 0,352 x 10-4
%
b)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 50°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 0,352 x 10-4
%
c)
Sampel
ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 60°C langsung terjadi perubahan saat diberi indikator amilum (belum
dititrasi), sudah 3x percobaan
d)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 70°C memiliki kadar
Vitamin C sebesar 0,528
x 10-4 %
e)
Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu
inkubasi 80°C memiliki kadar Vitamin C
sebesar 0,352 x 10-4
%
4.4
Karakteristik
Kadar Protein
Pada pembacaan spektrofotometer
dengan gelombang UV didapatkan:
a)
Suhu inkubasi 40°C
mengandung 4,50 gram
b)
Suhu inkubasi 50°C
mengandung 4,26 gram
c)
Suhu inkubasi 60°C
mengandung 3,80 gram
d)
Suhu inkubasi 70°C
mengandung 2,68 gram
e)
Suhu inkubasi 40°C
mengandung 2,39 gram
4.5
Formulasi
Sirup Edukasi
Kebutuhan
ibu hamil akan zat besi adalah 3 mg/hari, hal ini dapat dipenuhi dengan
konsumsi zat besi sejumlah 30 mg, karena mempertimbangkan bioavabilitas maksimal besi non hem
yaitu 10% meskipun
sudah dengan penambahan Protein dan Vitamin C.
Satu botol sirup
“edukasi” diharapakan dapat
memenuhi kebutuhan zat besi ibu hamil dalam satu minggu. Takaran yang digunakan
dalam setiap konsumsi yaitu
10 ml dengan dosis 3x sehari. Dengan begitu dapat diperhitungkan
satu botol sirup
“edukasi” mengandung 210 mL.
Formulasi
sirup “edukasi” ada
tiga variasi dalam proporsi yaitu formulasi 1 dengan 40% daun katuk + 60 % madu, formulasi 2 dengan 35% daun katuk + 65% madu, dan formulasi 3 dengan 30% daun katuk + 70% madu. Adapun
perhitungannya sebagai berikut:
a) Formulasi 1
|
|
Berat
|
Fe (mg)
|
Protein (gr)
|
Vitamin C (mg)
|
|
60% Madu
|
60 ml
|
0,3
|
0,18
|
0,6
|
|
40% Daun Katuk
|
40 ml
|
0,6
|
0,9
|
47,8
|
|
Total
|
100 ml
|
0,9
|
1,08
|
191,8
|
Kurangnya Fe =
100mg – 0,9 mg = 99,1 mg à
Enrichment 1,651 tablet Fe
b) Formulasi 2
|
|
Berat
|
Fe (mg)
|
Protein (gr)
|
Vitamin C (mg)
|
|
65% Madu
|
65 ml
|
0,325
|
0,195
|
0,65
|
|
35% Daun Katuk
|
35 ml
|
0,525
|
0,7875
|
41,825
|
|
Total
|
100 ml
|
0,85
|
0,9825
|
42,475
|
Kurangnya
Fe = 100mg – 0,85mg = 99,15mg à
Enrichment 1,652 tablet Fe
c) Formulasi 3
|
|
Berat
|
Fe (mg)
|
Protein (gr)
|
Vitamin C (mg)
|
|
70% Madu
|
70 ml
|
0,35
|
0,21
|
0,7
|
|
30% Daun Katuk
|
30 ml
|
0,45
|
0,675
|
35,8
|
|
Total
|
100 ml
|
0,80
|
0,88
|
36,5
|
Kurangnya Fe =
100mg – 0,80 mg = 99,2 mg à
Enrichment 1,653 tablet Fe
Adapun penilaian sifat organoleptik dari
ketiga formulasi tersebut adalah
sebagai berikut:
|
NO
|
SIFAT
ORGANOLEPTIK
|
FORMULA 1
|
FORMULA 2
|
FORMULA 3
|
|
1
|
Rasa
|
78
|
80
|
85
|
|
2
|
Aroma
|
83
|
79
|
75
|
|
3
|
Tekstur
|
81
|
70
|
68
|
|
4
|
Warna
|
84
|
79
|
72
|
Keterangan:
60-70=kurang baik
70-80= baik
80-90=
sangat baik
Dari ketiga
formulasi itu, dapat disimpulkan formulasi dengan kadar Fe paling tinggi dan
sifat organoleptik terbaik adalah formulasi 1.
Perhitungan dengan formulasi 1 dalam satu botol sirup
“edukasi” yang berukuran
210 ml tersebut,
mengandung 210 mg Fe yang setara dengan daun katuk sejumlah 168 gram, madu 126 ml dan
enrichment sebanyak 3,5 tablet Fe.
Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut:
-
Ekstrak Daun katuk dalam 1 botol sirup “edukasi” :
40 x 210 ml = 84 ml
100
Jadi Daun Katuk
yang dibutuhkan untuk 84 ml ekstrak dengan rendemen 50% adalah 84 x 1/2
= 42 gram
-
Madu dalam 1 botol sirup “edukasi” :
210ml – 84 ml = 126 ml
-
Fe dalam Madu :
126 ml x 0,5 = 0,63 mg
100
Fe dalam Ekstrak
Daun Katuk :
42gr x 3 = 1,26 mg
100
Fe total pada 1
botol sirup “edukasi” :
0,63mg + 1,26mg = 1,89 mg
Jadi enrichment
yang dibutuhkan sebanyak:
210mg – 1,89mg = 208,11mg yang setara dengan 3,4685
tablet Fe.
4.2 Analisa SWOT
Berikut
ini adalah beberapa analisa terhadap Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan
Ancaman yang mungkin akan muncul pada teknologi terapan yang kami usulkan.
1. Strenght
Kekuatan yang dimiliki produk ini adalah bentuknya sirup dengan
kandungan Fe yang lebih kompleks karena disertai dengan vitamin C sebagai reduktor yang
dapat mengubah feri menjadi fero
serta protein yang berguna untuk mendistribusikan Fe. Jadi pemenuhan kebutuhan
Fe pada ibu hamil lebih efektif.
2. Weakness
Proses pembuatan sirup
“edukasi” membutuhkan bahan daun katuk yang relatif banyak karena beratnya yang
ringan.
3. Opportunity
Kesempatan yang kami miliki yaitu mudahnya daun katuk ditemukan di
kota malang khususnya di rumah
warga lingkungan Poltekkes Kemenkes Malang. Dengan
begitu kami bisa melakukan pemberdayaan daun katuk melalui penelitian ini,
mengingat melimpahnya daun katuk tersebut. Selain
itu, sirup “edukasi” merupakan inovasi terbaru yang memiliki nilai enterpreneurship yang tinggi.
Berdasarkan Pusdatin kemenkes RI (2010), terdapat 4.809.860 ibu hamil pertahun
yang akan menjadi konsumen sirup “edukasi”.
4. Threat
Ancaman yang mungkin
muncul adalah sulitnya penerimaan produk oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan
sirup “edukasi” merupakan produk baru. Kebiasaan masyarakat
Indonesia lebih menyukai barang yang memiliki nilai jual rendah bahkan gratis
dari pada barang yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi, meski masyarakat
sadar akan perbedaan kualitas dari keduanya.
Tabel 4.1
IFAS
EFAS
|
Strenght
|
Weakness
|
|
Opportunity
|
Strategi SO
|
Strategi WO
|
|
Threat
|
Strategi ST
|
Strategi WT
|
Sumber: Rangkuti (2008)
1.
Strategi SO
Berdasarkan Pusdatin kemenkes RI (2010), terdapat 4.809.860 ibu hamil
per tahun yang beresiko tinggi mengalami anemia defisiensi zat gizi
besi, jadi kebutuhan akan suplemen untuk mengatasi anemia tersebut juga tinggi.
Untuk itu, Sirup “edukasi” sebagai inovasi terbaru yang merupakan suplemen
komlpleks diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar sebagai penanganan anemia
defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.
2.
Strategi ST
Manfaat dari sirup “edukasi” akan diketahui masyarakat umum dengan
diadakannya penyuluhan tentang keefektifan sirup ini dalam menangani anemia
defisiensi zat gizi besi. Sedangkan untuk nilai jual, biaya produksi sirup ini
bisa ditekan agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat dari berbagai
golongan.
3.
Stategi WO
Sebagai upaya memenuhi besarnya pasokan daun katuk guna memproduksi sirup
“edukasi” bisa dilakukan alokasi lahan untuk budidaya daun katuk.
4.
Strategi WT
Penggunaan alat yang mampu
mengekstrak daun katuk lebih efektif dan efisien dengan hasil lebih banyak dan
sedikit ampas. Sehingga bisa mengurangi pasokan daun katuk.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari hasil
penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa Anemia pada ibu
hamil merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Ditengarai
Ekstrak daun katuk dapat mengatasi anemia defisiensi zat gizi besi karena
kandungan Fe yang cukup tinggi. Namun zat besi yang terdapat di daun katuk
merupakan besi non hem, yang absorbsinya dipengaruhi oleh zat pengikat (ligand)
yaitu zat penghambat dan zat pemacu.
Formulasi
sirup “edukasi” yang mengandung daun katuk dan madu ada tiga variasi proporsi yaitu formulasi
1 dengan 40%
daun katuk + 60
% madu, formulasi 2 dengan 35%
daun katuk + 65%
madu, dan formulasi 3 dengan 30%
daun katuk + 70%
madu. Didapatkan hasil yang lebih maksimal baik dari banyaknya kadar Fe,
Protein dan Vitamin C maupun dari segi organoleptik pada formulasi 1. Perhitungannya sebagai berikut:
|
|
Berat
|
Fe (mg)
|
Protein (gr)
|
Vitamin C (mg)
|
|
60% Madu
|
126 ml
|
0,63
|
0,378
|
1,26
|
|
40% Daun Katuk
|
84 ml
|
1,26
|
1,89
|
100,038
|
|
Total
|
210 ml
|
1,89
|
2,268
|
101,298
|
Adapun sifat Organoleptik dari formulasi 1 adalah sebagai
berikut:
|
NO
|
SIFAT
ORGANOLEPTIK
|
FORMULA 1
|
|
1
|
Rasa
|
78
|
|
2
|
Aroma
|
83
|
|
3
|
Tekstur
|
81
|
|
4
|
Warna
|
84
|
Keterangan:
60-70=kurang baik
70-80= baik
80-90= sangat
baik
5.2 Saran
Adapun
beberapa saran yang ingin kami berikan, antara lain:
·
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai penanganan
kasus anemia defisiensi zat gizi besi.
·
Perlu diperkenalkan secara merata kepada masyarakat tentang pemberdayaan
sumber daya alam yang berdaya guna
tinggi.
·
Diperlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam agar bisa bermanfaat
secara nyata untuk ibu hamil yang berisiko
mengalami anemia defisiensi zat gizi besi.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S., 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Arisman. 2010.
Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. EGC: Jakarta.
Bakta,I., 2007., Hematologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Balitbangkes RI., 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010.
Jakarta.
Cipta.
2006. Neonatal. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.
Darlina. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan Kejadian Anemia Gizi pada Ibu Hamil di Kota Bogor Jawa Barat.
Bogor : Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi FP IPB
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM
UI., 2007., Gizi dan Kesehatan Masyarakat. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Departement
Kesehatan Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Profil Kesehatan Indonesia 2007. Departement Kesehatan: Jakarta.
Departement
Kesehatan Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2007. Departement Kesehatan: Jakarta.
Depkes RI., 2008.Perbaikan Gizi Masyarakat. 2009. http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%202008.pdf
diakses tanggal 9 Oktober 2013
Dolok Saribu.R., 2006. Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
Ditinjau Dari Sosio Ekonomi Dan Perolehan Tablet Zat Besi Di Desa Maligas Tonga
Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun Tahun 2006. Skripsi
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Fauzi,
A., 2005. Ibu Anemia Janin Taruhannya.
http://situskesproinfo/kia/jun/2005/
kia02.htm. diakses tanggal 29
September 2013.
Handayani,
W. 2008. Hematologi. Salemba Medika. Jakarta.
Manuaba, I.B.G, 2001. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. EGC: Jakarta
Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Penerbit
Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Poernomo, D. 2006. Pemberdayaan Daun Katuk. Erlangga: Jakarta.
Saifuddin AB, dkk. 2002. Buku
acuan nasional pelayanan kesehatan maternal
Saifuddin., 2002. Buku Acuan : Asuhan Persalinan
Normal. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Santoso, J. 2008. Konsentrasi daun
katuk. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan 6(2): 67-86
Wibisono, H., Ayu, B., Febry, K. 2009.
Solusi Sehat Seputar Kehamilan. PT AgroMedia Pustaka: Jakarta
Wijianto, 2002. Dampak Suplementasi Tablet
Tambah Darah (TTD) Dan Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Anemia Gizi Ibu
Hamil Di Kab. Banggai Propinsi Sulawesi Tengah. Bogor : Departemen
Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Skripsi FP IPB.
Wiknjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan.
YBP-SP: Jakarta.
BIODATA PENELITI
POLYTECHNIC’S EVENT
& RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP OF HEALTH (PERTH)
TAHUN 2013
JABATAN PENELITI : Ketua Peneliti
/ Anggota Peneliti 1/Anggota peneliti
NAMA LENGKAP : Achmad
Tirmidzi
NIM : 1201100054
TEMPAT TANGGAL
LAHIR : Situbondo 05 Juli 1995
ALAMAT ASAL : Desa Silomukti
Kec. Mlandingan Kab. Situbondo
NO TELP/HP :
085608120102
E-MAIL :
achmadtirmidzi7@yahoo.com
ASAL POLTEKKES : POLTEKKES KEMENKES MALANG
JURUSAN : Keperawatan Malang
PROGRAM STUDI : D III
Keperawatan Malang
KEGIATAN ILMIAH YANG
PERNAH DIIKUTI ATAU PRESTASI ILMIAH YANG PERNAH
DIRAIH:
1. Peserta OSN 2008 Kab. Situbodo
2. …………………………..
3. …………………………..
Malang, 6 November 2013
Peneliti
Achmad
Tirmidzi
BIODATA PENELITI
POLYTECHNIC’S EVENT
& RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP OF HEALTH (PERTH)
TAHUN 2013
JABATAN PENELITI : Ketua Peneliti
/ Anggota Peneliti 1/Anggota peneliti 2
NAMA LENGKAP :
Dedy Setiawan
NIM : 1203410042
TEMPAT TANGGAL
LAHIR : Amuntai, 15
Januari 1994
ALAMAT ASAL : Jl. Dermaga Perum KORPRI RT/RW OO2/- Kel. Karang
Ambun Kec. Tanjung Redeb Kab. Berau Kalimantan Timur
NO TELP/HP : 085753613952
ASAL POLTEKKES : POLTEKKES
KEMENKES MALANG
JURUSAN : GIZI PROGRAM STUDI D IV GIZI
KEGIATAN ILMIAH YANG
PERNAH DIIKUTI ATAU PRESTASI ILMIAH YANG PERNAH
DIRAIH :
1. ………………………….
2. …………………………..
3. …………………………..
Malang, 6 November 2013
Peneliti
Dedy Setiawan
BIODATA PENELITI
POLYTECHNIC’S EVENT
& RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP OF HEALTH (PERTH)
TAHUN 2013
JABATAN PENELITI : Ketua Peneliti
/ Anggota Peneliti 1/Anggota peneliti
2
NAMA LENGKAP :
Windi Ainnur Rahima
NIM : 1202100061
TEMPAT TANGGAL
LAHIR : Lumajang, 12
Oktober 1994
ALAMAT ASAL : Dsn. Bangajang
RT/RW 001/007 Ds. Kebonwaris Kec. Pandaan Kab. Pasuruan
NO TELP/HP : 085607334248
ASAL POLTEKKES : POLTEKKES
KEMENKES MALANG
JURUSAN : KEBIDANAN
PROGRAM STUDI : DIII KEBIDANAN
MALANG
KEGIATAN ILMIAH YANG
PERNAH DIIKUTI ATAU PRESTASI ILMIAH YANG PERNAH
DIRAIH :
1. Lomba Karya
Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Indonesia Paper Competition
2. …………………………..
3.
…………………………..
Malang, 6 November 2013
Peneliti
Windi Ainnur Rahima
Lampiran 1
Format
kuisioner
|
NO
|
SIFAT ORGANOLEPTIK
|
FORMULA
1
|
FORMULA
2
|
FORMULA
3
|
|
1
|
Rasa
|
|
|
|
|
2
|
Aroma
|
|
|
|
|
3
|
Tekstur
|
|
|
|
|
4
|
Warna
|
|
|
|
Keterangan:
60-70=kurang baik
70-80= baik
80-90= sangat baik
Lampiran 2
Prosedur Ekstraksi Daun Katuk untuk
Uji Total Padatan Terlarut, Uji Vitamin C dan Protein:
1.
Daun katuk dipisahkan dari tangkainya.
2.
Daun katuk dicuci dengan air mengalir.
3.
Daun katuk ditimbang seberat 100 gram.
4.
Daun katuk diblender ± 5 menit dengan
ditambahkan 100gram air.
5.
Setelah halus diukur ada 200 ml
6.
Dibagi menjadi 5 bagian masing-masing
40 ml.
7.
Dioven dengan suhu yang berbeda selama
1 jam
8.
Disaring
9.
Observasi menggunakan handrefractometer
Lampiran 3
Prosedur Formulasi Sirup “Edukasi” :
1. Siapkan
alat dan bahannya
2.
Daun katuk dibersihkan
3.
Pisahkan daun dari batangnya
4.
Masukkan daun katuk kedalam blender
5.
Tambahkan air 100 mL.
6.
Letakkan hasil ke dalam gelas beker.
7.
Ampas diperas menggunakan kain saring.
8.
Inkubasi ekstrak daun katuk dengan
suhu 40°C selama 1 jam.
9.
Campurkan ekstrak daun katuk dengan
madu, letakkan di gelas beker.
10. Panaskan
panci yang berisi air.
11. Letakkan
gelas beker yang berisi campuran ekstrak daun katuk dan madu ke dalam panci.
12. Ukur suhu
bahan hingga 60°C (pasteurisasi) dengan termometer air.
13. Lakukan
pasteurisasi selama 10 – 15 menit.
14. Didiamkan
hingga dingin.
15.
Setelah dingin, dimasukkan ke botol
kemasan
Lampiran 4
Daftar Gambar
|
Gambar 1.2 Gambar 1.3
|
Gambar 1.4 Gambar 1.5
|
Gambar 1.6 Gambar 1.7
|
Gambar 1.8 Gambar 1.9
|
Gambar 2.0 Gambar 2.1
|
Keterangan Gambar:
1.2 Tanaman Katuk
1.3 Daun Katuk yang sudah dibersihkan
1.4 Daun Katuk yang dihaluskan menggunakan blender
1.5 Ekstrak daun katuk
1.6 Ekstrak daun katuk yang sudah mengalami proses
inkubasi.
1.7 Pengenceran pertama ekstrak daun katuk
1.8 Pengenceran kedua ekstrak daun katuk
1.9 Pengambilan 20 ml ekstrak daun katuk yang sudah
mengalami pengenceran
2.0 Proses Titrasi
2.1 Perubahan warna yang terjadi setelah titrasi
2.2 Prototipe sirup “edukasi”









Tidak ada komentar:
Posting Komentar