Senin, 12 Januari 2015

ekstrak daun katuk untuk ibu hamil



PROPOSAL
POLYTECHNICS EVENT & RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP of HEALTH (PERTH) TAHUN 2013


Formulasi Sirup “Edukasi” (Ekstraksi Daun Katuk Kaya Besi)
untuk Penanganan Anemia Defisiensi Zat Gizi Besi pada Ibu Hamil


logo poltekkes new



PENYUSUN :


1.    Achmad Tirmidzi           NIM: 1201100054

2.    Dedy Setiawan             NIM: 1203410042

3.    Windi Ainnur Rahima    NIM: 1202100061






KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG JURUSAN KEPERAWATAN, GIZI DAN KEBIDANAN
TAHUN 2013







i






ABSTRAK

Penyebab langsung kematian ibu hamil adalah perdarahan 28%, eklampsia 24%, dan infeksi 11%. Penyebab tidak langsung adalah anemia 51% (Depkes, 2007). Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu hamil dengan kadar haemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar haemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester 2. Kehamilan dengan anemia dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan, persalinan dan nifas. Di Indonesia anemia disebabkan karena defisiensi zat gizi mikro (micronutrient) dengan penyebab terbanyak defisiensi zat besi. Upaya pemerintah untuk mengatasi masalah ini adalah dengan program pemberian tablet zat besi pada ibu hamil, yang sudah dijalankan sejak tahun 1970. Hasilnya terjadi penurunan kasus anemia, namun belum signifikan dan masih tergolong tinggi.
Daun katuk (Sauropus androgynus), merupakan bahan alami yang ditengarai dapat mengatasi anemia defisiensi zat besi. Kandungan zat gizi pada daun katuk (Sauropus androgynus) per 100 gram menurut DKBM (2010) adalah Fe 3 mg, protein 4,8 gr, dan vitamin C 239 mg.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menerapkan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan faktor tunggal.
Hasil formulasi dalam satu kemasan sirup “edukasi” berukuran 210 cc diperoleh proporsi 40% daun katuk dan 60% madu. Dari perhitungan ini dapat diambil kesimpulan bahwa daun katuk di sekitar kita yang memiliki nilai jual rendah itu dapat diformulasikan sebagai sirup “edukasi” untuk penanganan anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.

Kata Kunci: Anemia, Daun Katuk, dan Formulasi Sirup “Edukasi”.











KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Formulasi Sirup “Edukasi” (Ekstraksi Daun Katuk Kaya Besi) untuk Penanganan Anemia Defisiensi Zat Gizi Besi Pada Ibu Hamil. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan berkat adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah peneliti menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak/Ibu :
1.    Tri Anjaswarni Harsono, S.Kp., M.Kep selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
2.    I Dewa Nyoman Supariasa, Mps. selaku Ketua Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
3.    Temu Budiarti, S.Pd., M.Kes selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
4.    Agus Heri Santoso, S.Tp., M.si selaku pembimbing I yang dengan penuh kesabaran meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk, bimbingan, dan pengarahan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
5.    Sri Mudayati N. S.Kp., M. Kes selaku pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan dan pengarahan hingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.
6.    Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini baik secara langsung maupun tidak langsung, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini peneliti menyadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga dapat digunakan dalam memperbaiki dan menyempurnakan di masa mendatang. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi teman sejawat kesehatan. Atas kekurangan yang ada dalam Karya Tulis Ilmiah ini mohon kiranya dimaklumi.

                                                                                                     Malang, 30 Oktober 2013

DAFTAR ISI


LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................................  i LEMBAR ORISINALITAS ......................................................................................  ii ABSTRAK .............................................................................................................  iii KATA PENGANTAR  .............................................................................................  iv DAFTAR ISI ..........................................................................................................  v BAB I                PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang .................................................................... 1

1.2      Rumusan Masalah ..............................................................  2

1.3      Tujuan ................................................................................  3

1.4      Target Sasaran ...................................................................  3


BAB II               TINJAUAN PUSTAKA


2.1      Konsep Berfikir ...................................................................  4

2.2      Daun Katuk .........................................................................  5

2.3      Madu ...................................................................................  6

2.4      Anemia dalam Kehamilan.................................................... 7

2.5      Zat Besi ...............................................................................  8

2.6      Hubungan Antara Anemia dengan Daun Katuk ...................  10


BAB III              METODE PENELITIAN


3.1        Jenis dan Desain Penelitian............................................... 11

3.2        Tempat dan Waktu ............................................................  11

3.3        Variabel .............................................................................  11

3.4        Alat dan Bahan ..................................................................  12

3.5        Jenis dan Metode Pengumpulan Data ............................... 13

3.6        Pengolahan Data ...............................................................  14

3.7        Metode Pelaksanaan Penelitian ........................................ 16

3.8        Keunggulan Teknologi  ......................................................  16

3.9        Resiko yang Mungkin Muncul  ........................................... 17


BAB IV                        PEMBAHASAN


4.1 Karakteristik Total Padatan Terlarut................................... 18

4.2 Karakteristik Daun Katuk ................................................... 19

4.3 Karakteristik Kadar Vitamin C ............................................ 20

4.4 Karakteristik Kadar Protein ................................................ 20

4.5 Formulasi Sirup Edukasi.................................................. 20

4.6 Analisa SWOT ...................................................................  23


BAB V                   PENUTUP

5.1 Kesimpulan........................................................................  25

5.2 Saran  ...............................................................................  26

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................  27

LAMPIRAN-LAMPIRAN  ........................................................................................  29







BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Penyebab langsung kematian ibu hamil adalah perdarahan 28%, eklampsia 24%, dan infeksi 11%. Penyebab tidak langsung adalah anemia 51% (Depkes, 2007). Anemia kehamilan disebabkan oleh hemodilusi karena peningkatan volume plasma darah sehingga konsentrasi haemoglobin rendah. Prawirohardjo (2005) menyatakan bahwa volume darah (serum darah) meningkat sebesar 2530%. Jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah yang meningkat sebesar 20%, sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu.
Kehamilan dengan anemia dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan, persalinan dan nifas. Prevalensi anemia yang tinggi berakibat negatif seperti: 1) Gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. 2) Kekurangan haemoglobin dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa atau ditransfer ke sel tubuh maupun ke otak (Manuaba, 2001). Keadaan ini dapat meningkatkan morbiditas maupun mortalitas ibu dan anak.
Di Indonesia anemia disebabkan karena defisiensi zat gizi mikro (micronutrient) dengan penyebab terbanyak defisiensi zat besi. Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di Negara yang sedang berkembang. Diperkirakan 36% atau kira-kira 1400 juta orang dari perkiraan populasi 3800 juta orang di Negara sedang berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan prevalensi di Negara maju hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari perkiraan populasi 1200 juta orang (Arisman, 2010). Adapun menurut Data dari Dinas Kesehatan kota Malang menunjukkan bahwa pada tahun 2011 terdapat 35,67% ibu hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari 11g/dl dari total 300 ibu hamil.
Peningkatan kebutuhan zat besi pada kehamilan hampir tiga kali lipat untuk pertumbuhan janin dan keperluan ibu hamil (Depkes RI, 1999). Maka dari itu, anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Upaya pemerintah untuk mengurangi angka kejadian anemia gizi besi pada ibu hamil adalah dengan pemberian 90 tablet zat besi di tempat pelayanan kesehatan secara gratis sejak tahun 1970. Tablet tersebut berisi 200 mg fero sulfat dan 0,25 mg asam folat (setara dengan 60 mg besi dan 0.25 mg asam folat). Kebutuhan zat besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi setiap hari selama kehamilannya (Manuaba, I.B.G, 2001).
Program pemberian tablet zat besi pada ibu hamil sudah dijalankan sejak tahun 1970 dan mengalami penurunan dalam kasus anemia. Pengumpulan data nasional pada Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, mencatat bahwa 63,5% perempuan hamil menderita anemia. Angka ini menurun pada Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1995, menjadi 50,5% dan menjadi 40,1% pada tahun 2001 (Depkes, 2007). Namun penurunan yang terjadi tidaklah signifikan dan masih tinggi jika dibandingkan dengan negara maju. Hal ini disebabkan karena program pemerintah tersebut kurang memperhatikan aspek lain. Misalnya bau khas tablet Fe yang memperparah mual dan muntah pada ibu hamil, dan kurangnya efektifitas tubuh untuk mengabsorpsi Fe karena tidak disertai faktor pendukung yang dapat membantu absorpsi Fe seperti protein, Vitamin C, dan asam folat.
Indonesia kaya akan SDA (sumber daya alam) yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah anemia zat gizi besi pada ibu hamil. Salah satunya adalah memanfaakan ekstrak daun katuk (Sauropus Androgynous). 
Daun katuk (Sauropus Androgynus) adalah daun dari tanaman Sauropus Androgynus (L) Merr, famili Euphorbiaceae, ordo malpighiales, kelas magnoliopsida, dan devisi magnoliophyta. Katuk banyak ditanam di Asia Tenggara dan dimanfaatkan daunnya sebagai obat-obatan dan sayuran (Santoso, 2008). Daun katuk mempunyai nilai gizi yang cukup baik, seperti protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C (Poernomo, 2006). Menurut DKBM (2010) di dalam 100 gram daun katuk segar mengandung zat besi 3 mg, energi 59 kalori, protein 4,8 gr, dan vitamin C 239 mg. Dengan kandungan yang telah disebutkan di atas, ekstraksi daun katuk dapat digunakan sebagai solusi alami untuk penanganan anemia gizi besi pada ibu hamil.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk menciptakan formulasi sirup “edukasi” (ekstraksi daun katuk kaya besi) untuk penanganan anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.

1.2.    Rumusan Masalah
Bagaimana formulasi sirup “edukasi” (ekstraksi daun katuk kaya besi) untuk penanganan anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.



1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1     Tujuan Umum
Menghasilkan formulasi sirup “edukasi” (ekstraksi daun katuk kaya besi) untuk penanganan anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.
1.3.2   Tujuan Khusus
·      Menganalisis total padatan terlarut tertinggi pada Sauropus Androgynus
·      Menganalisis kadar zat besi, protein, dan vitamin C pada ekstraksi Sauropus Androgynus
·      Formulasi sirup edukasi
·      Menganalisis sifat organoleptik pada sirup edukasi

1.4  Target Sasaran
Target sasaran pada penelitian ini adalah pemberdayaaan daun katuk di Malang Raya, khususnya warga sekitar lingkungan Poltekkes Malang.






2.1 Konsep Berfikir

BAB II Tinjauan Pustaka




 


              

2.1   Daun Katuk (Sauropus Androgynus)

2.2.1     Pengertian Daun Katuk (Sauropus Androgynus)

Katuk termasuk tanaman jenis perdu berumpun dengan ketinggian 3-5 m. Batangnya tumbuh tegak dan berkayu. Jika ujung batang dipangkas, akan tumbuh beberapa tunas baru yang membentuk percabangan. Daunnya kecil-kecil mirip daun kelor, berwarna hijau. Katuk termasuk tanaman yang rajin berbunga. Bunganya kecil-kecil, berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan, dengan bintik-bintik merah. Bunga tersebut akan menghasilkan buah berwarna putih yang di dalamnya terdapat biji berwarna hitam (Santoso, 2008).

2.2.2  Klasifikasi Katuk (Sauropus Androgynus)

Description: H:\windi.jpgKlasifikasi dari tanaman katuk yaitu berasal dari Kingdom Plantae, dari Divisi Magnoliophyta, dari Kelas Magnoliopsida¸ dari Ordo Malpighiales, dari Famili Phyllanthaceae, dari Genus Sauropus, dan merupakan spesies Sauropus androgynus.
Gambar 1.1 Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
2.2.3         Kandungan Gizi Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
Kandungan gizi daun katuk (Sauropus Androgynus) tersaji pada Tabel  2.1

Tabel 2.1 Kandungan zat gizi pada daun katuk (Sauropus Androgynus) per 100 gr Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM), 2010
No
Komponen Gizi (Satuan)
Kandungan Gizi
1
Energi (kkal)
59
2
Protein (g)
4,80
3
Lemak (g)
1,0
4
Karbohidrat (g)
11
5
Kalsium (mg)
204
6
Fosfor (mg)
83
7
Besi (mg)
3,0
8
Vitamin C (mg)
239
9
β-Karoten (μg)
0,1
            Sumber: DKBM Indonesia (2010)

2.2.4            Perkembangbiakan Tanaman Katuk
Cara perkembangbiakannya melalui stek batang yang belum terlalu tua. Penanamannya dapat dilakukan di pekarangan sebagai pagar hidup. Bila produksi daunnya tinggal sedikit, tanaman katuk dapat diremajakan dengan cara batang utamanya dipangkas.
2.2.5     Manfaat Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
a.    Pelancar Air Susu Ibu (ASI)
b.    Mengobati frambusia
c.    Mengatasi sembelit
d.    Menyembuhkan luka
e.    Pewarna alami
f.     Makanan dan minuman

3.3      Madu
2.3.1              Pengertian Madu
Madu adalah cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nektar) atau bagian laindari tanaman (ekstra floral nektar) atau ekskresi serangga (Badan Standarisasi Nasional, 2004).
2.3.2              Komposisi dan Mutu Madu
Komposisi madu tercantum dalam Tabel 2.2
Tabel 2.2 Kandungan Zat Gizi Madu per 100 gram
No.
Zat Gizi
Jumlah (%)
1
Energi (kal)
304
2
Protein (gr)
0,3
3
Karbohidrat (gr)
82,3
4
Serat (gr)
0,1
5
Vitamin B6 (mg)
0,02
6
Vitamin C (mg)
1
8
Asam Folat (mg)
3
14
Zat besi (mg)
0,5
`        Sumber : Food & Nutrition Encyclopedia,1994




3.4   Anemia dalam Kehamilan
2.4.1            Pengertian Anemia dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar haemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifuddin, 2002).
2.4.2            Penyebab Anemia pada Ibu Hamil
Peningkatan sel darah dan volume darah memiliki perbandingan: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002).  Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung  yang semakin berat dengan adanya kehamilan.
2.4.3            Gejala Dan Tanda Anemia Pada Ibu Hamil
Menurut Wibisono (2009), anemia pada ibu hamil ditandai dengan gejala seperti: Pusing, wajah pucat, merasa letih dan lemah, kurang nafsu makan, daya tahan tubuh menurun, kebugaran tubuh menurun dan gangguan penyembuhan luka.
2.4.4            Klasifikasi Anemia Dalam Kehamilan
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Wiknjosastro (2002), adalah Anemia Defisiensi Besi, Anemia Megaloblastik, Anemia Hipoplastik, Anemia Hemolitik, dan Anemia-anemia lain.
2.4.5            Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan 
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah: keguguran (abortus), kelahiran prematur, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia  akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan  (Wiknjosastro, 2005; Saifudin, 2006).




2.5          Zat Besi
2.5.2            Pengertian Zat Besi
Besi adalah sebuah nutrien esensial yang diperlukan oleh setiap sel manusia. Besi dapat berperan sebagai pembawa oksigen dan elektron serta sebagai katalisator untuk oksigenisasi, hidroksilasi dan proses metabolik lainnya melalui kemampuan berubah bentuk antara fero (Fe2+) dan fase oksidasi Fe3+. Jika terlalu sedikit besi yang ada akan terjadi pembatasan sintesis komponen yang mengandung besi aktif sehingga secara normal mungkin berbahaya. Demikian pula jika terlalu banyak besi terakumulasi dan melebihi kapasitas tubuh untuk mentransport dan menyimpannya akan menimbulkan toksisitas besi yang selanjutnya memicu terjadinya kerusakan dan kematian organ yang luas. Besi di alam berasal dari sumber hewani dan nabati. Kualitas atau bioavailibilitas besi yang dihasilkan dari kedua sumber zat besi tersebut juga berbeda karena mempengaruhi kemampuan tubuh manusia untuk menyerap besi.
2.5.3            Absorbsi Zat Besi
Besi yang berasal dari makanan diserap dalam usus. Menurut Bakta (2000) proses absorbsi besi dalam usus terdiri atas 3 fase yaitu:
2.5.3.1        Fase luminal.
Pada fase luminal ikatan besi dari bahan makanan dilepaskan atau diubah menjadi bentuk terlarut dan terionisasi. Kemudian besi dalam bentuk feri (Fe3+) direduksi menjadi bentuk fero (Fe2+) sehingga siap diserap usus. Dalam proses ini getah lambung dan asam lambung memegang peranan penting. Absorbsi paling baik terjadi pada duodenum dan jejenum proksimal. Hal ini dihubungkan dengan jumlah reseptor pada permukaan usus dan pH usus. Di dalam usus, besi akan dibedakan menjadi:
a)  Besi hem: diserap secara langsung, tidak dipengaruhi oleh bahan penghambat maupun pemacu. Prosentase absorbsinya 10-25% atau 4 kali dari besi non hem. Senyawa besi hem terdapat dalam daging, ikan dan hati. Besi hem ini diserap secara utuh dan setelah berada dalam epitel usus (enterosit) akan dilepaskan dari rantai porfirin oleh enzim haemoxygenase, kemudian ditransfer ke dalam plasma atau disimpan dalam ferritin.
b)  Besi non hem: absorbsinya sangat dipengaruhi oleh zat pengikat (ligand) yang dapat menghambat ataupun memacu absorbsi.
-       Zat pemacu
Adalah zat-zat yang mempertahankan besi agar tetap dalam keadaan terlarut. Bahan-bahan yang bekerja sebagai pemacu utama ialah daging, ikan, hati, asam askorbat atau vitamin C. Beberapa bahan yang terdapat dalam daging yang dikenal sebagai meat factor seperti asam amino, cysteine dan glutathion dapat meningkatkan absorbsi besi melalui pembentukan soluble chelate yang mencegah polimerisasi dan presipitasi besi. Asam askorbat merupakan bahan pemacu absorbsi yang sangat kuat yang berfungsi sebagai reduktor yang dapat mengubah feri menjadi fero, mempertahankan pH usus tetap rendah sehingga mencegah presipitasi feri dan bersifat sebagai monomeric chelator yang membentuk iron-ascorbate chelate yang lebih mudah diserap.
-  Zat penghambat atau inhibitor
Adalah zat yang membentuk kompleks yang mengalami presipitasi sehingga besi sulit diserap. Zat penghambat absorbsi besi sebagian besar terdapat dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Penghambat paling kuat ialah senyawa polifenol seperti tanin dalam teh. Teh dapat menurunkan absorbsi sampai 80 % sebagai akibat terbentukknya kompleks besi-tanat. Kopi juga mengandung polipenol tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan teh. Bahan penghambat lain ialah phytate, bekatul, kalsium, posfat, oksalat dan serat (fibre) yang dapat membentuk kompleks polemer besar.
2.5.3.2        Fase mukosal
Pada fase mukosal besi diserap secara aktif melalui reseptor. Jika dosis terlalu besar besi akan masuk secara difusi pasif. Dalam sel enterosit besi akan diikat oleh suatu karier protein spesifik dan ditransfer melalui sel ke kapiler atau disimpan dalam bentuk feritin dalam enterosit kemudian dibuang bersamaan dengan deskuamasi epitel usus.
2.5.3.3        Fase sistemik
Pada fase sistemik besi yang masuk ke plasma diikat oleh apotransferin menjadi transferin dan diedarkan ke seluruh tubuh, terutama ke sel eritroblast dalam sumsum tulang. Semua sel mempunyai reseptor transferin pada permukaannya. Transferin ditangkap oleh reseptor ini dan kemudian melalui proses pinositosis (endositosis) masuk dalam vesikel (endosome) dalam sel. Akibat penurunan pH, besi, transferin dan reseptor akan terlepas dari ikatannya. Besi akan dipakai oleh sel sedangkan reseptor dan transferin dikeluarkan dan dipakai ulang. Besar kecilnya penyerapan besi oleh usus ditentukan oleh faktor intraluminal dan faktor regulasi eksternal. Faktor intraluminal ditentukan oleh jumlah besi dalam makanan, kualitas besi (besi haem atau non haem), perbandingan jumlah pemacu dan penghambat dalam makanan. Faktor regulasi luar ditentukan oleh cadangan besi tubuh dan kecepatan eritropoesis.
 
2.6                Hubungan Antara Anemia dalam Kehamilan dengan Daun Katuk
Perubahan fisiologis pada ibu hamil menyebabkan konsentrasi hemoglobin rendah, sehingga ibu hamil mengalami anemia. Hal ini merupakan keadaan yang biasa terjadi, tetapi jika dibiarkan begitu saja juga akan berakibat buruk baik bagi ibu maupun janin. Meningkatnya kebutuhan zat besi pada ibu hamil harus terpenuhi untuk menghindari komplikasi lebih lanjut yaitu sebesar 3 mg/hari. Untuk mengimbangi kebutuhan itu, salah satu bahan alam yang bisa dimanfaatkan adalah daun katuk (Sauropus androgynus) yang berdasarkan penelitian Santoso (2008) mengandung Fe sebanyak 2,7-3,5 mg tiap 100 gram. Namun, zat besi pada daun katuk (Sauropus androgynus) ini merupakan besi non hem yang absorbsinya sangat dipengaruhi oleh zat pengikat (ligand) yang dapat memacu ataupun menghambat absorbsi. Zat pemacu adalah zat-zat yang mempertahankan besi agar tetap dalam keadaan terlarut. Bahan-bahan yang bekerja sebagai pemacu utama ialah daging, ikan, hati, dan asam askorbat atau vitamin C. Asam askorbat merupakan bahan pemacu absorbsi kuat yang berfungsi sebagai reduktor yang dapat mengubah feri menjadi fero, mempertahankan pH usus tetap rendah sehingga mencegah presipitasi feri dan bersifat sebagai monomeric chelator yang membentuk iron-ascorbate chelate yang lebih mudah diserap. Asam askorbat ini banyak ditemukan pada daun katuk (Sauropus androgynus) yaitu sebesar 239 mg tiap 100 gram.
Pada fase sistemik, besi yang masuk ke plasma diikat oleh apotransferin menjadi transferin dan diedarkan ke seluruh tubuh, terutama ke sel eritroblast dalam sumsum tulang. Jelaslah peran apotransferin sangat penting untuk distribusi besi. Penyusun dasar apotransferin adalah protein yang juga banyak ditemukan pada daun katuk (Sauropus androgynus), yaitu sebesar 4,80 gram tiap 100 gram.








BAB III
METODE PENELITIAN

3.1   Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menerapkan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan faktor tunggal. Pada tahap inkubasi, suhu ekstraksi merupakan faktor tunggal, dengan lima level suhu, yaitu suhu 40°C, 50°C, 60°C, 70°C, dan 80°C. Sementara pada tahap formulasi faktor tunggalnya adalah daun katuk dengan berbagai proporsi.

3.2   Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan September 2013 hingga Bulan November 2013, bertempat di:
1)     Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang untuk melakukan ekstraksi daun katuk dan mengetahui suhu optimum inkubasi ekstrak daun katuk serta total padatan terlarut pada daun katuk.
2)     Laboratorium Kimia Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang untuk uji kadar protein dan vitamin C pada daun katuk serta untuk mengetahui sifat organoleptik dan proporsi terbaik ekstrak daun katuk pada sirup “edukasi”.

3.3  Variabel Penelitian
3.3.1 Penelitian Tahap Pertama
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suhu inkubasi ekstrak daun katuk yang optimal. Suhu inkubasi ini ada 5 level, mulai dari suhu 40°C, 50°C, 60°C, 70°C dan 80°C dengan perlakuan waktu yang sama yaitu 1 jam.
1)  Variabel bebas: Suhu Inkubasi Ekstrak Daun Katuk
2)  Variable terikat: Total Padatan Terlarut
3.3.2 Penelitian Tahap Kedua
Penelitian kedua ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik serta proporsi terbaik ekstrak daun katuk pada sirup “edukasi”. Sebelumnya, kami melakukan uji kadar Fe, protein, dan vitamin C pada daun katuk.
1)     Variabel bebas: Proporsi penambahan Ekstrak Daun Katuk
2)     Variable terikat: Sifat Organoleptik


3.4   Alat dan Bahan
3.4.1 Alat pada Penelitian Tahap Pertama
Alat yang digunakan untuk menguji total padatan terlarut dalam daun katuk adalah sebagai berikut:
a.    Blender
b.    Tabung Erlemeyer
c.    Neraca Ohaus 
d.    Sendok Makan
e.    Inkubator
f.     Kain Saring
g.    Gelas Ukur
h.    Pipet 100 ml
i.      Corong
j.      Handrefractometer tipe N
3.4.2 Bahan pada Penelitian Tahap Pertama
Bahan untuk penelitian tahap pertama adalah aquadest, air, dan daun katuk yang kami dapatkan dari rumah warga di sekitar lingkungan Poltekkes Kemenkes Malang. Kami hanya menggunakan daun katuk yang masih segar tanpa disertai batangnya.
3.4.3 Alat pada Penelitian Tahap Kedua
Alat yang digunakan untuk menguji kadar protein dan vitamin C pada penelitian tahap kedua ini adalah sebagai berikut:
a.   Tabung Erlemeyer
b.   Tabung Reaksi
c.   Spektrofotometer
d.   Pipet mikro liter
e.   Tabung labu ukur
f.    Pipet volum
g.   Pipet
h.   Tisu
i.     Gelas beker
j.     Biuret
k.   Inkubator
Alat yang digunakan untuk formulasi dengan 3 proporsi esktrak daun katuk yang berbeda pada penelitian tahap kedua ini adalah sebagai berikut:
a.    Kompor
b.    Panci
c.    Termometer Air
d.    Botol kemasan
e.    Gelas beker
3.4.4 Bahan pada Penelitian Tahap Kedua
Bahan yang dibutuhkan untuk menguji kadar Protein dan Vitamin C adalah ekstrak daun katuk, aquadest, reagen I, reagen II, Larutan Iodium (I²) 0,01 N, Asam sulfat 0,1 N, dan Indikator 2 ml. Sedangkan bahan untuk formulasi adalah ekstrak daun katuk, air, madu, dan tablet Fe.

3.5  Jenis dan Metode Pengumpulan Data
3.5.1 Penelitian Tahap Pertama
Jenis penelitian yang kami lakukan adalah True Eksperimen. Kelima sampel Ekstrak daun katuk mengalami perlakuan pemanasan dengan waktu yang sama 1 jam dan suhu berbeda yaitu suhu 40°C, 50°C, 60°C, 70°C dan 80°C. Pemanasan ini berfungsi untuk menguapkan sebagian air sehingga diperoleh kekentalan dan mengetahui total padatan terlarut. Proses pemanasan memerlukan kontrol yang baik.
3.5.2 Penelitian Tahap Kedua
Jenis penelitian tahap kedua ini juga True Eksperimen. Kami menguji kadar Fe, protein dan vitamin C dengan metode sebagai berikut:
1)    Fe
Kami menggunakan pendekatan teoritis untuk menguji kadar Fe pada daun katuk, karena keterbatasan dana untuk mendapatkan reagen.
2)    Protein
Metode yang digunakan dalam penentuan kadar protein dalam sirup “edukasi” adalah menggunakan metode Spektrofotometer (total protein). Sedangkan Prinsipnya bersama-sama dengan ion tembaga, protein membentuk kompleks warna violet biru dalam larutan alkali. Absorpsi warna berbanding lurus dengan konsentrasi.
3)    Vitamin C
Pengujian kandungan vitamin C pada daun katuk menggunakan  metode Titrasi Iodium dengan indicator amilum. Prinsipnya ekstraksi vitamin C dengan menggunakan aquadest, dilanjutkan titrasi iodimetri dengan menggunakan indicator amilum.

Pada penelitian tahap kedua ini terdapat tiga formulasi dengan proporsi ekstrak daun katuk dan madu yang berbeda, dimulai dari proporsi 40% daun katuk + 60% madu, 35% daun katuk + 65% madu, dan 30% daun katuk + 70% madu. Ketiga formulasi itu akan diuji mutu organoleptiknya agar diperoleh formulasi terbaik


3.6   Pengolahan Data 

Data yang telah diperoleh selanjutnya diolah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Adapun pengolahan data yang telah diperoleh adalah sebagai berikut: 
a)  Perhitungan total padatan terlarut dalam ekstrak daun katuk. Total padatan terlarut dihitung berdasarkan perbedaan suhu inkubasi. Total padatan yang terpilih adalah 5% pada suhu inkubasi 40°C.
b)  Pengukuran kadar senyawa yang terlarut pada daun katuk, antara lain:
1)   Analisis kandungan Fe
Menurut Santoso (2008) kandungan Fe dalam 100 gram daun katuk adalah 2,7-3,5 mg.
2)   Analisis kandungan Protein
1.    Menyiapkan larutan blanko dan larutan standar 5 gram/dL masing-masing sejumlah 40µL dan tabung reaksi yang sudah diberi label.
2.    Mengambil 40µL ekstraksi daun katuk dan diletakkan di tabung reaksi, kemudian tambahkan 2000 reagen I melalui dinding tabung reaksi kemudian diamkan (inkubasikan) pada suhu 20-25°C selama 5 menit.
3.    Setelah didiamkan selama 5 menit, tambahkan reagen II sebanyak 500 dan diamkan lagi selama 5 menit.
4.    Siapkan spektometer dengan gelombang 540nm. Baca ekstraksi daun katuk yang telah diberi reagensia pada gelombang tersebut dan catat hasilnya.
Hasil Perhitungan Total Protein









Pada pembacaan spektrofotometer dengan gelombang UV didapatkan angka absorban, sehingga dapat dihitung kadar total Protein dalam sirup “edukasi”:
Pembacaan absorban sampel
Pembacaan absorban standart

Kadar Total Protein=                           X  kadar standart        

3)   Analisis kandungan Vitamin C
Ø  Prosedur dengan pengenceran pertama:
1.    10 ml ekstraksi  dimasukkan kedalam tabung labu 100 ml
2.    Tambahkan  aquadest sampai 100 ml
3.    Pipet dengan menggunakan  pipet volum sebanyak 20 ml masukkan kedalam erlenmeyer.
4.    Tambahkan 5 ml  Asam sulfat 0,1 N dan indikator 2 ml
5.    Titrasi dengan larutan Iodium perhitungan:

% Vit. C 
 x P x 100%
Ø Prosedur dengan pengenceran kedua:
1.   10 ml ekstraksi  dimasukkan kedalam tabung labu 100 ml.
2.   Tambahkan  aquadest sampai 100 ml.
3.   Pipet dengan menggunakan  pipet volum sebanyak 10 ml masukkan kedalam tabung labu 100 ml yang lain.
4.   Tambahkan aquadest sampai 100 ml.
5.   Pipet dengan menggunakan  pipet volum sebanyak 20 ml masukkan kedalam erlenmeyer.
6.   Tambahkan 5 ml  Asam sulfat 0,1 N dan indikator 2 ml.
7.   Titrasi dengan larutan Iodium perhitungan:

% Vit. C 
 x P x 100%

c)    Hubungan antara variabel bebas dan terikat
1.   Uji padatan senyawa terlarut
Berdasarkan  penelitian suhu terpilih adalah 40°C. Pada suhu tersebut senyawa terlarut yang terkandung pada ekstraksi daun katuk mencapai angka tertinggi yaitu 5%.
2.   Uji formulasi
Proporsi ekstrak daun katuk yang terdapat pada sirup “edukasi” merupakan proporsi yang didasarkan pada sifat organoleptik pangan  meliputi rasa, warna, aroma, dan tekstur. Peralatan untuk analisis mutu organoleptik adalah Formulir Kuisioner (Lampiran 1).

3.7   Metode pelaksanaan penelitian


 




                                               














3.8 Keunggulan Teknologi

Sirup edukasi merupakan suatu inovasi terbaru yang ditengarai dapat menangani  anemia  defisiensi  zat  gizi  besi.  Bentuk  cair  (sirup)  pada  sirup edukasi lebih menguntungkan  dari pada suplemen  Fe yang berbentuk tablet maupun  kapsul.  Hal  ini  dikarenakan  bentuk  sirup  tidak  mengalami  proses




penghancuran   selama  berada  disaluran  cerna,  dan  juga  tidak  mengalami proses pemanasan tinggi dalam pengolahannya. Sirup edukasi selain mengandung   Fe  alami  (besi  nonhem)   juga  disertai   dengan   zat  pemacu penyerapan Fe diantarnya Vitamin C dan Protein.
Vitamin  C  merupakan  bahan  pemacu  absorbsi  kuat  yang  berfungsi sebagai reduktor yang dapat mengubah feri menjadi fero, mempertahankan  pH usus tetap rendah sehingga mencegah presipitasi feri dan bersifat sebagai monomeric chelator yang membentuk iron-ascorbate chelate yang lebih mudah diserap. Protein sebagai bahan dasar dari apotranferin berperan sangat penting dalam distributor Fe.


3.9 Risiko yang Mungkin Muncul

Risiko   yang   mungkin   muncul   seiring   dengan   penggunaan   sirup edukasi adalah adanya efek samping dan kontraindikasi yang pada penelitian ini  masih  belum  bisa  kami  bahas.  Dengan  begitu  bisa  dilakukan  penelitian tahap berikutnya untuk mengetahui efek samping serta kontraindikasinya.

BAB IV
Pembahasan
4.1  Karakteristik Total Padatan Terlarut
1.    Sampel 1:
Hasil perlakuan pertama dengan suhu inkubasi 40°C didapatkan hasil total padatan 5% dengan tidak adanya perubahan warna, tetap hijau tua. Hasil ini dinilai paling baik karena memiliki total padatan tertinggi dari pada sampel 2,3,4, dan 5.
2.    Sampel 2:
Hasil perlakuan pertama dengan suhu inkubasi 50°C didapatkan hasil total padatan 4,5% dengan adanya perubahan warna, hijau muda.
3.    Sampel 3:
Hasil perlakuan pertama dengan suhu inkubasi 60°C didapatkan hasil total padatan 2,5% dengan adanya perubahan warna, hijau kekuningan.
4.    Sampel 4
Hasil perlakuan pertama dengan suhu inkubasi 70°C didapatkan hasil total padatan 2,5% dengan adanya perubahan warna kuning kecoklatan.
5.    Sampel 5
Hasil perlakuan pertama dengan suhu inkubasi 80°C didapatkan hasil total padatan 2,5% dengan  adanya perubahan warna, coklat.
Dari pemanasan kelima sampel tersebut didapatkan total padatan terlarut yang telah kami ranking sebagai berikut:
Suhu Inkubasi
Total Padatan Terlarut
40°C
5%
50°C
4,5%
60°C
2,5%
70°C
2,5%
80°C
2,5%

Sebagian besar dari total padatan terlarut itu diduga adalah protein. Pemanasan yang menghasilkan total padatan terlarut paling tinggi adalah suhu terendah yaitu 40°C. Hal ini sesuai dengan penyataan Winarno (1993) yang mengemukakan bahwa dengan panas, protein dapat mengalami denaturasi yang menyebabkan struktur berubah dari bentuk ganda yang kuat menjadi kendur dan terbuka. Denaturasi dapat merubah sifat protein menjadi lebih sukar larut dan makin kental ini disebut koagulasi.

4.2  Karakteristik Ekstrak Daun Katuk
4.2.1  Warna Ekstrak Daun Katuk
Pemanasan dengan suhu yang berbeda-beda pada ekstrak daun katuk menyebabkan perubahan warna hingga menjadi kecoklatan. Ekstrak daun katuk awalnya berwarna hijau, yang menandakan adanya klorofil. Klorofil adalah pigmen berwarna hijau yang terdapat dalam kloroplas bersama-sama dengan karoten dan xantofil pada semua makhluk hidup yang mampu melakukan fotosintesis.
Terdapat reaksi yang dapat menjelaskan degradasi pigmen klorofil, yaitu reaksi peofitinasi. Reaksi peofitinasi adalah reaksi pembentukan peofitin. Peofitin adalah bentuk klorofil yang kehilangan ion Mg2+ sehingga warna yang diekspresikan bukan hijau melainkan hijau kecoklatan. Reaksi peofitinasi ini dapat terjadi ketika klorofil diperlakukan dengan asam. Ion Mg2+ yang berada di tengah-tengah molekul akan lepas dan digantikan oleh ion hidrogen. Reaksi ini akan berjalan lebih cepat lagi jika terkena panas. Panas mempercepat reaksi peofitinasi karena panas dapat mendenaturasi protein. Pada matriks tanaman klorofil terdapat dalam bentuk berikatan dengan molekul protein. Ketika daun dipapar dengan panas, misalnya direbus, protein yang melindungi klorofil akan terdenaturai sehingga klorofil berada dalam bnetuk bebas. Klorofil bebas bersifat tidak stabil dan mudah diserang oleh asam. Akibatnya Mg yang terdapat di dalam molekul klorofil dapat dengan mudah digantikan oleh ion hidrogen.
4.2.2    Tekstur Ekstrak Daun Katuk
Setelah dilakukan pemanasan dengan suhu yang berbeda, ditemukan tekstur ekstrak daun katuk yang beragam. Semakin tinggi suhu pemanasannya, semakin rendah kepekatannya. Hal ini terbukti saat diuji dengan alat handrefraktometer. Berdasarkan uji yang dilakukan suhu inkubasi 40°C menghasilkan total padatan terlarut sebesar 5%

.
4.3   Karakteristik Kadar Vitamin C
Pengenceran Pertama:
a)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 40°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 1,408  x 10-3 %
b)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 50°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 1,408  x 10-3 %
c)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 60°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 1,232 x 10-3 %
d)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 70°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 1,408  x 10-3 %
e)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 80°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 1,584 x 10-3 %
Pengenceran Kedua:
a)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 40°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 0,352 x 10-4 %
b)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 50°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 0,352 x 10-4 %
c)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 60°C langsung terjadi perubahan saat diberi indikator amilum (belum dititrasi), sudah 3x percobaan
d)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 70°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 0,528 x 10-4 %
e)    Sampel ekstrak daun katuk dengan suhu inkubasi 80°C memiliki kadar Vitamin C sebesar 0,352 x 10-4 %

4.4   Karakteristik Kadar Protein
Pada pembacaan spektrofotometer dengan gelombang UV didapatkan:
a)    Suhu inkubasi 40°C mengandung 4,50 gram
b)    Suhu inkubasi 50°C mengandung 4,26 gram
c)    Suhu inkubasi 60°C mengandung 3,80 gram
d)    Suhu inkubasi 70°C mengandung 2,68 gram
e)    Suhu inkubasi 40°C mengandung 2,39 gram

4.5   Formulasi Sirup Edukasi
Kebutuhan ibu hamil akan zat besi adalah 3 mg/hari, hal ini dapat dipenuhi dengan konsumsi zat besi sejumlah 30 mg, karena mempertimbangkan bioavabilitas maksimal besi non hem yaitu 10% meskipun sudah dengan penambahan Protein dan Vitamin C.
Satu botol sirup “edukasi” diharapakan dapat memenuhi kebutuhan zat besi ibu hamil dalam satu minggu. Takaran yang digunakan dalam setiap konsumsi yaitu 10 ml dengan dosis 3x sehari. Dengan begitu dapat diperhitungkan satu botol sirup “edukasi” mengandung 210 mL.
            Formulasi sirup “edukasi” ada tiga variasi dalam proporsi yaitu formulasi 1 dengan 40% daun katuk + 60 % madu, formulasi 2 dengan 35% daun katuk + 65% madu, dan formulasi 3 dengan 30% daun katuk + 70% madu. Adapun perhitungannya sebagai berikut:
a)  Formulasi 1

Berat
Fe (mg)
Protein (gr)
Vitamin C (mg)
60% Madu
60 ml
0,3
0,18
0,6
40% Daun Katuk
40 ml
0,6
0,9
47,8
Total
100 ml
0,9
1,08
191,8
Kurangnya Fe = 100mg – 0,9 mg = 99,1 mg à Enrichment 1,651 tablet Fe

b)  Formulasi 2

Berat
Fe (mg)
Protein (gr)
Vitamin C (mg)
65% Madu
65 ml
0,325
0,195
0,65
35% Daun Katuk
35 ml
0,525
0,7875
41,825
Total
100 ml
0,85
0,9825
42,475
Kurangnya Fe = 100mg – 0,85mg = 99,15mg à Enrichment 1,652 tablet Fe

c)  Formulasi 3

Berat
Fe (mg)
Protein (gr)
Vitamin C (mg)
70% Madu
70 ml
0,35
0,21
0,7
30% Daun Katuk
30 ml
0,45
0,675
35,8
Total
100 ml
0,80
0,88
36,5
Kurangnya Fe = 100mg – 0,80 mg = 99,2 mg à Enrichment 1,653 tablet Fe




Adapun penilaian sifat organoleptik dari ketiga formulasi tersebut adalah sebagai berikut:
NO
SIFAT ORGANOLEPTIK
FORMULA 1
FORMULA 2
FORMULA 3
1
Rasa
78
80
85
2
Aroma
83
79
75
3
Tekstur
81
70
68
4
Warna
84
79
72
Keterangan:        
60-70=kurang baik
70-80= baik
80-90= sangat baik

Dari ketiga formulasi itu, dapat disimpulkan formulasi dengan kadar Fe paling tinggi dan sifat organoleptik terbaik adalah formulasi 1.
Perhitungan dengan formulasi 1 dalam satu botol sirup “edukasi” yang berukuran 210 ml tersebut, mengandung 210 mg Fe yang setara dengan daun katuk sejumlah 168 gram, madu 126 ml dan enrichment sebanyak 3,5 tablet Fe. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut:
-       Ekstrak Daun katuk dalam 1 botol sirup “edukasi” :
40  x  210 ml = 84 ml
       100
Jadi Daun Katuk yang dibutuhkan untuk 84 ml ekstrak dengan rendemen 50% adalah 84 x 1/2 = 42 gram
-       Madu dalam 1 botol sirup “edukasi” :
210ml – 84 ml = 126 ml
-       Fe dalam Madu :
126 ml  x 0,5 = 0,63 mg
  100

Fe dalam Ekstrak Daun Katuk :
42gr  x 3 = 1,26 mg
 100
Fe total pada 1 botol sirup “edukasi” :
0,63mg + 1,26mg = 1,89 mg
Jadi enrichment yang dibutuhkan sebanyak:
210mg – 1,89mg = 208,11mg yang setara dengan 3,4685 tablet Fe.

4.2 Analisa SWOT
Berikut ini adalah beberapa analisa terhadap Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Ancaman yang mungkin akan muncul pada teknologi terapan yang kami usulkan. 
1. Strenght
Kekuatan yang dimiliki produk ini adalah bentuknya sirup dengan kandungan Fe yang lebih kompleks karena disertai dengan vitamin C sebagai reduktor yang dapat mengubah feri menjadi fero serta protein yang berguna untuk mendistribusikan Fe. Jadi pemenuhan kebutuhan Fe pada ibu hamil lebih efektif.
2. Weakness
Proses pembuatan sirup “edukasi” membutuhkan bahan daun katuk yang relatif banyak karena beratnya yang ringan.
3. Opportunity
Kesempatan yang kami miliki yaitu mudahnya daun katuk ditemukan di kota malang khususnya di rumah warga lingkungan Poltekkes Kemenkes Malang. Dengan begitu kami bisa melakukan pemberdayaan daun katuk melalui penelitian ini, mengingat melimpahnya daun katuk tersebut. Selain itu, sirup “edukasi” merupakan inovasi terbaru yang memiliki nilai enterpreneurship yang tinggi. Berdasarkan Pusdatin kemenkes RI (2010), terdapat 4.809.860 ibu hamil pertahun yang akan menjadi konsumen sirup “edukasi”.
4. Threat
Ancaman yang mungkin muncul adalah sulitnya penerimaan produk oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan sirup “edukasi” merupakan produk baru. Kebiasaan masyarakat Indonesia lebih menyukai barang yang memiliki nilai jual rendah bahkan gratis dari pada barang yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi, meski masyarakat sadar akan perbedaan kualitas dari keduanya.

Tabel 4.1
IFAS
EFAS
Strenght
Weakness
Opportunity
Strategi SO
Strategi WO
Threat
Strategi ST
Strategi WT
Sumber: Rangkuti (2008)

1.    Strategi SO
Berdasarkan Pusdatin kemenkes RI (2010), terdapat 4.809.860 ibu hamil per tahun yang beresiko tinggi mengalami anemia defisiensi zat gizi besi, jadi kebutuhan akan suplemen untuk mengatasi anemia tersebut juga tinggi. Untuk itu, Sirup “edukasi” sebagai inovasi terbaru yang merupakan suplemen komlpleks diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar sebagai penanganan anemia defisiensi zat gizi besi pada ibu hamil.
2.    Strategi ST
Manfaat dari sirup “edukasi” akan diketahui masyarakat umum dengan diadakannya penyuluhan tentang keefektifan sirup ini dalam menangani anemia defisiensi zat gizi besi. Sedangkan untuk nilai jual, biaya produksi sirup ini bisa ditekan agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat dari berbagai golongan.
3.    Stategi WO
Sebagai upaya memenuhi besarnya pasokan daun katuk guna memproduksi sirup “edukasi” bisa dilakukan alokasi lahan untuk budidaya daun katuk.
4.    Strategi WT
Penggunaan alat yang mampu mengekstrak daun katuk lebih efektif dan efisien dengan hasil lebih banyak dan sedikit ampas. Sehingga bisa mengurangi pasokan daun katuk.











BAB V
PENUTUP
5.1     Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Ditengarai Ekstrak daun katuk dapat mengatasi anemia defisiensi zat gizi besi karena kandungan Fe yang cukup tinggi. Namun zat besi yang terdapat di daun katuk merupakan besi non hem, yang absorbsinya dipengaruhi oleh zat pengikat (ligand) yaitu zat penghambat dan zat pemacu.
Formulasi sirup “edukasi” yang mengandung daun katuk dan madu ada tiga variasi proporsi yaitu formulasi 1 dengan 40% daun katuk + 60 % madu, formulasi 2 dengan 35% daun katuk + 65% madu, dan formulasi 3 dengan 30% daun katuk + 70% madu. Didapatkan hasil yang lebih maksimal baik dari banyaknya kadar Fe, Protein dan Vitamin C maupun dari segi organoleptik pada formulasi 1. Perhitungannya sebagai berikut:

Berat
Fe (mg)
Protein (gr)
Vitamin C (mg)
60% Madu
126 ml
0,63
0,378
1,26
40% Daun Katuk
84 ml
1,26
1,89
100,038
Total
210 ml
1,89
2,268
101,298







Adapun sifat Organoleptik dari formulasi 1 adalah sebagai berikut:
NO
SIFAT ORGANOLEPTIK
FORMULA 1
 1
Rasa
78
2
Aroma
83
3
Tekstur
81
4
Warna
84

Keterangan:
60-70=kurang baik
70-80= baik
80-90= sangat baik

5.2  Saran
Adapun beberapa saran yang ingin kami berikan, antara lain:
·      Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai penanganan kasus anemia defisiensi zat gizi besi.
·      Perlu diperkenalkan secara merata kepada masyarakat tentang pemberdayaan sumber daya alam yang berdaya guna tinggi.
·      Diperlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam agar bisa bermanfaat secara nyata untuk ibu hamil yang berisiko mengalami anemia defisiensi zat gizi besi.


DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S., 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. EGC: Jakarta.

Bakta,I., 2007., Hematologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Balitbangkes RI., 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta.

Cipta. 2006. Neonatal. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.

Darlina. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Gizi pada Ibu Hamil di Kota Bogor Jawa Barat. Bogor : Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi FP IPB

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI., 2007., Gizi dan Kesehatan Masyarakat. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Departement Kesehatan Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Profil Kesehatan Indonesia 2007. Departement Kesehatan: Jakarta.

Departement Kesehatan Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2007. Departement Kesehatan: Jakarta.

Depkes RI., 2008.Perbaikan Gizi Masyarakat. 2009. http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%202008.pdf diakses tanggal 9 Oktober 2013

Dolok Saribu.R., 2006. Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Ditinjau Dari Sosio Ekonomi Dan Perolehan Tablet Zat Besi Di Desa Maligas Tonga Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun Tahun 2006. Skripsi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Fauzi, A., 2005. Ibu Anemia Janin Taruhannya. http://situskesproinfo/kia/jun/2005/
kia02.htm. diakses tanggal 29 September 2013.

Handayani, W. 2008. Hematologi. Salemba Medika. Jakarta.

Manuaba, I.B.G, 2001. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. EGC: Jakarta

Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka

Poernomo, D. 2006. Pemberdayaan Daun Katuk. Erlangga: Jakarta.

Saifuddin AB, dkk. 2002. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal

Saifuddin., 2002. Buku Acuan : Asuhan Persalinan Normal. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Santoso, J. 2008. Konsentrasi daun katuk. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan 6(2): 67-86

Wibisono, H., Ayu, B., Febry, K. 2009. Solusi Sehat Seputar Kehamilan. PT AgroMedia Pustaka: Jakarta

Wijianto, 2002. Dampak Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) Dan Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Anemia Gizi Ibu Hamil Di Kab. Banggai Propinsi Sulawesi Tengah. Bogor : Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi FP IPB.

Wiknjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. YBP-SP: Jakarta.

BIODATA PENELITI
POLYTECHNICS EVENT & RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP OF HEALTH (PERTH) TAHUN 2013

JABATAN PENELITI               : Ketua Peneliti / Anggota Peneliti 1/Anggota peneliti
NAMA LENGKAP                   : Achmad Tirmidzi
NIM                                           : 1201100054
TEMPAT TANGGAL LAHIR    : Situbondo 05 Juli 1995
ALAMAT ASAL                       : Desa Silomukti Kec. Mlandingan Kab. Situbondo
NO TELP/HP                          : 085608120102
 E-MAIL                                 : achmadtirmidzi7@yahoo.com
ASAL POLTEKKES                : POLTEKKES KEMENKES MALANG
JURUSAN                               : Keperawatan Malang
PROGRAM STUDI                 : D III Keperawatan Malang
KEGIATAN ILMIAH YANG PERNAH DIIKUTI ATAU PRESTASI ILMIAH YANG PERNAH DIRAIH:  
1.  Peserta OSN 2008 Kab. Situbodo

2.  ………………..

3.  ………………..                                         


251014_377432418993027_1101064951_n.jpg                                                                                        Malang, 6 November 2013

                        Peneliti



                                   
                                                                                                Achmad Tirmidzi



BIODATA PENELITI
POLYTECHNICS EVENT & RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP OF HEALTH (PERTH) TAHUN 2013


JABATAN PENELITI               : Ketua Peneliti / Anggota Peneliti 1/Anggota peneliti 2
NAMA LENGKAP                   : Dedy Setiawan
NIM                                          : 1203410042
TEMPAT TANGGAL LAHIR   : Amuntai, 15 Januari 1994
ALAMAT ASAL                       : Jl. Dermaga Perum KORPRI RT/RW OO2/- Kel. Karang Ambun Kec. Tanjung Redeb Kab. Berau Kalimantan Timur
NO TELP/HP                          : 085753613952
E-MAIL                                     : ips.angkatan6.sman4berau@gmail.com
ASAL POLTEKKES                : POLTEKKES KEMENKES MALANG
JURUSAN                               : GIZI PROGRAM STUDI D IV GIZI
KEGIATAN ILMIAH YANG PERNAH DIIKUTI ATAU PRESTASI ILMIAH YANG PERNAH DIRAIH    :
1.  ……………….

2.  ………………..

3.  ………………..
72173_545815068765679_1798706760_n.jpgMalang, 6 November 2013

Peneliti




Dedy Setiawan



BIODATA PENELITI
POLYTECHNICS EVENT & RECOGNITION TECHNOPRENEURSHIP OF HEALTH (PERTH) TAHUN 2013


JABATAN PENELITI               : Ketua Peneliti / Anggota Peneliti 1/Anggota peneliti 2
NAMA LENGKAP                   : Windi Ainnur Rahima
NIM                                          : 1202100061
TEMPAT TANGGAL LAHIR   : Lumajang, 12 Oktober 1994
ALAMAT ASAL                       : Dsn. Bangajang RT/RW 001/007 Ds. Kebonwaris Kec. Pandaan Kab. Pasuruan
NO TELP/HP                          : 085607334248
E-MAIL                                     : Libragirlz12yahoo.co.id
ASAL POLTEKKES                : POLTEKKES KEMENKES MALANG
JURUSAN                               : KEBIDANAN
PROGRAM STUDI                 : DIII KEBIDANAN MALANG
KEGIATAN ILMIAH YANG PERNAH DIIKUTI ATAU PRESTASI ILMIAH YANG PERNAH DIRAIH                        :
1.  Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Indonesia Paper Competition

2.  ………………..

3.  ………………..
Malang, 6 November 2013
IMG_1028 copy.jpg                                                           
                                                         Peneliti





                      Windi Ainnur Rahima


Lampiran 1
Format kuisioner
NO
SIFAT ORGANOLEPTIK
FORMULA 1
FORMULA 2
FORMULA 3
1
Rasa



2
Aroma



3
Tekstur



4
Warna



                                                                                               
Keterangan:   
60-70=kurang baik
70-80= baik
80-90= sangat baik                                                                













Lampiran 2
Prosedur Ekstraksi Daun Katuk untuk Uji Total Padatan Terlarut, Uji Vitamin C dan Protein:
1.    Daun katuk dipisahkan dari tangkainya.
2.    Daun katuk dicuci dengan air mengalir.
3.    Daun katuk ditimbang seberat 100 gram.
4.    Daun katuk diblender ± 5 menit dengan ditambahkan 100gram air.
5.    Setelah halus diukur ada 200 ml
6.    Dibagi menjadi 5 bagian masing-masing 40 ml.
7.    Dioven dengan suhu yang berbeda selama 1 jam
8.    Disaring
9.    Observasi menggunakan handrefractometer














Lampiran 3
Prosedur Formulasi Sirup “Edukasi” :
1.    Siapkan alat dan bahannya
2.    Daun katuk dibersihkan
3.    Pisahkan daun dari batangnya
4.    Masukkan daun katuk kedalam blender
5.    Tambahkan air 100 mL.
6.    Letakkan hasil ke dalam gelas beker.
7.    Ampas diperas menggunakan kain saring.
8.    Inkubasi ekstrak daun katuk dengan suhu 40°C selama 1 jam.
9.    Campurkan ekstrak daun katuk dengan madu, letakkan di gelas beker.
10.  Panaskan panci yang berisi air.
11.  Letakkan gelas beker yang berisi campuran ekstrak daun katuk dan madu ke dalam panci.
12.  Ukur suhu bahan hingga 60°C (pasteurisasi) dengan termometer air.
13.  Lakukan pasteurisasi selama 10 – 15 menit.
14.  Didiamkan hingga dingin.
15.  Setelah dingin, dimasukkan ke botol kemasan




Lampiran 4

Daftar Gambar



 

Gambar 1.2                                                   Gambar 1.3


 

Gambar 1.4                                                   Gambar 1.5


 

Gambar 1.6                                                   Gambar 1.7





 

Gambar 1.8                                                   Gambar 1.9


 

Gambar 2.0                                                   Gambar 2.1






 
Gambar 2.2




Keterangan Gambar:
1.2 Tanaman Katuk
1.3 Daun Katuk yang sudah dibersihkan
1.4 Daun Katuk yang dihaluskan menggunakan blender
1.5 Ekstrak daun katuk
1.6 Ekstrak daun katuk yang sudah mengalami proses inkubasi.
1.7 Pengenceran pertama ekstrak daun katuk
1.8 Pengenceran kedua ekstrak daun katuk
1.9 Pengambilan 20 ml ekstrak daun katuk yang sudah mengalami pengenceran
2.0 Proses Titrasi
2.1 Perubahan warna yang terjadi setelah titrasi
2.2 Prototipe sirup “edukasi”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar